Bab 8

1253 Kata
“Ampun deh, pake acara keselek segala. Kamu bawa minum nggak?” tanya Rey yang jadi mengkhawatirkan keadaan Rara saat ini. Rara pun hanya bisa menggelengkan kepala sambil melambaikan tangan. Ia masih saja batuk, karena tersedak. Semua ini gara-gara pertanyaan Rey yang membuat Rara kaget setengah mati. Bagaimana mungkin pria itu menanyakan hal yang ingin dilupakannya? Bahkan Rara pun berharap Rey tidak mengingat kejadian yang ada di tempat karaoke kala itu. Melihat Rara yang tak juga berhenti tersedak, Rey kemudian menepikan mobilnya ke minimarket dan membelikan wanita itu minuman air mineral. Ia lalu menyerahkannya begitu saja pada Rara dan berharap wanita itu menghentikan batuknya. “Dah, minum dulu. Jan batuk lagi. Penyebar virus tau nggak,” ucap Rey yang masih saja ketus dengan Rara. Wanita tersebut kini merasa lega, setidaknya tenggorokannya sudah basah, dan tidak terasa mengganjal lagi. Rey kemudian memperhatikan sikap Rara. Terlihat seperti orang yang tidak ingin dibongkar identitasnya. Bahkan beberapa kali Rara terlihat tak ingin menatap dirinya. “Kenapa kamu? Kok jadi takut-takut gitu? Abis nyolong ya?” Lagi-lagi mulut pria ini menuduh sembarang. Rara pun langsung menoleh ke arah Rey, dengan dahi yang mengkerut. “Bisa nggak sih, ngomong itu yang bener? Orang kota nggak ada sopan-sopannya.” Rara pun terlihat ngambek dan merasa tidak menyukai pertanyaan Rey yang telah menuduhnya itu. Ia juga tak ingin memandang Rey lagi, merasa muak dengan pria yang sedang bersamanya ini. Karena merasa Rara betulan marah, Rey tentu jadi merasa tak enak hati. Namun, dirinya juga merasa gengsi jika harus meminta maaf pada Rara. Pria ini pun memutuskan untuk diam dan tak berkata apa-apa lagi. Dia melanjutkan perjalanan, dan menyalakan radio di dalam mobilnya untuk membuat suasana tidak terlalu mencekam. Beberapa kali Rey terlihat melirik-lirik ke arah Rara. Ia pun mulai merasa resah, karena wanita ini tak kunjung bicara padanya dan tidak memandang ke arahnya sama sekali. Rey pun kembali membuka obrolan dengan berdeham terlebih dahulu. “Ehem …” Tak ada respon dari Rara. Rey kembali mengulang sikapnya itu dan berharap Rara menoleh ke arahnya, supaya dia fokus melihat dirinya. “Ehem … uhuk uhuk ….” Sengaja pria ini berlebihan dalam batuknya, seolah sedang tersedak seperti Rara tadi. Tapi tetap saja Rara tak meresponnya. Merasa geram dengan hal ini, Rey kini memutuskan untuk memanggil nama Rara tanpa berakting batuk-batuk lagi. “Ra! Kok diem sih? Aku kan tadi tanya kamu, kenapa nggak dijawab?” Rey tiba-tiba saja menyentak dan membuat Rara yang sedang melamun jadi terbuyarkan. “Apaan sih? Pertanyaanmu nggak mutu. Males jawab,” sahut Rara yang lebih-lebih rasa geramnya pada Rey. Ia kesal dengan pria yang tidak punya sopan santun itu. Bahkan Rey pun jarang terdengar meminta maaf, meski pria itu memanglah bersalah. Rey merasa tak terima dengan ucapan Rara barusan. Ia merasa Rara berlebihan saat ngambek seperti ini. Ia pun kembali menegur sikap Rara dan keduanya kembali beradu mulut. “Ya udah kalau males jawab turun sana! Ngapain numpang mobilku?!” sentak Rey dengan nada yang mulai meninggi. Rara yang mendengarkannya pun kini juga makin merasa tersinggung. Ia merasa bahwa dirinya tidak menginginkan hal yang diucapkan Rey barusan. Dengan berani dan juga menjaga gengsinya, ia pun kembali menjawab kalimat Rey yang membuatnya kian emosi itu. “Ya udah! Turunin aja aku di sini. Siapa juga yang mau numpang? Kalau bukan Bu Anita yang nyuruh, aku nggak akan mau semobil sama cowok kayak kamu.” “Apa kamu bilang? Memangnya aku kenapa? Aku cowok, ganteng, pinter, kenapa lagi?” Rey kian merasa tak habis pikir, bahwa ternyata ada juga wanita yang tidak menyukainya. “Kamu itu cowok nggak sopan. Banyak gaya. Sok kegantengan iya, bukan ganteng beneran. Jadi udah deh, nggak usah SOK terus!” teriak Rara menumpahkan rasa kesalnya pada Rey. Merasa tersinggung dengan sikap Rara barusan, Rey langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan raya. Ia pun segera menyuruh Rara keluar dari mobilnya, dan kembali memperingatkannya.. “Turun sana!” serunya mengusir Rara begitu saja. Rey merasa bahwa Rara perlu dikasih pelajaran supaya dia tak macam-macam dengan dirinya, dan menjaga sikap serta ucapannya. Rara menoleh ke arah Rey dengan wajah datarnya. Lalu tanpa berkata-kata, dia langsung keluar dari mobil dan membanting pintu mobil tersebut. Rey pun seolah tak peduli. Dia segera melajukan mobilnya untuk pergi dari hadapan Rara. Pria ini sudah menyerah sebelum meyakinkan Rara kembali. Rara yang merasa terkejut dengan keadaan ini, berusaha tetap tegar. Ia tak ingin kelihatan kesulitan dan akan terus berjuang memperbaiki keadaan. “Hih! Dasar nyebelin! Liat aja kamu ya!” oceh Rara yang jadi mengomel. Ia lalu berjalan sendiri menyusuri pedestrian di pinggir taman jalan kita, sambil terus mengoceh sendiri menanggapi sikap Rey. Baginya, Rey benar-benar keterlaluan karena malah menurunkannya di pinggir jalan yang dia tidak tahu di mana letaknya ini. Rara segera mengecek ponselnya untuk membuka map. Dia pun memperhatikan hape buntututnya yang sudah retak tak karuan layarnya. “Hm, masih jauh ternyata. Naik bis masih jauh nggak sih haltenya?” Rara jadi celingukan mencari halte incarannya. Dia pun mulai bingung harus ke mana nantinya. Merasa kian tak tahu arah, Rara jadi makin panik. Ia tak tahu harus bersikap apa karena dirinya tidak membawa cukup ruang. “Mampus! Mau naik bis kurang apa nggak ini?” gumam Rara yang masih merasa panik. Sambil memperlihatkan dompetnya yang tak ada isinya. Hingga kemudian, langit cerah tadi berubah menjadi mendung kembali. Hujan pun turun deras, ketika Rara belum juga menemukan tempat berteduh.  Dia berlari untuk mencari halte sebagai tempat perlindungannya dari hujan deras ini. Sayangnya tubuhnya sudah basah kuyup ketika dirinya sampai di halte bus itu. Rey yang sudah pergi jauh dari Rara, kini terkejut melihat keadaan bumi yang sedang diguyur hujan. Ia sangat khawatir dengan wanita yang telah ditinggalkannya itu, dan berharap Rara dalam keadaan baik-baik saja. “Hais! Udah deh, dia paling juga udah dapet tempat neduh,” gumam Rey pada diri sendiri. Meski dirinya sudah berulang kali mengucapkan kalimatnya itu untuk meyakinkan diri bahwa Rara baik-baik saja, namun dirinya tetap saja merasa tak tenang.  Hujan yang kian deras ini, membuat Rey merasa semakin bersalah pada Rara atas sikapnya yang kekanak-kanakan. Dirinya pun tak mungkin lagi membiarkan Rara sendirian dalam hujan seperti ini. Ia lalu memutar arah mobilnya, dan kembali menjemput Rara. Dalam perjalanan, ternyata dia menemukan Rara sudah basah kuyup meski kini dirinya terlihat sedang berlindung di halte bus. Terlihat bahwa wanita itu begitu kedinginan, dengan tubuhnya yang gemetaran. Rey yang melihat wanita itu dari arah seberang, kini segera menghampirinya. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan halte, dan kemudian turun sambil membawa payung, lalu menghampiri Rara. “Masuk mobil. Aku antar,” ucap Rey singkat. Rara menatap aneh ke wajah Rey. Seolah dirinya sedang mempertanyakan sikap Rey yang tiba-tiba saja berubah jadi baik. Ia sangat mencurigai hal ini dan bahkan jadi berpikir yang tidak-tidak. “Masuk, kalau nggak, kamu makin kedinginan. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Tenang aja,” sahut Rey yang benar-benar seperti cenayang yang tepat dalam menebak kekhawatiran Rara. Melihat pria ini berusaha meyakinkannya, Rara pun akhirnya mau mengikuti Rey masuk ke dalam mobilnya. Pria itu pun kini terdiam, menatap Rara yang gemetaran tak karuan saat mereka sudah duduk di dalam mobil. Tiba-tiba saja, Rey melepaskan jaket yang dari tadi dia kenakan. Ia lalu memberikannya pada Rara dan mengenakannya langsung pada tubuh wanita itu. Tentu hal ini mengejutkan Rara yang tidak pernah didekati cowok sedekat ini. “Biar nggak kedinginan, dipakai aja,” ucap Rey lembut saat mengenakan jaketnya pada tubuh Rara.  Sikap pria ini sungguh mampu menghipnotis pikiran Rara.  Wanita itu jadi merasa berdebar saat melihat Rey yang kini tepat di hadapannya dengan jarak yang amat dekat. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN