Lampu depan mobil mewah itu menyala terang, membelah kegelapan subuh. Haris melangkah cepat, rasa sakit di dadanya jauh lebih perih daripada tamparan yang ia daratkan di wajah putranya. Ia masuk ke mobil, menutup pintu dengan bunyi keras, dan tanpa menoleh sedikit pun, ia melajukan mobilnya, meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya. Vais berdiri di ambang pintu kamar tamu, memandang mobil ayahnya menjauh hingga hilang di tikungan kompleks perumahan. Ada rasa sedih yang menusuk di hatinya. Ia tahu, apa yang ia lakukan adalah salah secara moral, menyakiti ayahnya sendiri. Tapi, perasaan kepada Maureen—rasa cinta, gairah, dan keinginan untuk melindungi—ia rasa tidak salah. Perasaan itu nyata, dan itu yang membuatnya tega melakukan pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.

