Termenung di sudut kamar dengan beralasan karpet bulu berwarna abu gelap, Vilien curahkan kesedihannya pada sang pencipta. Sisa hujan salju yang memenuhi jalanan kota, terpampang jelas dari balik jendela kaca yang ia sibak. Di tengah lamunan, Vilien dikejutkan dengan dering ponsel miliknya. Melirik benda persegi yang tergeletak di sampingnya lalu mengangkat dan menggeser tombol hijau ke samping. Ia nyalakan juga pengeras suara. “Buka pintu!” teriak Sye dari seberang panggilan. Tanpa mematikan panggilan, segera Vilien beranjak dari tempat duduknya cepat menuju pintu. Baru dibuka, Sye menyibak tubuh Vilien ke samping lalu menerobos masuk. “Rasanya tubuhku sudah beku,” ucap Sye sambil melepas mantel tebal lalu berlari ke arah perapian dengan wajah pucat. “Mau coklat panas, sup jamur atau

