Lantai 12 biasanya menjadi tempat Karenina merasa paling berkuasa, namun pagi ini, ruangan itu terasa seperti kotak kaca yang perlahan menyempit, menghimpit napasnya.
Aidan tidak sekadar mengantar; ia melangkah masuk dengan langkah penuh otoritas, memastikan kehadirannya meresap ke setiap sudut ruang pribadi Karenina. Ia berdiri di sana dengan ketenangan yang mengintimidasi, seolah sedang menginspeksi aset miliknya yang baru saja ia "jinakkan" dan dikembalikan ke tempatnya.
Aidan menatap sekeliling ruangan dengan tatapan yang mendominasi, sementara Karenina berdiri kaku, merasa seperti orang asing di kantornya sendiri. Kehadiran Aidan di sana adalah pesan tanpa suara bahwa tidak ada tempat yang benar-benar privat bagi Karenina. Bahkan di balik meja kerjanya sekalipun, bayang-bayang Aidan tetap membelenggu.
"Kamu benar tidak mau aku antar ke Dokter Arief dulu?" Aidan mengusap lembut bibir Karenina yang terluka. Gerakan jemarinya terasa begitu kontras—seolah sedang memeriksa retakan pada koleksi porselen kesayangannya yang baru saja ia pecahkan sendiri.
Karenina menggeleng pelan, menarik wajahnya menjauh dari sentuhan yang membakar itu. "Aku bisa membeli obat sendiri," sahutnya lirih.
Percuma saja jika Aidan membawanya ke dokter keluarga itu. Apa yang harus ia katakan nanti? Bahwa ia memar karena terjatuh? Bahwa ia menggigiti tubuhnya sendiri sampai membiru? Tidak akan ada yang percaya bahwa Aidan—pria sempurna pujaan semua orang—sanggup melakukan ini. Dunia hanya tahu Aidan sangat mencintainya, dan di mata mereka, cinta tidak mungkin melukai. Namun Karenina tahu, bagi Aidan, cinta adalah tentang kepemilikan mutlak.
"Oke. Sampai makan siang nanti, ya?" Aidan mengecup kening Karenina—sebuah segel kepemilikan yang sengaja ia tinggalkan di sana sebelum beranjak pergi.
Tak lama setelah pintu tertutup, Danisa berlari masuk dengan wajah yang pucat pasi. "Nin..."
Karenina tak menjawab. Matanya melirik tajam ke arah CCTV di sudut ruangan, memberi isyarat bahwa tembok pun kini memiliki telinga. Ia bangkit dengan tubuh yang masih terasa nyeri. "Aku mau ke toilet."
Danisa mengikutinya. Begitu pintu toilet terkunci, pertanyaan itu meledak. "Apa yang terjadi, Nin?"
Karenina langsung ambruk memeluk sahabatnya. Matanya berkaca-kaca, membendung tangis yang nyaris tumpah.
"Ya Tuhan..." Danisa menangkup wajah Karenina, jemarinya bergetar saat menyentuh bibir yang pecah dan leher yang dipenuhi jejak merah keunguan. "Ini kenapa, Nin?! Apa yang dia lakukan?"
Tanpa sepatah kata, Karenina membuka pakaiannya dengan tangan gemetar. Ia memperlihatkan sekujur tubuhnya yang kini menjadi kanvas lebam kebiruan. Tanda-tanda kepemilikan yang dipahat Aidan dengan penuh amarah di atas kulitnya.
Danisa membekap mulutnya sendiri, menahan jerit yang nyaris lolos. "Dia yang melakukan ini semua?" Suaranya bergetar hebat.
Karenina mengangguk lemah. "Dia menarikku... menggigitiku... menyetubuhiku berulang kali tanpa ampun. Sakit sekali, Sa. Dia seperti orang kesurupan." Tangis Karenina akhirnya pecah dalam dekapan sahabatnya.
"Ya Tuhan... Nin, kamu harus lapor polisi! Ini kekerasan, ini kriminal! Dia bisa dituntut!"
Karenina menggeleng dengan putus asa. "Dia sudah membuat Bintang dipecat. Dia mengancam akan menghancurkan kita semua, menutup perusahaan ini, dan mematikan langkah siapa pun yang berani membantuku."
"Tapi kamu tidak bisa menikahi monster itu, Nin! Kamu akan mati perlahan!"
"Aku harus gimana, Sa? Aku tidak punya pilihan," suara Karenina terdengar seperti bisikan kematian.
"Kamu harus pergi. Tinggalkan dia sekarang juga!" Desak Danisa.
"Ke mana? Dia mengenal semua orang, dia punya akses ke mana saja. Dia akan menemukanku."
"Bintang?"
"Aku tidak mau menyeretnya lebih dalam lagi ke dalam lubang ini."
"Cuma dia yang bisa menolongmu, Nin! Kamu belum terikat pernikahan secara sah. Kamu masih punya kesempatan untuk lari!"
Karenina terdiam. Ia tak peduli jika harus kehilangan segalanya. Ia hanya takut Aidan akan membalaskan dendamnya pada orang-orang terdekatnya.
"Jangan pikirkan aku," tegas Danisa. "Aku akan mengantarmu pada Bintang sekarang. Dia akan membawamu ke tempat aman." Danisa mengeluarkan ponselnya dengan terburu-buru. "Aku akan merekam pengakuanmu sebagai bukti..."
Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh layar, pintu toilet digedor dengan keras. Suara dentuman itu seolah meruntuhkan sisa keberanian mereka. Karenina buru-buru merapikan pakaiannya dengan napas tersenggal.
Pintu terbuka.
Aidan berdiri di sana dengan wajah sedingin es, matanya berkilat tajam menyapu ruangan. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik paksa pergelangan tangan Karenina. "Kita pulang sekarang."
Karenina mengikuti tarikan itu dengan patuh, seperti boneka yang talinya ditarik sang tuan. Ia menggeleng pelan saat Danisa mencoba menahan tangannya. Danisa hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung Karenina yang menghilang di balik lorong dengan d**a yang terasa mencelos.
***
Di apartemen, Aidan duduk terhenyak sembari mengusap wajahnya yang tampak letih. Saat ia menatap Karenina, sorot matanya dipenuhi oleh campuran antara cinta yang sakit dan keputusasaan yang dalam.
"Aku bisa menikahi perempuan mana pun yang aku mau, tapi aku memilihmu. Aku tidak pernah berpaling, aku menuruti semua inginmu. Aku memberikan dunia padamu..." Aidan menjeda, suaranya tercekat oleh emosi yang tertahan. "Kenapa, Nin? Kenapa kamu malah mengkhianatiku?"
Karenina hanya tertunduk, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang sembab. Ruangan itu terasa begitu hampa dan mencekam.
"Aku akan mempercepat pernikahan kita. Bulan depan," ucap Aidan mutlak.
Napas Karenina tertahan. Seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja dicuri.
"Kamu tidak perlu bekerja lagi. Aku akan mencari orang untuk menggantikan posisimu."
"Tolong... jangan pecat mereka..." pinta Karenina lirih, suaranya nyaris hilang ditelan ketakutan.
"Kamu selalu memikirkan orang lain. Tapi kamu tidak pernah sedikit pun memikirkan perasaanku!" Suara Aidan bergetar oleh amarah yang terluka.
Aidan kemudian merampas ponsel Karenina dan menggantinya dengan sebuah ponsel baru—tanpa akses internet, tanpa koneksi ke dunia luar. "Mulai sekarang, gunakan ini. Hanya ada nomorku di dalamnya. Aku akan mengawasimu melalui CCTV."
"Biarkan aku tinggal di apartemenku saja, Aidan. Aku mohon..." Karenina memelas.
"Turuti saja mauku, Nin. Segalanya akan kembali indah kalau kamu bersikap manis seperti dulu." Nada suara Aidan mendadak berubah dingin dan datar. "Lupakan parasit itu. Jangan menjadi penggoda suami orang. Kamu wanita, harusnya kamu paham bagaimana rasanya dikhianati."
Kata-kata itu menusuk tepat di jantung Karenina. Ia tertunduk, membiarkan air matanya membasahi karpet di bawah kakinya. Aidan menatapnya dengan kekecewaan yang mendalam, namun juga dengan binar kemenangan.
"Aku ke kantor dulu. Nanti siang kita makan di sini, aku akan membawakan makanan untukmu."
Saat pintu apartemen terkunci dari luar, Karenina menyandarkan kepalanya di sofa. Dadanya terasa sesak luar biasa. Ia menatap pintu yang tertutup itu, menyadari bahwa seluruh harapannya baru saja ikut terkunci di luar sana. Inikah takdirnya? Menikah dengan kesempurnaan semu yang merenggut nyawanya secara perlahan? Penyesalan menghantamnya bertubi-tubi—andai saja dulu ia lebih berani mengikuti kata hatinya untuk memilih Bintang.
***
"Surprise!"
Karenina tersentak. Aidan kembali dengan wajah yang mendadak ceria, seolah badai tadi malam tidak pernah terjadi. Ia menenteng sekantong ayam goreng, sesuatu tidak pernah dilakukannya.
"Aku bawakan kesukaanmu."
"Terima kasih," ucap Karenina dengan bibir yang terasa kaku saat mencoba tersenyum.
"Kamu ngapain aja dari pagi?" tanya Aidan lembut, sembari membuka bungkusan makanan.
"Nonton TV."
"Kamu harus membiasakan diri. Setelah menikah, kita akan tinggal di sini. Atau kalau kamu mau, kita bisa pindah ke rumah besar dengan halaman luas supaya kamu bisa menanam bunga. Kamu tidak perlu kerja lagi."
Karenina hanya diam, menerima kenyataan bahwa Aidan akan menghancurkan mimpi yang ia bangun dengan susah paya. Aidan ingin menjadikannya tanaman hias yang hanya bisa hidup jika ia menyiramnya.
"Makanlah yang banyak." Aidan menyuapkan potongan ayam ke mulut Karenina.
Karenina menelan makanan itu dengan susah payah, terasa seperti menelan duri. "Apa aku akan terus dikurung di sini sampai hari pernikahan?"
Aidan mengangguk. "Nanti kita hubungi Mama dan Kakakmu. Mereka pasti kaget kita mempercepat pernikahan." Aidan tersenyum, seolah ia sedang menyiapkan kejutan ulang tahun.
"Oh ya, pacarmu tadi menelepon."
Karenina nyaris tersedak, matanya mencari jawaban di wajah Aidan.
Aidan menyeringai sinis. "Tenang saja, nomornya sudah kublokir. Aku juga sudah minta Danisa mengurus kantormu untuk sementara." Aidan tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga Karenina. "Kamu harus lihat wajahnya waktu aku bilang kita akan nikah bulan depan. Dia tampak sangat... takjub."
Karenina terdiam dalam kegelapan hatinya. Ia membayangkan betapa hancurnya Bintang dan betapa ketakutannya Danisa.
"Masih sakit?" Aidan menyentuh bibir Karenina yang memar dengan ibu jarinya.
Karenina hanya bisa mengangguk pasrah.
"Maafkan aku," bisik Aidan lirih, tampak sungguh-sungguh menyesal. "Aku benar-benar hilang kendali. Aku janji, aku tidak akan menyentuhmu lagi sampai kamu benar-benar sembuh."
Karenina tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke depan. Di matanya, janji Aidan tak lebih dari sekadar benang rapuh yang siap putus kapan saja sang monster kembali terjaga.