Ketukan pintu membuat kelopak mata Gevit terbuka, saat dia hendak bangkit lengannya tertahan oleh kepala Letta yang terkulai di sana. Gadis itu tertidur setelah kelelahan menangis seharian, Gevit menatap jendela Letta, di luar sudah gelap, entah jam berapa sekarang. Dengan hati-hati Gevit memindahkan kepala Letta di bantal, jangan sampai tidur pulas sang adik terusik karena kegiatannya. Ketukan pintu terdengar lagi. Gevit beranjak untuk membuka pintu. Cklek. “Gevit” “Ma” “Letta mana? Kalian belum makan seharian, makan yuk, mama udah masakin makanan untuk kalian” Gevit menatap wajah kusut Andini, lalu dia menoleh ke belakang dimana Letta masih tertidur. “Letta tidur, Ma. Aku nggak tega mau bangunin dia” “Tapi kalian belum makan, sayang. Apalagi Letta punya maag” Benar juga, kalau Le

