Bintang membuka mata saat wajahnya terasa hangat oleh cahaya matahari pagi yang menembus kaca jendela. Sejenak ia mencoba mengingat mengapa ia tertidur di atas sofa di ruang tamu rumahnya. Tersadar, ia beranjak bangun dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Kosong.
Naira pergi.
Tubuhnya jatuh di atas kasur. Sia-sia saja ia memohon dan membujuknya semalaman agar tidak meninggalkannya. Luka hati Naira terlalu dalam. Ia tak mampu membuatnya bertahan.
Bintang menghela napas berat. Apakah dia akan pergi selamanya? Ketakutan itu mendadak mencekiknya.
Ia segera memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas besar. Ia akan menyusulnya.
Namun saat hendak melangkah pergi, matanya terpaku pada ponsel lamanya yang tergeletak di atas meja. Mengapa Naira meninggalkannya? Bukankah semalam ia mengatakan ingin menyimpannya sebagai bukti yang akan ditunjukkan kepada kedua orang tuanya? Firasat buruk menyergapnya.
Dengan jantung berdebar, ia membuka aplikasi perpesanan di ponsel itu. Tubuhnya seketika kaku. Tangannya gemetar hebat saat mendapati semua foto dan percakapan antara dirinya dan Karenina telah terkirim ke nomor Aidan.
Mengapa kamu melakukannya, Nai? Mengapa kamu tak mempercayaiku?!
Bintang menjerit tanpa suara.
Dengan tangan gemetar, ia memutar sebuah nomor.
“Tolong angkat, Nin!” teriaknya, suaranya tercekat.
Tak ada jawaban.
Ia mencoba nomor lain. Tetap sunyi.
“Di mana kamu, Sa…?”
Dengan panik, ia menuliskan pesan untuk Danisa lalu bergegas keluar rumah dan masuk ke mobil.
Stasiun kereta sudah dekat saat Bintang tiba-tiba menghentikan mobilnya. Tak ada kabar dari Danisa maupun Karenina. Apakah pesannya tak sampai? Atau… Aidan—
Bayangan buruk menyeruak. Dengan panik, Bintang memutar arah mobilnya.
---
Sementara itu, di dalam sebuah kamar hotel, Danisa sibuk membantu Karenina bersiap di hari pernikahannya. Wajah Karenina telah dirias cantik. Ia hanya tinggal mengenakan gaun pengantinnya.
“Kamu sudah siap?” Danisa menatapnya ragu, mencari kepastian.
Karenina mengangguk sambil menampilkan senyum bahagia—sebuah topeng sempurna untuk meredam kegelisahan sahabatnya.
Danisa tersenyum melihat Karenina begitu anggun dalam balutan gaun putih. “Kita foto dulu, ya. Ini akan jadi foto terakhir kita sebelum kamu menjadi Nyonya Aidan,” ucapnya sambil meraih ponsel.
Namun ia mendadak membeku. Matanya membelalak menatap layar.
“Ada apa, Sa?”
Dengan tangan gemetar, Danisa menunjukkan pesan itu. Pesan dari Bintang.
“Kamu harus pergi sekarang juga, Nin. Sebelum Aidan datang!”
Karenina membaca pesan itu dengan bibir bergetar. “Naira mengirimkan semua itu ke Aidan?” tanyanya tak percaya. Dadanya serasa dihantam palu.
“Dan semua percakapan kalian…” Danisa menambahkan lirih.
“Kenapa dia tega sekali?” Air mata Karenina menggenang.
“Tinggalkan pernikahan ini, Nin!” Danisa mendesak.
“Enggak, Sa!” Karenina menggeleng keras.
“Please, Nin! Selamatkan dirimu!”
“Aku enggak bisa, Sa…” Air matanya jatuh.
“Demi Tuhan, kali ini dia tidak akan memaafkanmu. Dan kali ini mungkin kamu enggak akan selamat!”
“Enggak, Sa!!”
“Dia akan membunuhmu, Nin!!”
“Aku enggak bisa…” isak Karenina, tubuhnya kaku.
“Pergilah, Nina.”
Suara itu membuat mereka tersentak.
“Mama…” Karenina menoleh tak percaya.
“Pergilah sekarang. Sebelum terlambat. Sebentar lagi Aidan dan orang tuanya sampai,” ucap Mama tegas, namun cemas.
“Tapi, Mah—”
“Pergilah!” Sorot mata Mama tajam. “Cepat. Tinggalkan pernikahan ini. Kita bicara nanti.”
Karenina memeluk Mama dengan air mata berderai. “Maafkan Nina, Mah…”
Mama membalas pelukan itu. “Pergilah. Jangan khawatirkan Mama.”
“Kita ke mana, Sa?” Karenina mengangkat gaunnya sambil terseret masuk ke mobil. Napasnya tersengal, wajahnya pucat oleh cemas.
“Ke tempat aman.” Danisa langsung menyalakan mesin.
Mobil melesat, meninggalkan hotel di belakang mereka.
Karenina menoleh ke belakang. Ketakutan masih mencengkeram wajahnya. Namun di sela detak jantung yang berisik, ada kelegaan kecil—rapuh, tapi nyata—yang perlahan menyusup ke dadanya.
---
Kota Malang.
Di meja makan, Naira menatap Soto Ayam di hadapannya tanpa menyentuhnya. Dadanya terasa kosong, hampa, seolah ada yang runtuh di dalam dirinya. Keputusan yang ia ambil dengan emosi kini berputar-putar di kepalanya.
Apakah ia benar?
Lalu mengapa rasanya sesakit ini?
“Loh, kok sotonya ndak dimakan? Apa kurang enak?”
Naira tersentak. Seorang wanita paruh baya berdiri di hadapannya dengan sepiring mendoan hangat.
“Enak, Mah… aku cuma nunggu,” jawabnya cepat.
“Nunggu siapa?”
“Bintang…”
Mama tersenyum kecil. “Mana suamimu? Katamu cuma beda kereta.”
Naira menunduk. Sesak itu kembali menekan dadanya.
Ia sempat mengira Bintang akan menyusulnya. Tapi mungkin cintanya memang tak cukup untuk membuatnya dipilih.
Sekarang Bintang pasti kembali pada perempuan itu. Tak ada lagi penghalang diantara mereka.
Ia merasa sangat bodoh telah melakukannya tanpa berpikir panjang. Padahal ia hanya ingin membuat perempuan itu merasakan apa yang ia rasakan dengan menghancurkan pernikahannya. Bodoh sekali, sesalnya.
“Nai… ada apa? Kalian bertengkar?” tanya Mama lembut melihat gurat kesedihan di wajah putrinya.
Naira menatap Mama dengan mata berkaca-kaca. Mama memang tidak bisa dibohongi.
"Cerita, Nai..."
Naira menghela napasnya dengan berat. Sudah saatnya ia mengatakannya sekarang. "Bintang sudah..." Naira berhenti.
Bintang berdiri, tersenyum padanya.
"Sudah kenapa, Nai..." Mama mendesak lagi.
"Aku sudah datang, Mah." Ucap Bintang menginterupsi.
Mama menoleh, terkejut. "Oalaaah, ternyata Mama kira kalian bertengkar."
"Kami baik-baik saja," ucap Bintang, tersenyum menatap Naira. Senyum penuh arti, sebuah janji yang menegaskan pilihannya.
Naira menarik napas lega. Hilang sudah semua keraguannya. Kini ia tak peduli lagi tentang cinta. Karena baginya cinta tak ada artinya jika tak bisa saling memiliki. Dan sekarang Bintang adalah miliknya. Dia memilih bersamanya.
Sebuah kemenangan yang terasa pahit, namun cukup.