Mas Firdaus kemudian membalikkan tubuhku, dan mencium serta memainkan lidahnya di daerah intimku dengan sangat lembut dan ahli. Aku terkejut, nggak pernah menyangka dia akan melakukan itu. "Mas! Eungh... shh... Mas!" protesku, tapi protesku segera berubah menjadi desahan tertahan. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, benar-benar baru. Sentuhannya membuat seluruh tubuhku seperti dialiri listrik. Aku merasakan nikmat sampai berkali-kali mendesah dan melakukan pelepasan, tanpa perlu penyatuan sekalipun. Aku memeluk bantal erat, terengah-engah, merasakan pelepasan yang lebih kuat dari semalam. Aku pikir dia akan berhenti. Namun setelah itu, bukannya berhenti, Firdaus malah memasukkan pusakanya. Kepalanya mendekat, berbisik, "Sudah cukup ya pemanasannya, Sayang. Sekarang saatnya Aya

