Mata Danisa membelalak, pandangannya terpaku pada Karenina yang duduk di hadapannya dengan bahu merosot. "Bulan depan?" tanyanya, suaranya tercekat tak percaya. Karenina mengangguk lesu, sorot matanya penuh keengganan yang sulit disembunyikan. "Dan Aidan mutusin itu tanpa diskusi dulu sama aku. Bahkan nanya saja enggak," keluhnya dengan nada pahit. Danisa menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang sembari menatap langit-langit kantor. "Mungkin dia takut kamu batalin lagi, Nin," ujarnya lembut, mencoba mencari alasan logis. Napas Karenina berembus pelan, sarat keputusasaan. "Ternyata dia belum benar-benar berubah, Sa..." bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Karena untuk berubah itu perlu waktu yang enggak singkat, Nin. Tapi, perubahan Aidan kan udah mulai kelihatan.

