Kedua netra Seila terbuka saat dia merasa nyeri di pangkal pahanya. Semalam dia sudah melepaskan mahkotanya hanya untuk Aksara. Darah segar keluar dari bagian intinya, membuat rasa yang membekas hingga sepertinya dia akan kesulitan untuk berjalan. Tidak terbayangkan sama sekali jika semalam dia dan Aksara membuat bulu kuduk menegang, urat syaraf semuanya berdesir dan peluh yang membasahi tubuh hingga sprei hotel ini. Pertempuran deru napas dan irama jantung semalam membuat tubuh mereka seakan remuk tak berdaya. Seakan puing-puing gelas kaca yang berserakan. Malam ini malam yang indah dan tidak akan terlupakan selama hidup Seila. Saat asmara keduanya tengah membara, saat semua rasa memuncak dan menyatu hingga membuat kenikmatan yang tiada tara. Kandung kemih Seila terasa penuh. Dia harus

