Esoknya, empat serangkai itu kembali berkumpul. “Widiih, traktiran lagi brotha!” Leo tertawa seraya merangkul pundak Alfa, saat ini mereka di cafe untuk merayakan diterimanya Alfa di salah satu kampus yang ada di Singapura. Cowok berhidung mancung itu sedari tadi tak bisa berhenti tersenyum, dia begitu senang. Bahkan semalam dia sudah memikirkan akan melakukan apa saja selama disana. “Otak lo mah isinya traktiran mulu” Alfa mendorong Leo agar tidak menempel bak cicak belum diberi makan. “Gue nggak nyangka anjir, mana kelupaan nggak ngecek. Untung di ingetin sama papa” celetuk Alfa seraya menyugar rambut. “Lo mah apa sih yang di inget” timpal Vero, mencomot croffle yang baru saja dihidangkan. Mereka sudah berada di cafe ini kurang lebih delapan belas menit. “Jadi kapan lo kesana?”

