Empat - Semua Karena Gerimis Deras

1757 Kata
Elsa : Kya, aku gak masuk kerja hari ini. Perutku melilit banget. Hari pertama haid nih.                                     Me :                                     Lohh baru juga hari kedua kok udah absen aja? Emang kamu gak diomelin? Elsa : Diomelin sih, Kya. Tapi ya perut aku melilit mau gimana lagi? Daripada gak fokus kerja kan.                                     Me :                                     Yaudah kalau gitu. Nanti aku tengokin kamu sepulang kerja ya.. Setelah aku mengakhiri percakapan dengan Elsa melalui w******p, aku segera bergegas untuk berangkat ke kantor. Kupesan ojek online untuk mengantarkanku ke tempat dimana aku bekerja. Biasanya jika berangkat bersama dengan Elsa maka kami memesan taksi online. Tetapi hari ini aku berangkat sendiri jadi aku memesan ojek online saja. Meminimalisir pengeluaran. Cuaca pagi ini sedikit mendung dan gerimis. Aku tidak mengenakan jas hujan, tidak juga menggunakan payung saat naik motor. Hanya kepalaku yang terlindung dari rintik gerimis karena kepalaku tertutup oleh helm milik ojek online yang aku tumpangi. “Mbak, ini gerimisnya bakalan gede kayaknya. Kita mau neduh dulu gak?” tanya si abang ojek online saat sudah setengah perjalanan. Aku melihat jam yang melingkar di tangan kiriku. “Duh nanti saya telat bang! Kita lanjut aja deh, berdoa aja supaya gak semakin gede gerimisnya.” “Yakin gak apa-apa nih mbak?” “Iya bang gak apa-apa!” jawabku dengan cepat. Ini hari kedua aku bekerja, jadi aku tidak mau telat sampai di kantor. Bisa-bisa nanti Pak Rayyan mengomeliku. Sesuai dengan permintaanku, si abang ojek online terus melajukan motornya melewati beberapa kendaraan roda dua lainnya yang mulai berhenti mencari tempat berteduh. Kulihat orang-orang yang menghentikan kendaraan roda duanya itu mulai sibuk mengenakan jaket atau jas hujannya. Sedangkan aku? Aku hanya berpasrah pada keadaan jika nanti aku harus sampai di kantor dengan pakaian yang sedikit basah. Sesampainya aku di depan kantor, aku turun dari motor dan melepaskan helm yang bertengger di kepalaku. Kuberikan tip lebih untuk si abang ojek karena sudah mengantarku saat cuaca kurang bagus seperti ini. Kemudian aku berlari masuk ke dalam kantor, menaiki tangga langsung menuju ke lantai tempatku bekerja. “Lohh kok kemeja kamu kayaknya basah ya?” tanya salah seorang staff wanita di ruanganku. “Iya mbak, tadi gerimisnya lumayan deras di jalan” Jawabku. “Kalau gerimisnya deras sih itu udah hujan namanya!” sahut staff wanita lainnya yang berjalan menghampiri kami. Aku hanya nyengir seperti kuda menanggapi mereka. Mau bagaimana lagi, ini hari kedua aku bekerja dan tidak mungkin aku berteduh dan telat sampai di kantor. “Eh iya dari kemarin kita belum kenalan. Kamu anak baru siapa namanya? Aku Indi, nah ini staff senior disini namanya mbak Astrid.” Mbak Indi memperkenalkan dirinya dan juga temannya yang dia sebut staff senior. Aku mengulurkan tanganku pada mereka dan memperkenalkan diriku. “Saya Kyara mbak, staff baru di divisi ini.” Mbak Indi dan juga mbak Asrid menyambut uluran tanganku bergantian. Sepertinya mereka berdua orang baik. Tidak sok senior walau mereka sudah lebih lama bekerja disini. Terutama mbak Astrid, senyumnya sangat ramah padaku, juga pada semua staff lainnya. “Pagi Kya. Pagi juga semua.” Suara Pak Kenan yang menyapa kami terdengar sangat lembut. Kami bertiga menoleh ke arah Pak Kenan dan menjawab salamnya. “Pagi juga, Pak.” Jawab kami bertiga dengan serentak. “Kya?” panggil Pak Kenan. Matanya menatapku dengan aneh. Lalu mengapa aku dibuat tersipu dengan tatapan anehnya itu? “Ini kemeja kamu basah. Kamu hujan-hujanan?” tanya Pak Kenan. “Eh anu ini pak, tadi pas jalan hujan.” Jawabku dengan sedikit gugup. “Nanti kamu bisa sakit kalau gak segera diganti kemeja kamu.” “Gak apa-apa, Pak! Imun saya kuat kok! hehehe” jawabku sambil menyengir. Pak Kenan meletakan tas yang dijinjingnya di lantai. Kemudian dia melepaskan jas yang sedang dikenakannya dan memakaikannya padaku. “Ikut saya sebentar ke ruangan Pak Rayyan. Dia belum datang kan?” tanyanya pada mbak Indi dan mbak Astrid. Mbak Indi dan Mbak Astrid menggelengkan kepalanya. “Belum datang, Pak.” Jawab mbak Indi. “Yasudah yuk Kya kamu ikut aku sebentar. Kayaknya Rayyan nyimpen kemeja di ruangannya. Kebesaran sedikit gak apa-apa ya daripada nanti kamu sakit.” Pak Kenan menarik tanganku dan mengajakku ke ruangan Pak Rayyan. Sikap Pak Kenan yang barusan tentu saja tidak terlepas dari perhatian Mbak Indi dan juga Mbak Astrid. Mereka berdua sampai melongo melihat Pak Kenan menarik tanganku begitu saja tanpa ada perasaan sungkan. Jangankan mereka berdua, aku saja terkejut mengapa Pak Kenan bisa sesantai itu menarik tanganku dan mengajakku ke ruangan Pak Rayyan. “Pak sebentar!” kuhentikan langkahku dan menarik tangannya. “Gak usah pak saya gak apa-apa pakai baju ini. Nanti juga kering kok. Makasih ya, Pak!” Pak Kenan menggelengkan kepalanya dan kembali menarik tanganku. “Saya gak mau staff baru kesayangan saya ini sampai sakit. Nanti saya jadi gak semangat kerjanya.” Jawab Pak Kenan dengan santai. Kedua pipiku mulai terasa hangat. Sepertinya pipiku ini sudah memerah karena sikap dan jawaban Pak Kenan barusan. Bahkan jantungku berdegub dengan sangat kencang. Aku bisa mendengar degub jantungku sendiri. “Permisi.” Kata Pak Kenan saat membuka pintu ruangan Pak Rayyan yang kosong. Pak Kenan melepaskan tanganku saat kami berdua sudah berada di dalam ruangan Pak Rayyan. Kemudian Pak Kenan terlihat sibuk membuka laci dan lemari yang ada di sana. Dia mencari kemeja yang mungkin disimpan Pak Rayyan di ruangannya. “Naahhh! Kya sini kamu coba kemeja ini!” Pak Kenan menunjukan sebuah kemeja lengan panjang berwarna putih. Tanpa perlu dicoba saja sudah bisa dipastikan jika kemeja tersebut sangat kebesaran untukku. “Pak Kenan, saya tetap pakai kemeja saya saja ya Pak. Nanti juga kering kok kemeja saya. Gak terlalu basah juga kan Pak!” kembali aku menolak permintaan Pak Kenan. Pak Kenan menghampiriku lalu berdiri tepat di hadapanku. “Kamu pakai kemeja Rayyan saja ya. Saya serius, kamu staff baru kesayangan saya. Jadi saya gak mau kamu sakit.” Katanya dengan suara lembut. “Ya Tuhan, kalau Pak Kenan bicara seperti itu lagi bisa-bisa aku jatuh cinta sama dia.” Kataku dalam hati. Jantungku berdegub semakin kencang. Aku hanya berharap Pak Kenan tak mendengar deguban jantungku ini. Sudah pasti wajahku sangat merah seperti kepiting rebus. Aku tak sanggup menerima kelembutan dari Pak Kenan seperti itu. Aku takut jatuh cinta padanya. “Oke Kya? Kamu ganti baju kamu di toilet.” Titahnya. Aku mengangguk pelan dan menuruti perintahnya. Kuambil kemeja putih yang diberikan oleh Pak Kenan dan ingin membawanya ke toilet. Kemudian aku baru berpikir bagaimana jika Pak Rayyan mengetahui aku memakai kemejanya? Bisa aku bayangkan wajah dinginnya menjadi marah padaku. “Pak!” aku membalikan tubuhku menghadap Pak Kenan. Aku ingin mencoba menolak lagi permintaannya padaku untuk mengganti kemejaku dengan kemeja milik Pak Rayyan ini. Namun tanpa disangka Pak Kenan malah langsung memeluk tubuhku saat aku berbalik. Tubuhku membeku. Wajahku juga sepertinya semakin memerah karena aku bisa merasakan wajahku yang memanas. Terendus olehku harus parfum Pak Kenan yang lembut namun sensual. Harum vanila dan kopi. Harumnya sangat mampu menghipnotis diriku sehingga aku sama sekali tak berusaha melepaskan pelukannya. Brraakkk! “Ngapain kalian di ruangan gue?” tiba-tiba Pak Rayyan masuk ke dalam ruangan dengan sedikit membanting pintu. Pak Kenan melepaskan pelukannya lalu menatap Pak Rayyan yang terlihat sangat marah dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dua karyawannya berpelukan, di dalam ruang kerjanya. Aku hanya mampu menundukan kepalaku. Aku tahu apa yang sudah kami lakukan itu salah - ya tentu saja salah. Kusiapkan hatiku jika memang aku harus dipecat di hari kedua aku bekerja. Pupus sudah harapanku untuk memberikan gaji pertamaku pada Mama nanti. Pak Kenan melangkah maju dan menghampiri Pak Rayyan. “Sorry Ray, gue cuma mau cari kemeja yang lu simpen buat Kyara. Tuh lihat! Kasihan kan masa dia kerja pakai baju basah gitu.” Pak Kenan menepuk pelan lengan Pak Rayyan yang kemudian langsung ditepis oleh Pak Rayyan. “Jelas-jelas gue liat lu berdua pelukan di ruangan gue! Jangan kebanyakan alasan deh Ken! Lu juga, lu baru kerja dua hari disini udah berani m***m di ruangan gue?” Jari telunjuk Pak Rayyan mengarah padaku. Tatapan matanya dingin dan penuh kemarahan. “Kyara gak salah, Ray. Gue yang duluan peluk dia.” Pak Kenan berusaha membelaku. Lagipula memang dia yang terlebih dahulu memelukku. Membuat kewarasanku hilang sementara dan hanya menerima pelukannya. “Lu juga salah Ken! Gak usah sok ngebelain nih anak baru!” tegas Pak Rayyan dengan nada suara sedikit meninggi. “Okay sekarang gini aja, kita bahas lagi masalah ini diluar jam kerja, atau sepulang kerja. Kita buat clear aja Ray. Gue sama lu udah sahabatan lama dan gue juga gak enak masa kita di ribut di kantor kayak gini.” bujuk Pak Kenan berusaha meredakan suasana yang mulai memanas. Dan dari kalimat Pak Kenan barusan aku pun tahu jika mereka berdua adalah sahabat. “Ya kan salah lu yang bikin masalah kayak gini!” kembali Pak Rayyan menyudutkan Pak Kenan. Aku masih terdiam dan menunduk diantara kedua lelaki tersebut. “Sekarang kalian berdua keluar dari ruangan saya, dan saya mau kamu Ken ajarin nih anak baru sampai benar-benar bisa dilepas besok. Pokoknya saya mau besok nih anak baru udah bisa kerja sendiri tanpa harus lu bantuin.” Titah Pak Rayyan. “Okay Ray. Ehmm Kyara, kamu silahkan keluar duluan. Jangan lupa ganti kemeja kamu ya!” Aku mengangguk dan melangkahkan kakiku keluar dari ruangan tersebut. Aku tak mampu menatap wajah Pak Rayyan. Entah harus aku taruh mana muka ku ini setelah dia melihatku dipeluk oleh sahabatnya sendiri. Semua ini terjadi gara-gara gerimis yang deras tadi. Setelah aku meninggalkan ruangan Pak Rayyan, tanpa kuketahui ternyata Pak Kenan memberitahu suatu hal yang membuat Pak Rayyan terkejut. “Ray, gue mau minta maaf. Sorry kalau lu gak suka. Tapi kali ini gue serius sama nih cewek. Gue harap lu gak terlalu marahin Kyara karena dia gak salah. Gue yang meluk dia duluan. Gue gak tahan Ray.” kata Pak Kenan pada sahabatnya itu. “Lu gila Ken! Ini di ruang kerja gue! Lagian kok lu bisa-bisanya meluk si Kyara itu sih? Apa istimewanya tuh cewek?” Pak Kenan tersenyum simpul. “Dia istimewa Ray, hati gue bilang kayak gitu.” Jawabnya. “Dan gue harap lu gak bakal naruh perasaan sama dia. Okay?” tambah Pak Kenan. “Gak mungkin gue naruh perasaan sama dia. Lu tau standar cewek yang gue mau, dan itu gak ada di Kyara. Walau dia cantik tapi tetap bukan standar gue.” Bantah Pak Rayyan. “Gue pegang omongan lu, Ray.” Kemudian Pak Kenan melangkah keluar ruangan Pak Rayyan. Meninggalkan sahabatnya itu sendirian di dalam ruang kerjanya. Dari kejadian hari inilah kisah cintaku akan dimulai. Kisah cinta yang akan menentukan kebahagiaan hidupku kelak. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN