Danisa melangkah cepat, napasnya memburu pelan, menembus lorong dan meluncur ke halaman parkir belakang gedung kantor yang lengang. Matanya menyapu sekeliling, hingga akhirnya tertumbuk pada siluet mobil putih yang sudah dikenalnya.
Ia langsung melesat masuk. Di balik kemudi, Bintang menoleh. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Aku enggak bisa lama, Bin. Nanti Nina nyariin,” ucap Danisa, masih sedikit terengah.
“Enggak akan lama, Sa. Aku cuma mau nanya sesuatu.” Bintang menurunkan kaca jendela, membiarkan semilir angin sore masuk ke dalam kabin.
Danisa mengernyit. “Mau nanya apa, sih? Sampai harus ketemuan segala? Kayak mau transaksi rahasia aja.” Nada jengkelnya bercampur rasa ingin tahu.
“Karena aku mau kamu jawab sejujurnya,” ujar Bintang tegas, tatapannya tak bergeser.
“Jawab apa?” Danisa balik menatap. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia tahu alasannya.
Bintang mencondongkan tubuh sedikit, sorot matanya dalam, seolah ingin membaca setiap pikiran di balik wajah Danisa.
“Apa Nina balikan lagi sama Aidan?”
Seketika Danisa tergelak. “Ya, Tuhan! Jadi kamu cuma mau nanya itu sampai seribet ini? Udah kayak mau transaksi narkoba aja.” Ia menggeleng-gelengkan kepala.
“Ini penting buatku, Sa.” Wajah Bintang mengeras.
Danisa menghela napas panjang. Senyumnya perlahan memudar. Ia tahu Bintang tidak bercanda.
“Emangnya kamu tahu dari mana mereka balikan?”
“Aku lihat mereka meeting bareng Bu Sita kemarin.”
“Bin, meeting berduaan itu wajar. Mereka sama-sama pemilik perusahaan,” sahut Danisa, mencoba terdengar santai, meski ada keraguan yang ikut menyusup di dadanya.
“Tapi mereka kelihatan mesra, Sa.” Mata Bintang menyipit. “Jalan sambil gandengan tangan. Enggak mungkin kalau cuma urusan kerja.”
Danisa tersenyum tipis, menggoda. “Kamu cemburu, ya?”
Wajah Bintang sedikit memerah. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela. “Aku cuma tanya,” gumamnya.
“Aidan memang pengin balikan,” aku Danisa akhirnya, nadanya berubah serius. “Tapi Nina lagi fokus sama perusahaannya. Dia enggak mau mikirin yang lain dulu.”
Mata Bintang melebar. “Berubah kayak apa?”
“Dia lagi berusaha nyembuhin dirinya. Konsultasi ke psikolog.”
“Oh ya?” Bintang menoleh, ragu tak bisa disembunyikan.
Danisa mengangguk. “Yang jelas, Nina enggak akan kembali sebelum dia benar-benar berubah.”
“Jadi dia memang niat balikan?” Suara Bintang merendah, rapuh, seolah ada harapan yang baru saja retak.
“Apa salahnya kalau memang Aidan bisa berubah?” Danisa menimpali. “Semua orang berhak dapat kesempatan kedua.”
Sunyi menyergap kabin mobil. Bintang menatap lurus ke depan, pikirannya berkelana.
“Kamu percaya sama Aidan?” tanyanya pelan.
“Aku percaya orang bisa berubah.” Danisa menyentuh bahu Bintang, berusaha menenangkan.
“Kamu yakin Nina bakal bahagia?” Suara Bintang bergetar.
“Bin…” Danisa menatapnya sungguh-sungguh. “Sekarang dia lebih kuat dari yang kamu kira. Dia akan baik-baik saja.”
Bintang menarik napas dalam-dalam. d**a kirinya terasa sesak. Ada sesuatu yang luruh pelan di dalam dirinya—seperti potongan perasaan yang akhirnya benar-benar dilepas. Hampa. Menyakitkan.
“Lupain dia, Bin,” ucap Danisa lembut.
“Aku pengin ketemu Nina. Sekali aja.” Tatapan Bintang memohon.
Danisa menggeleng pelan. “Nina enggak mau ketemu kamu lagi.”
“Please, Sa. Aku enggak bisa hubungi dia tanpa bantuan kamu. Dia nutup semua akses.” Suara Bintang nyaris putus.
“Tapi buat apa, Bin? Dia udah enggak mau berhubungan lagi sama kamu.”
“Aku cuma mau pamit. Buat terakhir kali. Biar semuanya selesai baik-baik.”
“Tapi dia—”
“Tolong, Sa… sebelum aku balik ke Malang. Biar aku juga bisa jalanin hidupku dengan tenang.” Mata Bintang berkaca-kaca.
Danisa terdiam. Wajah Bintang yang remuk akhirnya melunakkan hatinya.
“Aku coba. Tapi enggak janji,” ucapnya tegas.
Senyum tipis muncul di wajah Bintang.
---
Di ruang kerjanya, Karenina menatap layar ponsel. Menunggu nada sambung dari nomor yang ia hubungi. Tak ada jawaban. Ia menekan interkom.
“Sa, tolong tanyain ke Bu Nora, Aidan ada di kantor enggak? Ponselnya enggak bisa dihubungi dari pagi.”
Tak lama, Danisa masuk. “Aidan enggak masuk, Nin. Katanya sakit.”
“Sakit lagi?” Alis Karenina berkerut.
“Katanya kemarin dia di kantor sampai malam. Mungkin kecapekan.”
Karenina menghela napas panjang. Sejak mereka berpisah, hidup Aidan memang jadi tak teratur.
“Nanti sore aku tengokin.”
“Oh ya, Nin…” Danisa ragu sejenak. “Bintang sempat hubungi kamu enggak?”
Karenina mengangkat wajahnya. Tatapannya mengeras.
“Buat apa? Aku kan udah bilang enggak mau lagi berhubungan sama dia.”
“Kamu benar-benar enggak mau ketemu?”
Karenina menatap Danisa tajam. “Dia yang minta kamu, ya?”
Danisa mengangguk. “Dia lagi di Jakarta. Katanya cuma mau pamit baik-baik.”
“Pamit?” Suara Karenina meninggi, penuh luka yang tertahan. “Ke mana dia waktu aku ninggalin pernikahanku? Kenapa sekarang baru muncul? Buat apa pamit segala?”
Danisa terdiam. Ia sudah menduga jawabannya.
“Enggak apa-apa kalau kamu enggak mau. Nanti aku sampaikan.”
Ia berlalu, meninggalkan Karenina sendirian dengan dadanya yang naik turun.
Apa sebenarnya maumu, Bin? Hati Karenina bergolak.
---
Malam itu, Karenina membuka pintu apartemen Aidan.
“Aidan?” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Ia melangkah ke kamar.
Aidan tertidur pulas. Dadanya naik turun teratur, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Ada rasa kasihan yang menyelinap di hati Karenina—bukan karena cinta, tapi karena ia tahu, di titik ini, Aidan benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
Karenina melangkah keluar.
Di meja makan, sisa makanan delivery masih tergeletak.
“Ratih ke mana?” gumamnya.
Ia mengetuk kamar pelayan. Saat tak terdengar sahutan, ia membukanya— Kosong.
Aidan pasti sudah menyuruhnya pulang.
Karenina menatap jam tangannya. Pukul tujuh malam.
Ia menuju dapur. Mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas. Menyalakan kompor.
Tangannya langsung bergerak, sementara pikirannya melayang.
Ia tak tahu kenapa ia masih di sini. Tak tahu kenapa ia masih peduli.
Yang ia tahu, malam ini, tak seharusnya Aidan sendirian.