Rindu

1618 Kata

“Sedang apa kau di rumahku sepagi ini?” seru Vilien dari ambang pintu kamar. “Mengajakmu sarapan,” jawab Zayden sambil menyiapkan makanan. Hanya menatap kilas. “Ini masih sangat pagi, aku belum mandi,” ucap Vilien sambil menguap. Tatapannya masih sayu dan rambutnya tergulung asal. Zayden menghampiri Vilien yang berjalan sempoyongan menuju ke meja makan. Ia dekap, mengecup kening. Beberapa detik saja, karena Vilien mendorong Zayden hingga tercipta jarak diantara mereka. “Aku masih bau. Tunggulah sebentar, aku akan mandi,” ucap Vilien masih dengan suara serak bangun tidur. Terkekeh rendah lalu kembali memeluk, mengecup kedua pipi, kening, hidung, bibir secara bergantian cepat. Vilien yang terus meronta tanpa sengaja kecupan Zayden jatuh pada lehernya. Seketika tubuh Vilien menegang terd

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN