Karenina menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Lalu menarik nafas berulang kali untuk menenangkan ombak di hatinya yang mengguncang ketegaran yang baru saja ia bangun.
Ia mengira cukup mampu menghadapi kenyataan bahwa cintanya pada Bintang memang hanya untuk dikenang. Dan ia mengira bahwa Bintang mempunyai rasa yang sama. Bahwa dia menahan kerinduan yang sama. Bahwa dia terpaksa harus menjalani cinta yang lain karena jalan diantara mereka begitu sulit untuk dilalui.
Tapi ternyata... cintanya hanya selintas rasa. Dirinya hanyalah tempat singgah tanpa makna. Bahkan kenangan indah mereka pun tak berarti apa-apa buatnya. Bunga Matahari hanyalah sekedar bunga. Tempat pavorit mereka hanyalah tempat biasa yang siapa pun bisa dibawanya ke sana. Kemesraan yang ia pamerkan bersama perempuan itu adalah sebuah pengakuan: dia memilihnya.
Ia memang bodoh karena begitu mempercayainya. Harusnya ia menyadari mimpi mereka berbeda. Mungkin dulu dia pernah menganggapnya istimewa tapi setelah sekarang dia menganggapnya tak cukup berharga. Karena memang ia tak punya apa-apa lagi. Bahkan harga diri pun telah ia gadaikan pada Aidan.
Karenina menghela nafasnya yang semakin sesak. Hatinya merintih pilu. Ia tak pernah menyangka Bintang akan melakukan ini padanya. Dia dan perempuan itu sudah membuatnya meninggalkan pernikahannya. Dan kini setelah semuanya hancur, dia pergi begitu saja dari hidupnya. Meninggalkan luka yang makin menganga.
...
Aidan menatap Karenina yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk saladnya tanpa menyentuhnya. "Kamu kenapa?" tanyanya, mencoba memecah keheningan.
Karenina menggeleng. "Enggak apa-apa," sahutnya.
"Tapi kamu kelihatan kesal dari tadi?"
"Lagi banyak kerjaan aja," Karenina menjawab singkat, pandangannya kosong.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Nin. Nanti kamu kecapekan." Nada Aidan penuh perhatian.
Jari Karenina mencengkeram garpu erat. “Apa pedulimu, Aidan?!” Suaranya tiba-tiba meninggi, mengagetkan Aidan.
"Nin?!" Aidan terkesiap. "Kamu kenapa?"
Namun, bukannya menjawab, Karenina malah bangkit dari duduknya. "Aku mau ke apartemen yang kamu hancurkan itu. Ada barang-barangku yang mau aku ambil," sahutnya, lalu pergi meninggalkan restoran.
Aidan tertegun, bingung mendapati sikap Karenina yang tak seperti biasanya. Seolah tersadar, ia mengejarnya. "Tunggu, Nin!"
"Aku masih pegang kuncinya, Aidan. Kamu enggak perlu temani aku."
Karenina mempercepat langkahnya.
"Enggak baik nyetir dalam keadaan marah. Aku antar kamu."
Karenina menyerah.
Di dalam mobil, Aidan menahan diri untuk tidak bertanya lagi, meski ia sangat penasaran. Ia sedang melatih diri untuk menahan kesabaran, karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Mata Karenina terbelalak saat ia membuka pintu apartemen. Pemandangan di hadapannya membuatnya terguncang. Ia tak percaya tempat yang belum lama ia tinggalkan kini hancur berantakan seperti diterpa badai topan. Kursi-kursi dan meja-meja terbalik, televisi dan barang elektronik lainnya pecah berserakan di atas lantai. Benda-benda lainnya sudah tak berada di tempatnya semula.
Perlahan, ia berjalan menyusuri puing-puing kehancuran, masuk ke dalam kamarnya.
Ia terguncang, memandangi kehancuran di depannya yang bak tersapu angin p****g beliung. Hancur tak berbentuk lagi.
Karenina menarik napasnya yang sesak, mencoba menahan amarah yang meluap ingin keluar. Entah apa yang merasuki Aidan saat itu hingga membuat kehancuran yang tak pernah ia bayangkan.
Karenina bergidik, membayangkan seandainya saat itu ia ada sini. Mungkin nasibnya akan sama seperti lukisan dirinya yang tercabik-cabik dan terlempar di sudut ruangan.
"Aku akan memperbaikinya nanti. Don't worry!"
Suara Aidan memecah keheningan, dan membuat Karenina semakin meradang. Bagaimana mungkin dia bisa dengan entengnya mengatakan itu? Apakah dia mengira dengan uang yang dimilikinya dia bisa melakukan apa saja sesuka hatinya?
"Terserah! Apartemen ini kan, kamu yang beli. Aku cuma mau bawa barang-barangku yang tertinggal," sahut Karenina seraya membuka laci lemari dan mengeluarkan isinya.
"Maafin aku..."
"Sudahlah, Aidan, jangan terus menyesalinya. Kamu melakukannya dengan sadar." Karenina menyahut acuh, tanpa menoleh.
"Aku tahu kamu marah."
"Memangnya aku harus gimana? Tertawa?" Karenina menatap sinis, matanya menyala.
"Aku menyesal, Nin!"
"Sesalmu tidak mengubah keadaan."
"Aku tahu... Tapi paling tidak aku sedang berusaha untuk berubah. Dan aku juga berharap kamu mau berubah."
"Berubah? Aku harus gimana lagi, Aidan?" Karenina menatap tajam kedua mata Aidan, suaranya bergetar menahan ledakan. "Apa kamu tidak sadar kalau selama ini kamu yang sudah merubahku? Kamu sudah menjauhkanku dari teman-temanku. Kamu mengatur hidupku dari pagi sampai malam? Kamu yang menentukan apa yang pantas aku pakai dan apa yang tidak? Dan kamu bahkan merubahku menjadi pelayan nafsumu yang selalu siap kapan saja kamu menginginkannya. Aku sudah memberikan kehormatanku! Jiwaku! Harga diriku! Dan sekarang kamu masih memintaku untuk berubah?!"
Amarah Karenina meluap bagaikan letusan gunung yang menumpahkan semua lava panas di dalamnya. Ia menatap Aidan dengan mata berkaca-kaca. Napasnya tersengal dan bibirnya bergetar.
Ia berlari, seolah jika berhenti satu detik saja, ia akan runtuh.
Aidan terpaku. Lidahnya kelu. Ia tak percaya apa yang didengarnya. Ia seperti tengah bermimpi buruk. Tapi ini begitu nyata. Ia tak mengerti apa yang terjadi pada Karenina. Apa yang membuatnya begitu murka hingga kata-kata yang dilontarkannya begitu menyakitkan hatinya. Apakah itu yang selama ini dia rasakan? Apakah ia seburuk itu di matanya? Apakah dia tak pernah merasakan sedikit pun kebahagiaan saat bersamanya?
Aidan menjatuhkan tubuhnya ke lantai yang dingin, di tengah-tengah puing yang ia hancurkan. Air matanya jatuh menetes, bersama kepingan-kepingan asa yang baru saja ia rangkai. Kata-kata Karenina menggema di telinganya, meruntuhkan kepercayaan dirinya. Apakah ia harus menyerah?