Hati Yang Terluka

989 Kata
Sudah lewat tengah malam, namun Bintang masih tak bisa memejamkan mata. Hatinya gelisah, terombang-ambing oleh prasangka buruk sejak Danisa mengabari bahwa Karenina sudah dua hari tidak masuk kantor. Apakah dia baik-baik saja? Apakah Aidan tahu tentang pertemuan terakhir mereka? Apakah pria itu menyakitinya lagi?* Bintang menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Jika Aidan sampai menyakiti Karenina, ia bersumpah tidak akan tinggal diam. Ia akan menyelamatkannya dengan cara apa pun, bahkan jika itu berarti harus menghancurkan segalanya. Ia kembali membuka ponsel, berharap Karenina membalas pesan terakhirnya. Namun, pesan itu bahkan belum dibaca. Kekhawatirannya kian membuncah. Tak lagi mampu menahan resah, Bintang bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah pelan menuju pintu kamar, membukanya dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Naira. Namun, suara pintu yang terbuka, sekecil apa pun, tetap berhasil membangunkan istrinya. Mata Naira mengerjap. "Mau ke mana, Bin?" tanyanya dengan suara berat khas orang mengantuk. "Mau ambil minum," jawab Bintang singkat, berusaha menjaga nada suaranya tetap datar. "Bukannya itu minuman kamu?" Naira menunjuk botol di samping tempat tidur. Bintang tertegun sejenak. "Maksudku… aku mau minum teh hangat." "Mau aku buatkan?" Bintang buru-buru menggeleng. "Enggak usah. Aku bisa sendiri. Kamu lanjut tidur saja," katanya sambil memaksakan senyum. Naira menutup mata kembali, meski samar keraguan masih tersisa di wajahnya. Bintang akhirnya membuat teh panas di dapur, menjaga sandiwaranya tetap rapi. Di meja makan, di bawah cahaya temaram, ia memainkan gelas tehnya sambil termenung. Pandangannya kosong. Ia kembali mengetik pesan, berharap kali ini ada balasan dari balik tembok tinggi apartemen Aidan. Di balik pintu yang sedikit terbuka, Naira diam-diam mengamati suaminya dari jauh. Kedua matanya berair. Ia tahu siapa yang sedang dikirimi pesan oleh Bintang. Ia tahu siapa yang membuat suaminya gelisah hingga tak bisa tidur nyenyak selama dua hari terakhir. Perih itu menusuk hatinya hingga ke tulang. Naira menutup pintu perlahan, kembali ke ranjang, dan memejamkan mata. Namun, air matanya tetap mengalir. Tubuhnya bergetar menahan sakit yang tak bisa lagi ia suarakan. *** Di apartemen Aidan yang luas, udara terasa menghimpit. Wajah Karenina sembab, sisa-sisa sesak napas dari kejadian sebelumnya masih terasa di dadanya. Di hadapannya, Aidan duduk dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Jangan menangis lagi, Nin," ucap Aidan datar. "Kamu yang meminta Mamaku datang, kan?" tanya Karenina, suaranya serak. Aidan mengangguk pelan. "Mama tahu semuanya?" "Mama harus tahu." Suara Aidan dingin, tanpa penyesalan. "Kamu jahat, Aidan." "Kamu yang mengkhianatiku," balas Aidan, tatapannya membeku. "Aku tidak mencintaimu!" "Aku tidak peduli lagi." Jawaban itu bagai pisau yang menembus d**a Karenina. "Kamu tidak mencintaiku, Aidan… kamu hanya terobsesi padaku." Karenina mencari celah, berharap ada sisa nurani yang bisa ia sentuh. Aidan menghela napas, ada nada keputusasaan yang gelap di suaranya. "Sebanyak apa pun aku mencintaimu, kamu tidak pernah peduli." "Tinggalkan aku… Kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku," pinta Karenina, tatapannya memohon. "Aku hanya menginginkanmu." Karenina terisak. Ia menyadari Aidan sedang menggunakan kelemahan terbesarnya—sang Mama—untuk membalas sakit hati. Ini adalah hukuman yang direncanakan dengan sangat kejam. Aidan tidak melibatkan keluarganya sendiri; ia hanya ingin menghancurkan dunia Karenina dari dalam. Suara bel pintu berbunyi. Jantung Karenina seolah berhenti berdetak. Saat yang dinantikan Aidan telah tiba—saat penghakimannya. Karenina memejamkan mata saat mendengar langkah kaki mendekat. PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Karenina, membuat seluruh tubuhnya terguncang. "Maah!" Karenina menjerit, suaranya tersedak. Ia menyentuh pipinya yang terasa panas dan perih. Wanita itu berdiri di hadapannya dengan sorot mata penuh amarah dan kekecewaan. "Susah payah kami membesarkanmu, menyekolahkanmu agar menjadi wanita terhormat… tapi kamu malah membuat malu keluarga! Kamu mencoreng wajah Mama! Apa yang ada di otakmu, Nina?!" Karenina belum pernah melihat ibunya semarah ini. "Maafkan Nina, Ma..." "Kamu memakai rumah Mama untuk berselingkuh! Kamu keterlaluan! Kamu perempuan, seharusnya kamu mengerti rasanya jika suamimu direbut perempuan lain. Apa kamu mau itu terjadi padamu?" Mama menarik napas berat, matanya berkaca-kaca. "Andai saja Papamu masih hidup… dia akan menamparmu lebih keras dari ini!" Karenina tertunduk, malu dan sesal bercampur menjadi satu. "Kenapa, Nina? Kamu sendiri yang memilih Aidan. Kamu yang meminta Mama menerima lamarannya. Aidan sudah memberikan segalanya padamu. Apa lagi yang kurang? Mau ditaruh di mana muka Mama kalau orang tua Aidan sampai tahu?" Wanita itu terduduk lemas, seolah seluruh kekuatannya telah luruh. "Maah… maafkan Nina…" Karenina meraih tangan ibunya, namun Mama menepismya. "Pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, dan kamu malah membuat ulah," isak Mama. "Mama minta tolong, Nina... Jaga nama baik keluarga Aidan. Mereka orang-orang terhormat. Kalau sampai Mama mendengar kamu mengulanginya lagi, Mama tidak akan menganggapmu anak lagi," ucap ibunya tegas dan menusuk. Karenina hanya bisa menunduk. Ia sadar, di mata Mamanya, dia bukan sekadar anak, tapi simbol kesuksesan keluarga yang kini terancam runtuh. Ia selalu menjadi kebanggaan. Namun, Mama tidak tahu apa yang telah dilakukan Aidan padanya. Mama tidak tahu bahwa "aset" yang ia banggakan ini sebenarnya sedang hancur perlahan di tangan pria yang ia puja-puja. "Mama akan di sini beberapa hari untuk mengawasi persiapan pernikahan kalian. Kamu harus menurut pada Aidan. Dia calon suamimu. Belajarlah menghormatinya." Setelah ibunya pergi untuk menginap di hotel, Karenina terduduk hampa. Aidan mendekat, mengusap pipi Karenina yang memerah. "Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin Mama menyalahkanku jika terjadi sesuatu padamu nanti," ucap Aidan dengan nada penuh kepalsuan. Karenina menepis tangan itu. "Kamu hanya ingin menghukumku, Aidan. Karena kamu belum puas menyakitiku." "Kamu yang memulai semua ini," balas Aidan dingin. "Aku membencimu!" "Kamu akan kembali mencintaiku." Karenina menggeleng lemah. "Aku tidak mengenalmu lagi. Kamu bukan Aidan yang dulu." "Kamu yang membuatku berubah." Karenina menatapnya putus asa. "Lepaskan aku, Aidan. Ambil kembali semua yang pernah kamu berikan." Aidan mendekat, mengunci tatapan Karenina dengan kegelapan yang pekat. "Apa kamu pikir semudah itu? Apa kamu pikir ini hanya tentang harta? Bisakah kamu mengembalikan waktu dan energi yang kukorbankan demi mencintaimu? Bisakah kamu mengembalikan hatiku yang telah kamu lukai? Kepercayaanku yang kamu khianati? Harga diriku yang kamu rendahkan?" Aidan menjeda kalimatnya, suaranya merendah namun sangat mengancam. "Ini bukan lagi tentang cinta, Nina. Ini tentang mimpi yang telah kamu hancurkan hingga berkeping-keping. Dan kamu harus membayarnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN