Bab 10

1308 Kata
Rara yang tadinya masih belum terlalu sadar saat bangun dari tidurnya, kini merasa kupingnya nyeri mendengar suara Rey yang melengking dengan heboh itu.  Ia pun berusaha menyadarkan diri dan menatap layar ponselnya, yang menunjukan nama Rey, dan mengomentari sikap pria yang menyebalkan itu. “Hais, dia itu kenapa pakai teriak segala sih?” gumam Rara yang merasa kesal. “Kamu itu bisa nggak sih, biasa aja ngomongnya?” Rara kembali mendekatkan ponselnya ke telinga. Ia pun memarahi Rey yang terdengar berlebihan mengkhawatirkan Rara. Rey yang menyadari bahwa dirinya sedang berlebihan menanggapi keadaan Rara, saat ini segera duduk kembali dan menjaga sikapnya. Lalu ia pun kembali mengajukan pertanyaannya pada wanita ini.  “Suara kamu kenapa gitu? Kebanyakan minum es kamu ya? Es terooos …,” ucap Rey yang malah kembali meledek Rara seperti anak kecil. Pria ini memang tak jelas kelakuannya yang tiba-tiba mengomentari Rara seperti itu. Rara menghela nafas. Ia merasa tak ingin berdebat dengan Rey yang tingkahnya seperti bocah itu. Lagi pula, kepalanya masih terlalu pusing untuk menanggapi pria tersebut. “Udah ya, kalau nggak penting aku matiin,” ancam Rara yang makin kesal dengan sikap kekanak-kanakan dari Rey. Wanita ini hendak mematikan ponselnya, sampai suara Rey kembali mencegahnya. “Ra, bentar. Itu kamu keluar dulu. Aku udah kirim makan siang, jadi kamu jangan mati di dalam apartemenku ya.” Rey seharusnya mengucapkan perhatiannya dengan baik, kini kembali memberikan ocehan omong kosongnya. Ia tak ingin dianggap terlalu perhatian pada Rara, jadi dirinya mengatakan hal tersebut untuk menutupi niat baiknya. Rara yang mendengar ucapan Rey barusan, langsung mengernyitkan wajahnya. Ia merasa pria ini benar-benar aneh dengan pemikirannya yang random seperti barusan.  Meski demikian, Rara tetap menanggapi ucapan Rey yang menyebalkan tersebut, dengan singkat. “Ya, thanks.” Lalu panggilan pun dimatikannya begitu saja. “Ra? Rara? Heh! Malah dimatiin. Nggak sopan banget sih nih bocah!” teriak Rey yang kini kembali kesal dengan Rara. “Dia itu kenapa sih, asal matiin telpon? Padahal aku duluan yang nelpon. Harusnya aku duluanlah yang matiin.” Pria ini masih saja tak jelas tingkahnya. Rey berusaha cari alasan pada dirinya sendiri supaya bisa menemui Rara langsung saat ini juga. Kali ini, dia berencana untuk memarahi Rara langsung karena wanita itu sudah mematikan panggilannya barusan. Sungguh alasan yang tak masuk akal bukan? “Lihat aja kamu ya, Ra. Aku bakal ajarin kamu sopan santun dalam berinteraksi terhadap sesama makhluk sosial,” ucap pria ini dengan niatan yang telah dinyatakannya. Sementara Rey sedang mengoceh sendiri, tiba-tiba saja asistennya yang memasuki ruangannya dan ia pun memberikan kabar mengejutkan pada atasannya itu. “Pak Rey, ada Bu Cynthia datang kemari, katanya mau ketemu dengan Pak Rey,” ucap wanita ini dengan hati-hati. Dita, asisten dari Rey ini, memang sudah tahu jika atasannya itu tidak ingin bertemu dengan Cynthia. Tapi sayangnya, ia juga tidak berani untuk mengusir Cynthia yang baru saja tiba dari perjalanannya dan mengunjungi perusahaan tersebut. Belum juga Rey menjawab asistennya itu, Cynthia langsung memasuki ruangan bos perusahaan tersebut dan duduk di kursi sofa yang ada di dalam ruangan. Wanita ini menatap ke arah Rey, dengan tatapan tajamnya. “Kamu kenapa dihubungi nggak bisa sih Rey? Nomerku kamu blokir ya?” tanya Cynthia yang terlihat begitu kesal pada sahabatnya itu. Rey memberikan kode untuk menyuruh asistennya itu keluar dari ruangannya. Wajah pria ini langsung berubah menjadi masam, begitu pula suasana hatinya. Maklum saja, Cynthia yang merupakan sahabatnya itu adalah wanita yang ia cintai juga. Bahkan cintanya sudah lama bertepuk sebelah tangan, tanpa wanita itu ketahui.  Seharusnya Cynthia sadar dengan sikapnya yang selalu memberikan perhatian selama ini. Tapi wanita itu memilih untuk tidak ingin terlibat percintaan dengan Rey, dan tak mau memahami perasaan pria tersebut. Bagi Cynthia, ia hanya ingin bersama Rey sebagai sahabat. Ia tak ingin kehilangan Rey, sebagai sahabatnya jika dirinya menanggapi perasaan pria itu. Rey adalah pria yang paling dia andalkan dalam apapun, dan Cynthia tak ingin dirinya harus terlibat cinta yang bisa saja kandas ditengah jalan. “Apa lagi? Bukannya kamu yang blokir nomerku duluan? Katanya, calon suamimu cemburu denganku,” ucap Rey yang sengaja menyindir Cynthia. Rey berubah menjadi dingin sikapnya, setelah patah hati dengan wanita ini. Ia merasa telah dicampakan karena Cynthia tahu-tahu memberikan kabar bahwa dirinya akan menikah dengan pria idamannya. Memang, Rey sudah terbiasa mendengar teman wanitanya itu bergonta-ganti pasangan. Hanya saja, dia tak pernah ada dalam hubungan serius. Semuanya kandas, sampai akhirnya Cynthia menemukan pria pilihannya yang akan menikahinya. Hal inilah yang membuat Rey menjadi frustasi, hingga menyetir mobil sendiri sampai ke kota kecil yang ada di daerah Jawa Tengah, dan bertemu dengan Rara di sebuah tempat karaoke. “Kan aku udah buka lagi, Rey. Taunya malah kamu block. Nyebelin,” ucap Cynthia dengan manja. “Hari ini aku nginep apartemenmu ya? Aku males balik rumah.” Dengan santainya wanita itu mengatakan hal demikian. Tentu ucapannya barusan membuat Rey mengerutkan keningnya dan merasa heran dengan sikap sahabatnya itu. “Ogah. Kenapa nggak nginep aja di tempat calonmu?”  Rey berusaha menolak permintaan Cynthia barusan karena tak ingin dipermainkan oleh wanita ini. Ia tahu betul, Cynthia ini mudah sekali naik turun emosinya dan kali ini dirinya tak ingin menjadi korban wanita itu lagi. Apalagi saat ini masih ada Rara di tempat tinggalnya. Tentu Rey tak ingin jika Cynthia memergoki Rara, sebagai wanita asing yang tiba-tiba ada di apartemennya. “Apaan sih, Rey. Kamu malesin deh. Nggak usah bahas dia sekarang. Pokoknya kamu temenin aku hari ini. Aku mau shopping, jalan-jalan, makan, kalau bisa … nonton yuk Rey!” ajak Cynthia dengan antusias.  Wanita ini terlihat hendak kabur dari masalahnya. Ia nampak ingin menikmati hidupnya seperti biasanya, yang sudah tak lama ia lakukan. Apalagi dengan sahabatnya sendiri, tentu hal ini akan membuat mereka dapat bernostalgia bersama. Namun, Rey yang biasanya langsung mengiyakan jawabannya untuk sahabatnya itu, kini malah terdiam. Ia kepikiran dengan Rara yang ada di dalam apartemennya dan mengkhawatirkan keadaan wanita tersebut saat ini. “Sepertinya aku nggak bisa hari ini. Aku ada urusan,” ucap Rey dengan lemas, merasa tak enak hati dengan Cynthia, karena ini pertama kalinya dia menolak permintaan sahabatnya itu. Cynthia pun terdiam. Ia pikir dirinya tidak akan pernah ditolak Rey bagaimanapun keadaannya. Tapi kenyataannya, ucapan pria ini membuatnya kecewa. Merasa tak diinginkan oleh pria ini, Cynthia pun kini kembali pada rencana awalnya. “Ya udah, aku tunggu aja di apartemenmu. Kamu selesaikan dulu urusanmu dan aku akan menyambutmu saat kamu pulang nanti,” ujar wanita ini dengan senyuman merekahnya. Hal tersebut tentu sukses membuat Rey pusing dan khawatir dengan keadaan selanjutnya, jika Cynthia harus melihat Rara di tempat tinggalnya. *** Sementara itu, di unit apartemen tempat Rey tinggal, Rara segera keluar mengambil makanan yang ternyata digantungkan di handle pintu. Ia pun memperhatikan makanan itu. “Sup? Hmm … baik sekali dia mau membelikanku makanan,” gumam Rara yang malah merasa aneh dengan sikap Rey itu. Ia pun segera menyiapkan makanannya sendiri. Lalu ia pun menyantap makanannya itu sambil menonton televisi. Rara yang merasa bosan dengan keadaan saat ini, ingin makan berbagai kudapan yang ada. Hanya saja, kulkas Rey itu tidak jelas mana makanan yang masih bisa dimakan, mana yang tidak. Ia pun akhirnya mengambil beberapa roti yang ada di sana, dan juga minuman soda. “Gini, nih, baru asyik buat temen nonton tivi,” ucap wanita ini dengan bahagia. Rara menikmati keadaannya saat ini hingga waktu pun sudah berganti malam. Dan  tiba-tiba saja, ia merasa perutnya melilit sangat sakit. “Aarggh … kenapa ini? Sakit banget …,” ucap wanita ini dengan rintihannya. Rara terus saja memegang perutnya. Dia merasa tak pernah sesakit ini.  Rara berusaha meraih ponselnya untuk menghubungi orang di kontaknya. Ia pun mencoba menghubungi Rey sebagai orang terakhir yang menghubunginya. Namun sayang, pria itu tak mengangkat panggilan Rara. Meski sudah diulang beberapa kali tetap saja tak diangkat atau pun dibalas. Rara pun akhirnya jatuh pingsan kembali, di ruang tengah rumah milik Reynaldi ini, tanpa ada yang menolongnya sama sekali. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN