Rumah Tangga

1237 Kata
1 bulan kemudian... "Enghhh," sorotan sinar matahari yang menembus jendela kamar membuat Keyra terbangun dari dunia mimpinya. Ia meregangkan otot tangannya sejenak. Pandangannya beralih pada pada tangan suaminya yang tengah tidur sembari melingkarkan tangannya di perut Keyra. Kebiasaan. Keyra membalikkan badannya menghadap laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya satu bulan lalu. Kevin terlihat tidur begitu pulasnya. Ia tahu Kevin pasti kelelahan, beberapa hari terakhir ini laki-laki itu memang sangat disibukkan dengan kerjaan kantor. Kadang Keyra kasihan melihatnya. Keyra memandangi wajah Kevin tanpa henti dengan guratan senyum di wajahnya. Ia tidak tega membangunkan suaminya itu. Keyra melepaskan pelukan Kevin dengan sangat hati-hati agar laki-laki itu tidak terbangun. Lalu ia duduk di tepi ranjang sembari mengikat rambutnya. Sesekali Keyra menguap. Diliriknya jam weker yang berada di nakas samping tempat tidur. Ternyata masih pukul 06.00. Good time. Mumpung masih jam segini lebih baik ia menggunakan waktu untuk membuat sarapan. Kemudian Keyra beranjak dari tempat tidur sedangkan suaminya masih tertidur pulas. Keyra berjalan menuju dapur. Keyra sudah siap dengan peralatan masaknya. Pagi ini ia hanya akan memasak menu sederhana yaitu tumis sosis dan nasi goreng. Semenjak sudah memiliki suami kemampuan memasak Keyra semakin meningkat. Bagi Keyra membuatkan masakan untuk suami dan mengurus rumah itu adalah hal yang menyenangkan. Itu alasannya kenapa Keyra tidak setuju untuk menyewa pembantu. Setengah jam Keyra berkutat di dapur akhirnya selesai juga. Aroma masakannya sangat sempurna. Kevin pasti menyukainya. Ya, Kevin memang selalu menyukai apa yang Keyra masak. Selepas itu Keyra naik lagi ke lantai dua untuk membangunkan Kevin. "Vin bangun," ujar Keyra. "Bangun Kevin udah pagi." Keyra menepuk pelan pipi Kevin. Cowok itu hanya mengerang. Keyra mendecak, "Mas suami bangun napa. Vin bangun dong ihhh.." "Hmmmmmm.. masih ngantuk. 5 menit lagi Ra," "Astaga suami pemalas" "Ayo bangun ihh aku udah siapin sarapan. Katanya kamu ada meeting, makanya bangun sekarang!" tegas Keyra, ia menarik tangan Kevin. Kevin pun bangun, ia menyibakkan selimutnya dan bersandar di kepala ranjang. Laki-laki itu melihat ke arah Keyra dan tersenyum. "Good Morning my wife!" "Morning to my husband." Keyra tersenyum geli. "Ayo kita sarapan. Aku udah siapin di bawah," ajaknya. Keyra menggandeng tangan Kevin tapi laki-laki itu tidak mau bergerak. Keyra kembali menoleh pada Kevin dengan tatapan bingung. "Vin," "Morning kiss dulu," ujar Kevin kemudian. Ia tersenyum jahil. Keyra menghela nafas pendeknya. Ia kira ada apa. CUP~ Keyra mencium pipi Kevin. "Udah kan? Nah ayo sekarang kita sarapan." "Pelit amat sih Ra, masak cuma pipi doang?" Kevin malah menggerutu. "Vin. Sarapan nggak atau aku pukulin nih!" "Iya-iya. Masih pagi juga udah galak aja. Yuk!" ajaknya, ia mengacak rambut Keyra. Mereka sudah berada di meja makan dan menikmati sarapan pagi yang dibuat Keyra. Suapan demi suapan Kevin melahapnya dengan semangat. "Masakan kamu selalu enak" pujinya. "Kamu selalu bilang gitu." "Emang bener kok." Keyra tersenyum mendengarnya. "Vin, aku masih nggak nyangka deh aku udah jadi istri kamu. Kita bakal menjalani kehidupan baru kita. Aku seperti terlahir kembali. Ini berasa kayak mimpi," Celetukk. "Aww.." Kevin menyentil dahi Keyra. "Sakit Kevinnnn..." omelnya. "Sakitkan? Berarti ini bukan mimpi Sayang. Makasih udah mau jadi istri aku Ra. Kamu tahu nggak betapa bahagianya aku?" "Tahu. Setinggi langit angkasa!" tebaknya. "Salah. Rasa bahagia ku kayak kuku ini nih," tunjuk Kevin. "Lah kok secuil doang?" Keyra memanyunkan bibirnya. "Belom selesai Ra. Kamu tahu kan meskipun kuku itu selalu dipotong dia bakal tumbuh lagi nggak habis-habis. Dan selalu begitu." Wajah Keyra mendadak tersipu malu, "Apaan sih gombal deh," "Suka-suka dong, kan gombalnya sama istri sendiri. Emangnya kamu mau aku gombalin cewek lain selain kamu?" "Ya enggaklah!" jawabnya cepat. Kevin terkekeh. "Oh ya, kamu berangkat kerja jam berapa?" tanya Kevin. "Jam delapan sih emang kenapa?" "Tumben. Yahh nggak bisa anter kamu dong. Meeting aku jam setengah delapan. Apa aku tunda aja meetingnya?" "Jangan dong. Kamu tuh ya mentang-mentang perusahaan milik kamu sendiri terus seenaknya. Nggak boleh. Pokoknya kamu tetep meeting. Aku bisa berangkat sendiri." Kevin menghela nafas, "Iya-iya Sayang. Lagian kenapa kamu nggak berhenti kerja aja. Aku kan sanggup biayain kehidupan kita. Emangnya kamu nggak capek ngurus rumah sambil kerja?" "Nggak kok. Aku harus bilang berapa kali coba. Aku nggak mau cuma jadi istri yang diem di rumah doang. Aku kerja juga bukan semata-mata karena uang. Aku cuma ingin mengikuti alur kehidupan." "Aku tahu. Aku juga nggak ngelarang kamu kok. Lakuin kalo itu bisa buat kamu happy. Tapi jangan sampe kecapekan. Aku nggak mau kamu sakit." "Pasti," jawab Keyra. Kevin mengangguk. "Tapi Ra.. aku bingung kamu kan desinger, kenapa malah banyak yang nawarin kamu buat model iklan baju?" "Karena aku cantik," Keyra menunjukkan wajah imutnya. Kevin terkekeh lagi, "Iyalah, secara istri Kevin Alexander gitu loh. Nah karena kamu cantik kamu nggak boleh senyum-senyum tebar pesona ke cowok lain. Ngerti?" "Asiap Mas suami!" "Ahh kamu juga nggak boleh sembarangan terima job model iklan. Kayak waktu itu, masak kamu disuruh model iklan bikini sih, enak aja tuh orang!" "Iya-iya udah, yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang mandi gih, keburu telat nanti ke kantornya. Aku mau cuci piring dulu." "Kamu juga belum mandi kan. Mending kita mandi bareng, pasti seru." goda Kevin, ia menaik-turunkan alisnya sembari tersenyum. "Dasar suami m***m! Sana ahh mandi. Jangan godain aku mulu," "Haha iya-iya Sayang. Mau aku bantuin nggak cuci piringnya?" "Nggak usah. Ini tugas seorang istri." "Good girl!" Kevin mengacak rambut Keyra. Lalu ia bangkit dari duduknya. ••••• Selesai mandi Keyra membantu memakaikan dasi pada Kevin meskipun sedikit berjinjit karena tidak sampai. Kadang Kevin suka menahan tawa melihatnya. Ia sampai berpikir apakah dirinya sangat tinggi?  Pernah sekali Kevin meledek Keyra sampai istrinya itu ngambek dan tidak mau memakaikan dasi. Dan Kevin harus berusaha keras membujuknya. "Kenapa nggak coba belajar pake dasi sendiri sih?" "Karena aku cuma pengen kamu yang pakein dasi aku," ujar Kevin. Lalu ia mencium sekilas bibir Keyra yang berjarak sangat dekat dengannya. "Kevin. Kebiasaan deh mencuri kesempatan dalam kesempitan!" "Tapi kamu seneng kan?"  "Iyalah. Mana mungkin aku nggak seneng." Keyra tertawa kemudian. Dasi pun sudah terpasang rapi di kerah kemeja Kevin. "Huuu dasar. Yaudah aku berangkat kerja dulu." "Iya. Aku anter sampe depan rumah, ayo." Sesampainya di depan rumah Kevin berpamitan lagi. Ia mencium kening Keyra dan Keyra mencium tangan kevin. Seperti halnya yang dilakukan pasangan suami-istri lain. Saat hendak masuk mobil Keyra menahan tangan Kevin, "Tunggu Vin," "Kenapa Ra?" tanyanya bingung. Tiba-tiba Keyra langsung memeluk Kevin. Kevin sempat heran, lalu ia tersenyum kemudian, "Ehemm tumbenan main peluk suami pagi-pagi gini. Kenapa?" "Ngisi energi," jawabnya. Kevin terkekeh. Gombalan dahsyat itu berhasil membuat Kevin tertawa geli. Jarang-jarang kan Keyra menggombal, wkwk. Lalu ia membalas pelukan Keyra dan menciumi pucuk kepalanya. "Kamu kalo gombal kok ngena banget sih Ra, haha. Baper nih," "Apaan sih," elaknya. Dia melepaskan pelukannya. "Udah sana kerja. Cari duit yang banyak. Hus, hus!" "Hmm iya-iya Ratu," dengusnya. Lalu kevin masuk ke dalam mobil. "Hati-hati di jalan" Keyra melambaikan tangannya. Setelah mobil Kevin melaju Keyra kembali masuk ke dalam rumah. Masih ada waktu sebelum ia berangkat kerja. Jadi Keyra memutuskan untuk bersih-bersih rumah sejenak. Setelah lulus SMA Keyra memang mengambil kuliah di bidang seni. Dan sekarang dia sudah menjadi desinger ternama. Keyra juga memiliki butik yang tersebar luas di Jakarta. Itu semua adalah hasil jerih payahnya. Keyra sangat bangga dengan dirinya sendiri. Selain itu Keyra juga sering menerima job model iklan dan tentunya yang berkaitan dengan dunia fashion. Kadang dia juga tidak menyangka padahal dulunya dia itu tomboi. Sudahlah. Yang penting karirnya sukses. Itu sudah lebih dari cukup. Pukul 07.30 Keyra sudah siap pergi ke butik. Tempatnya memang tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar 5 km saja. Sesampainya di butik Keyra disapa hangat oleh para pekerjanya. "Selamat Pagi Bu Keyra" karyawati itu menganggukkan kepalanya. "Iya selamat pagi." "Oh ya Rani, klien kemaren gimana?" lanjutnya. "Beres Bu. Mereka puas sama rancangan baju kita" jawab Rani. Rani itu sudah seperti asistennya di butik. "Ah syukurlah. Kalo begitu saya masuk dulu" "Iya silahkan," Keyra mengangguk lalu ia masuk kedalam ruang kerjanya. "Udah cantik, baik, pinter lagi" ucap salah satu karyawati disamping Rani. "Iya. Makanya gue seneng kerja sama Bu Keyra" sahut Rani. "Gue juga. Udah yuk kita kerja lagi"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN