“Hai!”
Karenina menoleh saat Aidan datang menjemputnya makan siang.
“Sebentar lagi, ya?” ucapnya tanpa mengalihkan pandang dari layar laptop.
“Udah, dong… makan dulu,” kata Aidan sambil mengecup pipinya.
“Ten minutes?” Karenina memohon.
Namun Aidan tak menghiraukan. Ia menutup layar laptop itu begitu saja, menyingkirkan pekerjaannya. “Kerjaan enggak akan ada habisnya,” ujarnya santai.
Karenina mendengus kecil. “Kita mau makan di mana?”
“Terserah kamu.”
“Kantin?”
Langkah Aidan terhenti. “Hah? Di kantin?”
“Katanya terserah aku,” Karenina menggodanya.
Aidan menghela napas panjang. Ia memang tak suka makan di kantin—bukan soal makanannya, tapi keramaian dan antrean yang kerap menguras kesabarannya.
“Tapi aku pengin makan di sana,” ujar Karenina sambil menarik tangannya.
Dengan sedikit sungutan, Aidan akhirnya mengalah.
---
Dari kejauhan, Danisa memandangi keduanya sambil tersenyum lega.
Ah, akhirnya drama mereka berakhir juga. Semuanya kembali normal. Dan perusahaan pun bisa berjalan seperti seharusnya.
Ia tak perlu lagi diliputi rasa takut perusahaan itu akan ditutup. Tempat itu adalah mimpi Karenina—dan Danisa tak sanggup membayangkan jika Aidan benar-benar menutupnya. Bisa-bisa Karenina pergi untuk selamanya, dan itu akan menjadi bencana.
Danisa membuka pesan di ponselnya yang belum sempat ia baca, lalu membalasnya.
“Dia baik-baik saja, Bin. Aku enggak bisa nyampein sekarang. Aidan baru saja jemput dia buat makan siang.”
---
Di kantin, Aidan menatap heran Karenina yang menyantap nasi Padang di piringnya dengan begitu lahap.
“Kamu beneran lapar?” tanyanya, takjub.
Karenina mengangguk dengan mulut penuh. Pemandangan itu membuat Aidan tak bisa menahan senyumnya.
“Tumben banget kamu makan nasi Padang? Enggak takut gendut?”
“Memangnya kamu takut aku gendut?”
Aidan menggeleng. “Aku enggak pernah larang kamu makan apa pun. Kamu sendiri yang selalu maksa diet.”
“Nanti malam aku mau masak makan malam. Kamu mau makan apa?”
Aidan kembali menatapnya, heran. Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba berubah?
“Hm… terserah kamu aja,” sahutnya, masih bingung.
“Seafood?”
Aidan mengangguk, senyumnya merekah.
Senyum yang lama tak dilihat Karenina.
Saat ini, Karenina benar-benar ingin melupakan Bintang. Ia tak ingin lagi memperjuangkan cinta yang hanya akan melukai banyak orang. Terlalu banyak yang telah ia korbankan. Mungkin menyerah memang jauh lebih mudah daripada terus berjuang di atas penderitaan orang lain.
---
Bintang mengangkat wajah dari layar laptop saat melihat Naira berjalan menghampirinya. Ia tertegun.
Penampilannya tak seperti biasanya. Rambutnya… wajahnya… bahkan gaun yang dikenakannya.
“Kamu… cantik sekali…” gumamnya, nyaris tak percaya.
Naira tersipu, pipinya merona. “Kamu suka?” tanyanya penuh harap.
Bintang mengangguk, lalu berdiri. “Aku pangling. Enggak biasanya kamu dandan kayak gini.”
“Aku tadi potong rambut, terus sekalian beli make up sama baju baru.” Naira memutar tubuhnya, menampilkan lekuk tubuh di balik gaun ketat itu.
“Kamu seksi sekali.”
Bintang menyentuh wajah Naira dengan lembut, membelai rambutnya, lalu pandangannya turun pada gaun yang dikenakannya. Tiba-tiba saja perasaan asing menyergapnya.
Kenapa penampilannya terasa begitu mirip Karenina?
Gaya rambutnya… warna lipstiknya… bahkan bajunya.
Sebuah deja vu yang membingungkan.
Tatapan itu membuat Naira mendadak canggung. Ini pertama kalinya ia berpakaian seksi di hadapan Bintang, dan ia tak tahu bagaimana harus bereaksi. Semua ini ia pelajari dari artikel-artikel di internet.
“Mmm… kamu mau mandi dulu atau makan dulu? Biar aku siapin,” tanyanya, berusaha menutupi kegugupan.
“Mandi dulu…”
“Oke. Aku siapin air hangatnya.”
Saat Naira berbalik, Bintang kembali menatap punggungnya, seolah mencari sesuatu yang tak ia temukan. Bayangan Karenina kembali muncul, mengusik pikirannya.
“Apa kamu mau nemenin aku mandi?” tanyanya tiba-tiba, terdorong oleh impuls sesaat.
Naira menoleh seketika, matanya membulat. Lalu ia mengangguk, wajahnya memerah.
Hatinya begitu bahagia. Akhirnya, saat yang ia nantikan tiba.
Ia memang sangat merindukan sentuhan Bintang—karena sejak kehadiran perempuan itu, ia tak pernah lagi disentuh.
---
Pagi itu, tak seperti biasanya.
Bintang masih berbaring sendirian di kamarnya. Tubuhnya enggan bergerak, meski aroma nasi goreng buatan Naira sudah menguar, menggoda inderanya. Matanya menatap kosong langit-langit, pikirannya melayang entah ke mana.
Hatinya dipenuhi kebimbangan. Sebuah kehampaan yang tak ia pahami. Ia hanya tahu, hidupnya tak lagi sama.
Ia mengembuskan napas keras, mencoba mengusir bayangan wajah yang terus mengganggu pikirannya. Ia menyangkal bahwa perempuan itu adalah penyebab kehampaannya. Bahwa dialah yang menghancurkan mimpinya dengan kenyataan pahit yang sulit ia terima.
Ironis.
Mereka saling mencintai, tapi harus menjalani hidup dengan orang yang tak mereka cintai—demi sebuah komitmen.
Sebelum kehadirannya, ia tak pernah mempertanyakan apa pun. Hidup bersama Naira terasa cukup. Ia yakin semuanya akan baik-baik saja.
Namun kini ia sadar, hidup tak cukup hanya baik-baik saja. Hatinya pun berhak bahagia.
Tapi ia harus berhenti.
Melupakannya.
Bintang meraih ponselnya, lalu kembali mengetik pesan. Pesan terakhir—sebelum ia benar-benar melupakan perempuan itu.
Pintu terbuka pelan. Wajah Naira menyembul. Bibirnya hampir bergerak, namun urung saat melihat Bintang bahkan tak menyadari kehadirannya. Matanya terpaku pada layar ponsel, jarinya sibuk mengetik.
Naira tahu kepada siapa pesan itu ditujukan.
Perlahan, ia menjauh.
---
Pagi itu di kantor, Karenina sibuk menatap layar laptop saat Danisa masuk ke ruangannya.
“Nin, ada pesan dari Bintang.” Danisa menunjukkan layar ponselnya.
“Kamu belum balikin ponselnya?” Karenina mengangkat alis.
“Dia belum masuk. Masih WFH. Kamu bilang jangan kirim ke rumahnya, takut ketahuan istrinya.”
“Kalau gitu, kamu aja yang balas pakai ponselnya,” usul Karenina.
“Kamu serius?” Danisa ragu.
Karenina mengangguk. “Tolong, Sa. Aku enggak mau bikin masalah lagi. Lima hari lagi aku nikah.”
“Oke.” Danisa mengangguk, lalu pergi.
---
Aidan tak berhenti menatap Karenina yang tengah memasak makan malam di dapur. Sudah lama rasanya ia tak melihat pemandangan itu—Karenina di dapur, memasak untuknya.
Tak ada yang membuatnya lebih bahagia saat ini, selain melihatnya kembali seperti dulu.
Meski luka hatinya belum sepenuhnya sembuh, ia sudah memaafkannya. Karenina adalah perempuan sempurna. Laki-laki mana yang tak akan tergoda olehnya?
Namun kali ini, ia tak akan membiarkan siapa pun mendekatinya lagi. Jika laki-laki pengecut itu berani membawanya pergi lagi, ia bersumpah akan menyeretnya ke penjara.
Dasar bodoh.
Dulu disia-siakan, sekarang ingin merebutnya kembali.
“Dinner ready!!”
Suara Karenina memecah lamunannya. Aidan bangkit, lalu memeluknya dari belakang dengan erat, seolah ingin memastikan perempuan itu tak akan menghilang lagi.
“I love you so much,” bisiknya.
Pelukan itu membuat tubuh Karenina menegang. Dadanya terasa sesak. Bayangan trauma itu kembali menyeruak.
“Aidan…” napasnya tertahan saat ia perlahan melepaskan tangan Aidan dari pinggangnya.
“Kita makan sekarang,” ucapnya pelan.