Aku Tak Pernah Cukup Buatmu

853 Kata
Karenina berlari ke jendela saat mendengar suara mobil berhenti di seberang rumahnya. Si penghuni misterius itu baru datang, gumamnya. Ia memperhatikan dengan saksama. Seorang pria keluar dari pintu kemudi dan membuka pagar rumah itu. Tak lama kemudian, seorang laki-laki ber-hoodie keluar dari pintu belakang mobil dan tergesa masuk ke dalam rumah. Karenina mengerutkan kening, matanya menyipit, mengamati. Jadi dia punya sopir? Rapat banget penampilannya? Kayak enggak mau ketahuan orang lain. Dan caranya jalannya... kok, mirip… “Mbak Kariiin!” Panggilan itu membuatnya tersentak. Rifan berdiri di depan pagar rumah, menenteng sebuah bungkusan. “Martabak manis buat Mbak Karin. Saya baru gajian,” ucapnya ceria sambil menyerahkan bungkusan itu. “Aduh, Mas Rifan ngasih terus. Saya enggak pernah kasih apa-apa,” ucap Karenina, menerima bungkusan itu dengan sungkan. “Loh, kemarin Mbak Karin sudah kasih saya buah-buahan mahal kiriman secret admirer itu.” Rifan mengedipkan mata, menggoda. Karenina tersenyum. “Makasih banyak, Mas. Baru pulang, ya?” “Iya. Tadi saya sempat mampir ke pos satpam, tanya soal penghuni baru itu.” Rifan melirik ke rumah seberang. “Orangnya baru datang…” bisik Karenina, refleks menempelkan telunjuk ke bibir. “Oh ya? Kok enggak ada mobilnya?” “Baru aja pergi. Tadi diantar sopir.” “Diantar sopir?” Rifan mengernyit. “Punya mobil mewah dan sopir, tapi tinggal di sini?” “Kayaknya rumah itu cuma tempat singgah aja. Dia enggak pernah kelihatan nginep.” “Mencurigakan…” gumam Rifan, menyipitkan mata. “Mas Rifan dapat info apa lagi?” “Kata Pak Satpam, namanya Pak Adi. Kerjanya jual rumah.” “Jual rumah?” “Mungkin agen properti.” “Ooh… terus?” “Cuma itu. Dia nyewa.” “Apa sudah terverifikasi?” Karenina mengedipkan mata. Rifan tertawa. “Belum kenalan.” “Kayaknya dia memang enggak mau kelihatan orang. Tadi buru-buru masuk rumah, bajunya rapat.” “Oh ya? Jangan-jangan habis perawatan wajah,” seloroh Rifan. “Mas Rifan bisa aja.” Karenina tertawa. “Oke, deh, saya balik dulu, ya. Mau mandi.” Karenina mengangguk. “Terima kasih martabaknya, Mas," ucapnya, lalu masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Namun, rasa penasaran membuatnya kembali membuka tirai jendela dan mengintip rumah seberang. Ups! Ia buru-buru menutup tirai saat sosok itu seolah tengah menatap ke arahnya. Dahinya berkerut. Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia seperti memperhatikannya? Apa dia mengenalnya? Namun pikirannya segera menyangkal. Masa penjahat punya mobil semewah itu? Pakai sopir pula. Ia mengintip lagi. Kosong. Karenina mengembuskan napas lega. Mungkin cuma perasaanku saja, batinnya, mencoba menenangkan diri. --- Naira menatap jam dinding kamar. Hampir pukul lima sore. Waktunya menyiapkan kopi dan camilan untuk Bintang. Ia memandangi pantulan dirinya di cermin. Baru selesai mandi. Wajahnya tampak segar, tubuhnya harum. Ia merapikan baju terusan longgar pemberian Mbak Mai. Kata Mbak Mai, namanya home dress. Padahal baginya, itu tetap saja daster. Mulai sekarang ia akan mengikuti saran Mbak Mai, tak boleh lagi meniru gaya Karenina. Ia harus menjadi dirinya sendiri. Naira menarik nafasnya. Mudah-mudahan Bintang suka, gumamnya sebelum melangkah keluar. Naira meletakkan dua cangkir kopi dan sepiring Apple Pie di atas meja teras, lalu duduk menunggu. Ia ingin menemani Bintang minum kopi sambil mengobrol—seperti yang diinginkannya. Meski dalam hati ia bingung. Apa lagi yang bisa ia ceritakan? Bintang sudah tahu segalanya tentang dirinya. “Hei… tumben udah rapi?” Bintang tiba-tiba berdiri di hadapannya, tersenyum. “Iya,” Naira mengangguk. “Kamu udah selesai kerjanya?” “Belum sih. Tapi mau ngopi dulu. Nanti aku lanjut habis Maghrib.” “Lagi banyak proyek, ya?” “Lumayan.” “Oh…” Naira kehabisan kata. Tanya apa lagi ya? “Baju baru?” Pandangan Bintang menelusurinya. “Iya… dikasih Mbak Mai. Kamu suka?” tanyanya gugup. “Cocok.” Hati Naira menghangat. Benar juga kata Mbak Mai. “Kamu sekarang jadi suka ngopi juga?” tanya Bintang. “Iya… kan aku harus nemenin kamu.” Bintang tertawa lepas. Tawa yang lama tak dilihat Naira. “Jadi kamu maksa ngopi demi aku?” “Aku enggak maksa, Bin. Aku ikhlas.” Tawa Bintang semakin keras. “Makasih, ya,” ucapnya. Ia menatap Naira lama. Kini ia paham, mengapa ia menyukainya—Naira selalu bisa membuatnya tertawa. “Kamu enggak harus ngelakuin hal yang sama, Nai. Mau minum teh, air putih, atau enggak minum juga enggak apa-apa.” “Enggak apa-apa, Bin. Aku sekarang udah suka kok, ngopi,” jawab Naira sambil menyesap kopinya. “Kalau gitu kamu harus coba ngopi di Batu. Ade kafe bagus dekat tempat camping. Kopinya enak, tempatnya juga nyaman banget. Kalau kamu mau, kita bisa ke sana weekend ini.” “Aku mau, Bin!" Naira berseru antusias. “Aku pengin mengenang masa-masa indah sama teman-teman kampus dulu.” Kata-kata itu menghantam d**a Naira pelan tapi dalam. “Kamu mau, kan?” tanya Bintang, matanya berbinar. Naira mengangguk, senyumnya tertahan. “Kamu pasti suka. Di sana ada hamparan bunga matahari yang indah banget…” Naira membeku. Kepalanya jatuh tertunduk, menahan air mata. Ia melihat cahaya bahagia di mata Bintang—cahaya yang terlalu terang. Namun bukan untuknya. Dan di saat itu, ia merasa sekecil apa pun usahanya, tak pernah benar-benar cukup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN