Gamal tertunduk dalam sembali menyentuh kening. Kenapa Nora tidak membelanya? Dirinya dipukuli, diperlakukan seperti jambret yang tertangkap saat beraksi di jalanan. Kenapa kekasihnya itu diam saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun? Padahal kini seluruh keluarganya memperlakukan dirinya seperti seorang pemerkosa biadab. Kenapa Nora tidak bilang kepada keluarganya bahwa ia-lah yang terus memaksa, bahkan mempermalukan Gamal di hadapan teman teman-temannya!
“Kamu dengar Gamal?! Besok kami ke rumah kamu! Jangan sampai kamu malah kabur!” Lagi ayah Nora mengulang kata-katanya dengan nada tinggi. Sembari menarik kerah baju Gamal kuat sekali, hingga wajah kedua saling berdekatan.
Hujan sangat lebat di luar rumah disertai sambaran kilat dan petir. Namun, suara petir yang biasanya sangat menakutkan, kini rasa-rasanya tak semenakutkan para kakak lelaki Nora. Gelegar alam yang mengamuk di luar serasa tak sebanding dengan gelegar kemarahan Sadad. Ayah Nora itu terus memaki dirinya terus-terusan tepat di depan wajahnya, hingga wajah Gamal basah bukan hanya karena air mata mata, tapi juga basah terkena cipratan air liur.
“Iya, Pak.” Gamal menangis tersedu-sedu terbayang wajah sang mama, “Aku benci kamu Nora! Benciiiiii!” teriaknya di dalam hati.
“Kamu pulang sekarang!” usir Sadad sembari melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Gamal dengan kasar setelah sebelumnya menarik kencang sekali, hingga, tubuh Gamal pun terjengkang ke belakang, jatuh ke lantai
Terusir, terhina, lelaki remaja itu tidak memiliki sisa harga diri lagi. Dia berdiri lalu berjalan menuju pintu tanpa melihat wajah Nora sedikit pun. Dia sangat membenci pacarnya itu, kemarahan terasa membakarnya sangat dahsyat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Gadis itulah yang membuatnya dalam masalah sebesar ini. Gamal berkendara melintasi malam dalam hujan sangat deras. Dingin tak lagi terasa, kepala dan dadanya hanya berisi kebingungan, bagaimana dia akan menghadapi sang mama? Apa yang harus dia katakan? Bahwa dirinya menghamili anak orang?
Semua orang tidak akan peduli dengan penyebab bagaimana semuanya bisa terjadi, tetap saja dirinya akan disalahkan sang mama, Gamal yakin itu. Seluruhnya tubuhnya basah terguyur hujan, sesekali laju motornya terseok tersapu angin yang begitu kencang.
“Aaaaah!” teriak Gamal sekerasnya sembari memutar gas sekuatnya hingga mentok, “Noraaa! Semua ini gara-gara kamuuuu! Huhuhuhu!” tangis lelaki muda itu pecah sejadi-jadinya, “Maafin Gamal, Ma! Ayah!” Tak henti-hentinya dia terus memaki, tidak mengerti kenapa semua jadi seperti ini.
Tidak tahu harus kemana lagi membawa hati dan pikirannya yang kalut, dia memacu sepeda motornya pulang berharap sang Mama tidak melihat kekacauan yang dihadapinya malam ini.
“Ga, kok ujan-ujanan?” ucap Hana sambil membuka pintu.
“Iya, Ma. Takut kemalaman. Tadi udah nungguin hujannya reda di rumah Wahyu, tapi malah tambah lebat. Ya udah pulang aja daripada kemalaman,” bohong Gamal sembari memalingkan wajah, berusaha agar tidak bertatapan langsung dengan sang mama. Takut bekas penyiksaan keluarga Nora akan terlihat. Dia Berjalan melewati tubuh wanita yang melahirnya itu langsung menuju kamar mandi.
“Gimana Wahyu?” tanya Hana penasaran sembari memandangi punggung putranya.
“Udah baikan, makanya bisa pulang,” lagi Gamal berbohong. Setelah berganti pakaian dia masuk ke dalam kamar kemudian mengubur diri dalam selimut. Kembali menangis dan sangat berharap semua ini cuma mimpi.
***
Di Sekolah …
Gamal melihat ke arloji yang melingkari pergelangan tangan, lima menit lagi bel masuk berbunyi. Tergesa langkahnya mendatangi kelas Nora, ingin menumpahkan segala kemarahan dan ketidakterimaan akan sikap sang pacar yang hanya diam saja tidak membelanya sedikitpun ketika dirinya menjadi samsak tinju amukan kemarahan keluarganya. Sayangnya gadis itu tidak masuk sekolah. Pikiran Gamal benar-benar kacau, ingin rasanya dia membanting meja sang pacar sebagai pelampiasan. Namun, dirinya berpikir lagi, tentunya hal itu hanya akan membuat dirinya berada dalam masalah lagi.
“Apa dia di tempat Andy, ya?” ucapnya di dalam hati. Dia pun segera berlari menuju parkiran kemudian memacu motornya dengan cepat ke rumah Andy.
Sesampainya di sana, dia melihat pemandangan sama seperti waktu itu, banyak anak-anak bolos sekolah. Sejenak ragu menyergap hatinya, membuat dia menghentikan langkah, berpikir sejenak. Jika dirinya membuat masalah di sini sudah dapat dipastikan dirinya babak belur, “Kalo Nora ada gue ajak keluar aja. Enggak di sini.” Dia membuat keputusan.
“Misi … ada Nora nggak di dalam?” tanya Gamal pada sekumpulan pemuda yang mengobrol, duduk di teras rumah.
“Wah nggak tau tuh. Coba tanya aja ke dalam,” jawab salah seorang dari mereka.
“Oke … makasih, ya__” Gamal mengangguk pelan lalu memasuki rumah. Dilihatnya Andy dan teman teman-temannya duduk di sofa, juga melakukan aktifitas yang sama seperti waktu itu. Mabuk bersama teman-temannya, bahkan dengan orang yang jauh lebih banyak. Hanya saja kali ini tidak ada perempuan di sana. Namun, beberapa senjata tajam tergeletak di atas meja.
“Bang, Nora ada nggak?” Gamal langsung menodong Andy dengan pertanyaan. Dirinya gugup, takut senjata tajam itu akan bersarang di perutnya mengingat semua lelaki ini sedang mabuk dan tidak waras. Dia yakin mereka berniat tawuran dengan sekolah lain. Sisi gelap sekolah STM terkenal dengan keberingasan dan doyan tawuran. Tidak terhitung sudah berapa jumlah teman-temannya yang masuk rumah sakit karena berkelahi. Namun, dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Nora jadi dia harus berani.
“Eh Gamal! Gabung sini. Lama banget lo nggak ke sini. Lo kok main ngilang aja pas udah selesai,” sindir Andy sambil tertawa.
“Eh iya,” Gamal tertawa masam, “Nora ada, Bang?”
“Duduk sini dulu!” Andy menepuk sofa di, “jangan berdiri di pintu gitu, kaya orang minta sedekah aja lo.”
Terpaksa, Gamal masuk juga, duduk di sebelah Andy, seperti yang diinginkan lelaki itu, “Saya buru-buru, Bang ada urusan penting sama Nora,” ucapnya sembari mendudukan dirinya di atas sofa.
“Tambahin dong. Lo punya duit berapa?” tanpa permisi Andy langsung merogoh saku kemeja Gamal. Sedangkan Gamal sendiri tidak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa menghela napas berat. Seulas senyuman tersemat di bibir Andy ketika mendapati uang 20 ribuan. Cukup untuk kembali membeli sebotol wiski.
“Nora nggak ada, udah lama juga dia nggak ke sini,” terang Andy.
“Ya udah saya permisi ya, Bang mau cari Nora.” Gamal berdiri dari sofa.
“Yoi! Thank you ya! Kalo ada apa-apa lo ke sini aja, nggak papa.” Andy tersenyum senang. Gamal pun segera pergi dari rumah Andy dengan perasaan semakin kacau karena tidak bisa menemukan Nora, sedangkan ayah pacarnya itu berkata akan datang ke rumahnya.
***
Malam sudah tiba, seperti biasa, Gamal bersama keduanya orang tuanya menikmati makan malam mereka selepas magrib. d**a lelaki muda itu bergemuruh hebat sebab sore tadi Nora menelponnya dan mengatakan bahwa ia dan keluarganya akan datang ke rumahnya di malam hari.
Bingung, haruskah dirinya membicarakan hal yang menimpanya lebih dulu sebelum Nora datang? Namun, dirinya tidak tahu harus memulai dari mana. Kini dia hanya bisa pasrah dengan apa yang pun terjadi, tidak ada tempat lari lagi.
“Ga, udah kamu tanya harganya berapa?” tanya Uwais-Ayah Gamal pada putranya.
“Harga apa?” tanya Hana pada suaminya.
“Gamal mau motor baru,” terang Uwais.
“Emang motor kamu kenapa?” Hana menatap heran kepada putranya.
“Nggak kenapa-napa, Ma. Pengen aja punya motor laki, bukan motor bebek kaya yang ini. Temen-temen aku udah pada punya,” rengek Gamal pada ibundanya.
“Berapa harganya?” desak Hana tidak sabar, dirinya tahu harganya pasti
jauh lebih mahal daripada sepeda motor bebek.
“Hehehe__” Gamal cengengesan, “Hampir lima belas juta, Ma.”
“Nggak ada enggak ada!” Hana menggeleng cepat sambil mengibaskan tangan, “Enggak ada duit. Pakai motor yang ada aja!” wajah wanita itu merengut.
“Yah__” Gamal meminta pertolongan dengan jalur diplomasi kekuasaan kepala keluarga. Sebab apabila sang ayah memberikan titah, tentu mamanya tidak bisa menolak bukan?
“Ayah nggak ada duit. Semua dipegang Mama kamu,” Uwais tertawa pelan, “Kasih aja lah, Ma__” bujuknya pada sang istri.
“Enggak ada duitnya kalo buat beli motor baru. Pakai yang ada aja!” Hana berkeras. Gamal merengut mendengar penolakan tegas sang mama, saat itu juga terdengar ketukan di daun pintu disertai salam.
“Liat Ga, siapa yang datang,” suruh Uwais pada putra semata wayangnya.
Dada Gamal pun seketika berdebar luar biasa cepat. Menuruti perintah sang ayah, membuka pintu. Dia mendapati Nora bersama kedua orang tuanya berdiri di depannya. Wajah lelaki muda itu seketika berubah masam.
“Siapa Ga?” tanya Hana nyaring.
“Nora, Ma. Sama Papa-Mamanya.” Lemas dan gemetar Gamal membuka daun pintu selebar-lebarnya.
“Siapa?” tanya Uwais kepada istrinya.
“Nora, anak perempuan yang sering aku ceritakan itu. Ada apa ini?” Hana segera berdiri dari kursi, dirinya yakin ada sesuatu yang tidak beres.