Aku kembali makan siang jam dua, kantor sudah sepi. Hanya menyisakan Endah dan Timo, dan aku tahu Endah hendak keluar hari ini. Aku berbasa – basi pada Endah menanyakan apakah dia sudah makan, jawabannya membuatku menyesal telah bertanya.
“Sudah tadi sama mas Nusa.”
Bagiku, selamanya mas Nusa hanya cocok dengan mbak Alisa. Mereka berdua serasi, jadi mendengar mbak Alisa meninggal cukup membuatku sedih meski bukan siapa – siapa. Aku hanya tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupan mas Nusa tanpa cinta sejatinya itu.
Dan saat menjawab pertanyaanku tadi, aku bisa menangkap semu merah di kedua pipi Endah. Dia menyukainya? Ada rasa tidak rela apabila mas Nusa dekat dengan orang lain.
Jika tidak dengan mbak Alisa, mas Nusa tidak boleh dekat dengan orang lain lagi. Itu yang kuharapkan. Tidak, aku tidak pernah bermimpi untuk menggantikan posisi mbak Alisa di hati mas Nusa bahkan di hidupnya. Aku hanya yakin, tidak akan ada yang dapat menggantikan posisi mbak Alisa di hati mas Nusa. Termasuk aku. Pengagum posesif, aku telah menobatkan diriku. Karena tidak berani bermimpi untuk memiliki mas Nusa sebagaimana mbak Alisa pernah memilikinya. Dan mungkin, masih hingga saat ini.
Aku baru bertemu mas Nusa dua hari ini, masih banyak hal yang belum kuketahui tentang kehidupan pribadinya. Mungkin kah ia sudah menemukan pengganti mbak Alisa? Atau bahkan telah berjanji untuk tidak mendua meski sang istri sudah lebih dulu pergi meninggalkan Dunia.
“Kak Zoraaaaaaaa.”
Aku menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Nadia berlari dari arah pintu masuk, menghambur memelukku yang masih membeku terkejut karena kedatangannya yang tidak kusangka. Padahal, kemarin aku bertemu dengannya di gedung yang sama. Maksudku, aku tidak menduga bahwa hari ini dia akan datang lagi. Tapi, sepertinya Nadia terlalu menyukai kantor papanya.
“Hei, kamu kesini lagi.” Ucapku retoris, Nadia melepaskan pelukannya dan memberikan cengiran lebar pada kami. Aku dan Mimi.
“Aku tahu dari papa kalau Kakak hari ini sudah mulai kerja.”
“Hehehe. Kamu mau ke papa?”
Nadia menggeleng, ia menarik kursi milik Jamal untuk duduk dekat denganku.
“Aku mau ketemu Kakak.”
“Nad, sudah makan belum kamu?” Endah menyela pembicaraan kami, Nadia menoleh dan mengangguk pada Endah. “Makan pakai apa?”
“Ramen.”
“Kok ramen sih? Nanti lapar lagi lho.”
Keduanya terdengar cukup akrab.
“Aku mau pesan corndog nanti. Tante mau kemana?”
“Mau ketemu klien dulu. Tante pergi ya.”
Sebelum berlalu, Endah mengingatkanku untuk memulai membuat draft. Aku mengangguk, ia pun pamit setelah mampir ke ruangan mas Nusa untuk berpamitan juga. Disusul Timo yang juga berpamitan pada kami berdua.
Tinggal lah aku, Nadia dan Mimi di ruangan ini. Mimi mendekat pada Nadia dan menawarkannya snack lidi – lidian beraneka rasa, dengan senang Nadia mengambil yang rasanya pedas.
“Kamu suka pedas, Nad?”
Ia mengangguk sambil membuka bungkus lidi – lidiannya.
“Kak, kalau menstruasi memang perutnya sakit ya? Perut aku sakit banget tahu dari semalam.”
“Ada yang sakit, ada yang enggak. Kalau sakit biasanya Kakak minum obat, tapi kamu masih terlalu muda. Dikompres pakai air hangat saja dulu perutnya.”
“Nadia sudah menstruasi?” Tanya Mimi, dengan malu Nadia mengangguk kecil.
“Baru kemarin tahu, Kak. Untung ketemu kak Zora, mana kemarin aku pakai rok putih.”
Mimi mengerutkan merespon dengan ekspresi ngeri mendengar cerita Nadia.
“Terus, terus?”
“Untung dikasih tahu kak Zora. Dikasih pembalut dan diajarin cara pakainya juga.”
“Hei, kok nggak bilang – bilang mau datang.” Mas Nusa keluar dari ruangannya, mungkin mendengar suara Nadia.
Gadis kecil itu tertawa dan menghampiri mas Nusa untuk memeluknya.
“Aku mau ketemu kak Zora, Pa. Banyak yang mau aku tanya.”
“Aduh, kamu kan bisa cari di google. Kak Zora baru hari pertama kerja lho ini, masa sudah kamu ganggu.”
Nadia melihatku dengan sorot mata sedih, “memang aku ganggu, Kak?”
Spontan aku berdiri, menatap bergantian wajah ayah dan anak itu.
“Nggak kok. Saya nggak terganggu kok, Mas.”
Nadia tersenyum senang, “tuh kan.”
“Maaf ya, Zora, Nadia nyusahin kamu.”
“Ah nggak kok.” Dan aku memang berkata jujur, meladeni pertanyaan seputar kewanitaan bukan lah hal yang menyulitkan atau mengganggu.
“Papa mah lebay, kita kan cuma ngobrol saja ya, Kak?”
Aku membenarkan perkataan Nadia, respon mas Nusa membuat jantungku berdesir aneh. Ia mengelus puncak kepala Nadia dengan lembut sambil mencandai perkataan anaknya barusan. Meski sulit bereaksi, aku menampilkan senyum kecil. Menyembunyikan apapun yang sedang bergejolak di dalam dadaku.
“Yasudah, jangan lama – lama ganggu kak Zora-nya.”
Nadia cemberut namun ia memeluk mas Nusa, bahkan berjinjit untuk mencium pipi papanya. Ia kembali duduk di sampingku dan mas Nusa berlalu menuju pantry.
“Caranya kompres perut gimana, Kak?”
Aku pun memberitahu Nadia cara mengompres dengan botol hangat. Bahkan memberitahunya tentang jamu – jamuan, namun seperti dugaanku, Nadia berkata bahwa dirinya tidak menyukai jamu bahkan sekedar baunya. Aku dan Mimi tertawa, sangat memaklumi hal itu.
Selama aku bekerja, Nadia menonton beragam acara tentang idol Korea. Sesekali ia bertanya apakah aku mengenal salah satu dari mereka.
“Kakak cuma suka nonton drakor saja.”
“Pasti sukanya Lee Minho deh.” Ucap gadis itu, ia meledekku.
Mimi ikut nimbrung obrolan kami. Lee Minho memang terkenal di kalangan orang – orang yang hanya menyukai drama Korea tanpa intensitas terhadap artis lainnya.
“Kak Zora kalau libur kerja, biasanya ngapain?”
Nadia bertanya di saat yang sama mas Nusa telah kembali dari pantry sambil membawa segelas minuman panas di tangan kanannya, ia tampak tertarik dengan pertanyaan anaknya padaku.
“Nonton drakor kalau lagi nggak kemana – mana.”
“Nggak pacaran? Eh Kak Zora sudah menikah ya?”
Dengan cepat kusanggah pertanyaan Nadia.
“Nggak kok, belum.”
“Nggak sopan, Nanad, nanya begitu ke orang dewasa.” Tegur mas Nusa pada anaknya, aku tersenyum kecil melihat Nadia cemberut menatap papanya sebelum meminta maaf padaku. “Mau pulang jam berapa kamu?”
“Nanti.” Jawab Nadia, ngeyel seperti anak seumurannya.
Mimi memberi kode bahwa ia canggung dengan situasi ini, mungkin takut mas Nusa memarahi Nadia di depan kami. Bibirnya bergerak cepat, seolah ia mengucapkan sesuatu tapi aku tidak mengerti yang ia bicarakan. Namun paham maksudnya , aku mengedipkan kedua mata bersamaan memintanya bersabar.
“Abaikan saja, Zora, kalau dia bertanya aneh – aneh.”
“Ih Papa!”
“Nggak apa – apa kok, Mas.” Aku meyakinkan mas Nusa dengan senyum karir.
Mas Nusa pun berlalu menuju ruangannya.
Nadia kembali bertanya soal kegiatanku di akhir pekan dan sampai sore, kerjaku ditemani celotehan anak bungsu mas Nusa tentang segala hal. Mimi mengirim chat bahwa dia bosan dan terlalu sungkan untuk mengusir anak bosnya itu hingga akhirnya memilih menyingkir bekerja dari ruangan HR yang hanya diisi mbak Debby seorang.
“Kak Zora naik apa berangkat kesini?”
“Bawa motor. Kamu tadi naik apa? Ojek online? Taksi?”
“Aku naik Transjakarta, Kak. Kalau siang kayak tadi, sepi busnya.”
“Hum. Terus, kamu nungguin papa?”
Bukannya menjawab pertanyaanku, Nadia malah kembali bertanya tentang rumahku, tinggal dengan siapa dan sebagainya. Karena tidak merasa keberatan dengan segala pertanyaan itu, aku menjawab apa adanya.
“Papa sama mamanya Kakak di mana?”
“Papanya Kakak sudah meninggal setahun yang lalu. Kalau mama, tinggal di kampung.”
“Oh. Maaf Kak, aku nggak tahu.”
Aku menepuk pundaknya sambil mengangguk kecil dan tersenyum.
“Aku boleh main nggak ke rumah Kakak kalau lagi libur?”
Hehhh??
©