Di bawah langit malam yang sangat cerah oleh jutaan bintang di langit kali ini, Devano memeluk Alesha sambil mengecupi puncak kepala wanita itu. Berada dalam satu selimut yang sama tanpa sehelai benang pun, membuat keduanya saling bergelut mencari kehangatan. "Kenapa tidak bilang kalau kamu yang setiap hari mengirimkan bunga untuk makam orangtua aku di Bogor?" tanya Alesha berbaring di dadaa Devano. Tangannya bergerak mengitari kulit pria itu, merasakan tangan hangat Devano mengusap punggungnya. "Untuk apa bilang? Saya bisa melakukannya tanpa banyak bicara. Lagi pula mereka juga keluarga saya bukan? Saya pernah begitu mengecewakan, sebab itu saya akan menebus semuanya dengan membahagiakan kamu dan Klary. Kamu tahu dari mana jika saya yang mengirim bunga, huh? Tukang bunganya yang bilang

