Jam dua dini hari, Alesha terbangun sebab haus sekali. Sebenarnya takut ingin turun ke lantai bawah, apalagi mengingat kediaman Devano sangat luas dan gelap. Yang Alesha tahu hanya satu nyawa yang melayang di ruang bawah tanah, tidak tahu sebelum-sebelumnya sudah berapa banyak. Tidakkah hal ini mengerikan? Karena tenggorokannya sungguh kering, Alesha memberanikan diri keluar kamar. Baru satu kaki melangkah keluar, dia sudah disuguhkan dengan kegelapan yang membuat bulu kuduk berdiri. "Astaga, rumah ini horor sekali!" desah Alesha frustasi. Dia mengusap wajah, namun berlahan mulai melangkah dengan tongkat kakinya. Sungguh sulit dan sedikit lambat, Alesha juga tidak bisa berlari jika ada hantu. Ingin menangis, tapi dia sudah besar. Malu pada para pengawal, Bibi Pen dan Bibi Guin jika membua

