Bab 13

1145 Kata
Di kampus ini, para mahasiswa baru datang berkumpul di salah satu lapangan paling besar yang ada di lingkungan tersebut. Mereka semua mengenakan bawahan hitam dan atasan kemeja putih, serta sepatu pantofel hita,. Semuanya tampak rapi dengan pakaiannya dan juga tertib mengikuti acara awal ini. Semua sudah dikelompokkan dengan masing-masing jurusan, dan mereka pun mulai berkenalan satu dengan lainnya. Begitu pula dengan Rara yang mulai membaur untuk berkenalan dengan teman-temannya, yang berasal dari berbagai daerah itu. Meski Rara merupakan anak desa yang merantau ke kota, dan kini berkuliah di universitas negeri bergengsi, wanita ini pun tetap menjaga sikapnya. Ia tetap sopan, dan mencoba mengakrabkan diri dengan orang-orang yang ada di sana. Terlihat salah satu teman wanitanya yang dikerumuni oleh banyak pria. Wanita itu nampak cantik dan polos, terlihat begitu putih dan mencolok dengan pita pink yang menghiasi rambutnya yang sedang dikuncir kuda. ‘Kenapa tuh, cewek? Kayaknya nggak gitu nyaman,’ batin Rara menanggapi ekspresi wajah temannya tersebut. Merasa bahwa sepertinya memang anak perempuan itu ingin ditolong, Rara pun memberanikan diri untuk mendekatinya. Ia lalu menarik tangan wanita tersebut, dan mengajaknya pergi dari pria-pria yang sedang menggodanya. “Yuk, temenin aku,” ucap Rara dengan senyuman ramahnya, sambil menarik tangan perempuan tersebut. Tentu sikap Rara ini tak disukai oleh para pria yang sedang menggoda wanita cantik itu. Mereka pun mencegah Rara dan menyuruhnya untuk tidak membawa wanita tersebut. “Berhenti!” Pria itu berdiri dari duduknya, dan segera mendekati Rara. Lalu ia pun menarik tangan wanita cantik yang dibawa Rara pergi mengikutinya itu. “Kalau mau pergi, ya, pergi sendiri. Dia itu lagi kami ajak ngobrol. Kamu anak baru, harus sopan sama kami kakak angkatanmu,” ucap pria tersebut dengan tampang tengil dan gaya soknya. Melihat hal ini, sungguh membuat Rara merasa geram. Ia tak suka, ketika wanita diperlakukan seperti itu oleh pria-pria ini. Jelas sekali terlihat bahwa wanita yang sedang mereka goda itu terlihat tak nyaman. Dengan berani, Rara pun menjawab orang-orang ini. “Maaf, Kak. Saya ada urusan dengan teman saya. Lagi pula, kami sedang orientasi. Kalau dilihat-lihat, sepertinya Kakak bukan panitia ya? Karena … kami sudah dipanggil dari tadi untuk ikut acara ke kelas,” jelas Rara dengan sikap tetap tenang. Pria tersebut mengernyitkan dahinya. Dia merasa tak suka dengan Rara yang banyak gaya menjawab ucapannya barusan. Pria ini akhirnya melepaskan tangan wanita tadi, dan kini malah menjambak rambut Rara. Sungguh membuat keadaan menjadi tegang dan semua pun jadi merasa ketakutan. “Heh, kamu pikir kamu siapa? Anak baru kemarin sore aja udah sok-sokan kasih ceramah. Emang kamu pikir kamu Mama Dedeh apa? Mah … curhat yuuuk … hahhaha …,” sindir pria ini yang disambut dengan tawa teman-temannya yang lain. Rara berusaha memberontak. Dia merasa tak suka dengan hal ini, dan berharap bisa kabur dari mereka yang sedang menertawakannya ini. “Lepasin! Ini sakit tauk!” teriak Rara yang berusaha melepaskan cengkraman tangan pria ini di rambutnya. Sayangnya, pria tersebut tak juga melepaskan cengkramannya. Bahkan kini sengaja menjambaknya lebih kencang, membuat Rara makin berteriak kesakitan. “Aaa … aa-ampun … lepasin aku. Ini sakit sekali,” ucap Rara dengan permohonannya. “Uuuhh …. sakit ya? Ini belum seberapa. Kalau kamu masih macem-macem lagi, lihat aja. Kamu bakal merasakan sakit di tempat lainnya,” ancam pria ini yang sudah merasa geram dengan sikap Rara. “Woy! Lepasin mereka! Apa-apaan sih, norak banget,” ucap salah satu pria lainnya yang tiba-tiba mendekati kerumunan ini. Ia pun mencengkram tangan pria yang menjambak rambut Rara hingga membuatnya melepaskan jambakan itu. “Adu du duh … sakit tau, Bro!” seru kakak angkatan yang berani menggoda dan berlaku semena mena ini. Pria itu pun terlihat kesakitan, usai dicengkram kuat oleh pria yang baru saja datang. Lalu ia segera membawa dua wanita itu menjauh dari orang-orang rese’ ini. “Kalian, nggak apa-apa? tanyanya pada Rara dan juga wanita satunya. “Enggak apa kok. Makasih ya, Kak,” jawab Rara yang diikuti pula dengan teman wanitanya itu. “Apa … masih sakit? Bukannya tadi kamu kesakitan dijambak dia?” Pria ini memastikan kembali keadaan Rara, karena dia melihat sendiri tadi Rara meringis dan juga berteriak kesakitan. Rara memandang kakak angkatannya itu. Terlihat begitu mengkhawatirkannya, dan jujur hal ini membuat Rara jadi ge-er karena pria tersebut tampak manis wajahnya. “Udah, nggak apa kok, Kak,” jawabnya malu-malu sambil tersenyum ke arah pria tersebut. “Hmm, gitu. Ya udah. Kalau gitu, kalian masuk kelas aja. Acaranya udah mulai tuh. Lain kali, kalian jangan lewat kantin belakang lagi. Soalnya gerombolan tadi bakal tetep stay di sana. Kalau kalian mau ke kantin, mending ke kantin depan aja,” jelas pria ini memberikan masukannya. Rara menganggukan kepala, merasa paham dengan maksud ucapan pria ini. Begitu pula dengan wanita di sampingnya itu. Ia juga menganggukan kepala, dan tersenyum ke arah pria tersebut, dengan senyuman yang membuatnya kian cantik dilihat. Hingga akhirnya, Rara dan temannya pun masuk ke dalam kelas, yang lebarnya hampir seperti hall. Mereka duduk bersebelahan, di belakang, dekat pintu masuknya tadi. “Makasih ya, buat tadi,” ujar wanita yang diselamatkan oleh Rara itu, dan disambut Rara yang membalasnya dengan anggukan kepala, lalu tersenyum lembut kepada temannya tersebut. “Aku Jihan Harvey, biasa dipanggil Jihan. Kamu?” Wanita cantik ini mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Rara. Mendengar namanya saja, Rara jadi menebak, ‘Pasti anak orang kaya nih,’ gumamnya dengan dugaannya itu. Rara yang pandangan matanya berusaha menelisik wanita ini, kini langsung menyambut jabatan tangan tersebut, dan memperkenalkan dirinya pada temannya itu. “Aku … Ameera Diandra. Tapi biasa dipanggil Rara.” “Ah, Rara. Oke. Kalau gitu, mulai sekarang, kita temenan ya?” Jihan nampak senang saat Rara mau menjabat tangannya dan berkenalan dengannya. Ia pun seperti anak kecil yang merasa bahagia ketika mendapatkan teman baru. Rara merasa geli dengan sikap Jihan yang terlihat kekanak-kanakan baginya. Ia pun merasa senang juga karena mendapatkan teman yang masih polos, meski tampilannya benar-benar terlihat anak orang kaya, berbeda sekali dengan dirinya.  Jika dilihat, padahal, keduanya masih sama-sama mengenakan pakaian pasangan atas putih dan bawah hitam. Namun entah mengapa, perbedaannya terasa sekali. Tiba-tiba saja, saat acara sedang berlangsung, Jihan membisikan sesuatu pada Rara. “Ra, nanti pulang main bareng yuk. Aku mau ajak kamu main, sekalian traktir kamu,” bisik wanita ini di telinga Rara. Hal ini membuat Rara geli tak karuan, dan berusaha menahan tawanya. Hanya saja, dosen yang kali ini sedang memberikan penjelasan salah satu materi orientasi, malah melihat mereka berdua cekikan.  Pria dewasa itu pun segera melemparkan penghapus yang ada di tangannya ke arah Rara dan Jihan. Hingga semuanya pun jadi kaget karena hal ini. “Kalian bisa diam tidak? Dijelasin malah cekikikan seperti itu! Nggak sopan ya kalian itu?” teriak dosen ini dengan suara lantangnya. Rara dan Jihan pun jadi tertunduk malu. Mereka tak menyangka, kejadian sepele tadi, berimbas pada diri mereka masing-masing, yang dimarahi oleh seorang dosen killer tersebut. Sungguh hari pertama yang memalukan bagi Rara dan temannya itu. Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN