Aidan menatap Karenina yang masih terpaku sejak mereka tiba di apartemen sore tadi. "Akhir pekan besok kita ke Bali, ya? Liburan. Sekalian ketemu Mama dan Kakakmu."
Karenina menggeleng cepat.
"Dari kemarin mereka nanyain kamu. Udah lama enggak ketemu. Mamamu kangen," Bujuk Aidan, jemarinya lembut membelai rambut Karenina.
Karenina kembali menggeleng. Ia tak percaya lagi pada Aidan. Mama adalah kelemahannya. Aidan pasti sudah menceritakan semuanya. Dia sengaja mengatur itu, agar Mama dan Kak Martin bisa menghakiminya. Menyalahkannya.
"Kenapa kamu laporin Bintang ke polisi?" tanya Karenina, suaranya tercekat. Entah mengapa ia harus menanyakannya, padahal sudah tahu jawabannya.
"Dia menculikmu..." jawab Aidan tenang.
"Kamu jahat... kamu tahu itu bukan penculikan," suara Karenina bergetar menahan emosi.
"Kalau aku jahat, aku akan suruh polisi menangkap dia. Naira memintaku mencabut tuntutan. Aku melindunginya, Nin. Seperti aku melindungimu."
Air mata Karenina jatuh, bersama seluruh harapannya.
"Izinkan aku bekerja lagi, Aidan," pinta Karenina, suaranya tercekat. "Kamu sudah melaporkan Bintang ke polisi. Dia tidak akan berani menemuiku lagi."
"Untuk apa, Nin? Sudah ada Danisa yang mengurus. Kamu enggak perlu repot kerja."
"Tapi aku bosan. Please, Aidan... Aku enggak akan ke mana-mana lagi. Aku akan menunggu pernikahan kita. Aku akan melakukan apa saja yang kamu minta, asal izinkan aku kembali ke perusahaan." Ia berusaha menyentuh sisi lembut Aidan, entah masih ada atau tidak.
Aidan menatapnya sungguh-sungguh, seolah menimbang untung rugi. "Kamu akan menuruti apa pun keinginanku?"
Karenina mengangguk hampir tak terlihat. "Please, Aidan..." Ia menatap Aidan dalam-dalam, mencoba meluluhkan hatinya.
"Oke... dengan syarat..."
Karenina menatap cemas. Persyaratan Aidan selalu seperti jebakan tersembunyi.
"Aku tetap nomor satu. Pekerjaanmu nomor dua. Kamu tidak boleh menolak kapan pun aku meminta waktumu."
Sejenak Karenina terdiam, memikirkan konsekuensinya. Ia tahu persyaratan itu akan membuat Aidan semakin semena-mena, semakin menguasai setiap detik hidupnya. Tapi itu tetap lebih baik daripada hanya terkurung dalam apartemen tanpa daya. Akhirnya, ia mengangguk. "Tapi tolong kembalikan ponselku."
"Sudah rusak. Aku akan belikan lagi nanti."
Mata Karenina menyala menahan geram. Ia beringsut pergi, masuk ke kamar mandi. Mengambil ponsel dari Bintang yang ia sembunyikan di sana. Ia akan mengabarinya, memintanya untuk tidak mengkhawatirkannya lagi. Tidak perlu menghubunginya lagi.
Saat ponsel menyala, sebuah pesan dari Bintang masuk:
"Maaf, aku tak bisa menjagamu. Aidan meminta Naira memanggilku. Tolong katakan apakah kamu baik-baik saja."
Air mata Karenina menetes. Ia membalas pesan itu, lalu mematikannya dengan cepat saat terdengar langkah di balik pintu kamar mandi.
Pintu terbuka.
Aidan masuk, langsung memeluknya dari belakang. Dan mulai menciuminya. "Aku mau mandi bareng kamu."
Karenina hanya bisa menahan air mata, menahan rasa lelah yang menghimpit. Aidan bahkan tak memberinya waktu sejenak untuk beristirahat. Kini ia menyadari—Aidan tidak pernah benar-benar mencintainya, dia hanya terobsesi.
Di bawah pancuran, Karenina Aidan menguasai tubuhnya. Matanya terpejam, membayangkan Bintang.
***
Di rumahnya, Bintang menatap Naira dengan hati berdebar.
"Aku memutuskan untuk mempertahankan pernikahan kita," ucap Naira tegas, matanya menatap lurus pada Bintang.
Bintang menghela napas, dadanya mendadak sesak. "Orang tuamu sudah tahu?" tanyanya, suaranya pelan, penuh kebimbangan.
Naira menggeleng. "Ini keputusanku sendiri. Untuk kali ini aku memaafkanmu. Aku percaya kamu tak akan mengulanginya lagi. Demi pernikahan kita, berjanjilah kamu tidak akan menemuinya lagi. Lupakan dia. Kita mulai lembaran baru."
Bintang menelan ludah, janji itu terasa berat—mungkin akan menghancurkan sepotong hatinya sendiri. Namun, ia juga sadar, Naira adalah bagian dari hidupnya yang tak bisa ia abaikan.
***
Danisa tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Karenina datang bersama Aidan.
"Mulai hari ini Nina akan kembali bekerja." Aidan menatap Danisa dengan tajam. "Kalau sekali lagi aku tahu kamu membantu Bintang membawa kabur Nina, kamu juga akan aku laporkan ke polisi!"
Danisa membeku, tak mampu berkata apa-apa.
"Aidan..." Karenina menyentuh lembut tangan Aidan, mencoba menenangkannya.
Aidan menatap Karenina, senyum tipis terukir di bibirnya. "Sampai makan siang nanti."
Aidan melangkah pergi.
"Nin..." Danisa mendekat. "Kamu..."
"Aku minta laporan sales, Sa," potong Karenina cepat, tanpa menoleh.
Danisa diam sejenak. Ia melirik cctv di atasnya. Ia mangangguk, lalu pergi.
Karenina berdiri mematung di ruangan kini yang terasa asing. Ia menyadari, dirinya tak pernah benar-benar memiliki apa pun. Hidupnya, bahkan tubuhnya. Semua milik Aidan.
Karenina duduk di atas kursi panjang. Matanya menatap kosong pada titik di mana Bintang pernah duduk bersamanya. Memeluknya.
Perlahan, tanpa sadar, tangannya bergerak meraih bantal sofa kursi sampingnya. Ia menarik benda itu ke pangkuan, mengusap-usapnya dengan lembut, lalu mendekapnya, erat. Sangat erat.
Sementara itu, dari sebuah ruangan yang jauh dan dingin, Aidan menyaksikan segalanya. Melalui layar ponsel yang terhubung dengan CCTV di ruangan itu, ia mengamati setiap inci gerakan Karenina. Aidan mengerti, itu bukan gestur biasa. Itu adalah gestur seseorang yang sedang merindukan sebuah pelukan. Dan ia tahu pasti, sosok yang dirindukan itu bukan dirinya, melainkan Bintang. Laki-laki itu pernah di sana, duduk di kursi yang sama, memeluk Karenina.
Hati Aidan terasa hancur. Tubuhnya gemetar, hingga ponsel di tangannya ikut bergetar. Lalu tanpa kata, tanpa teriakan, tiba-tiba ponsel itu melayang ke udara, menghantam dinding dengan bunyi keras yang menggema—ledakan amarah Aidan yang pecah. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, dan matanya menyala gelap.
Ponsel itu hancur berkeping-keping, bersama dengan harga dirinya yang terkoyak. Aidan berdiri diam menatap puing-puing di lantai, menyadari satu kenyataan pahit: ia bisa memiliki tubuh wanita itu, tapi ia tetap tak bisa memiliki hatinya.
***
Setengah hari berlalu, waktu terasa lambat bagi Karenina. Ia tidak bisa fokus pada pekerjaan. Pernikahannya tinggal tiga minggu lagi. Masa depan yang dulu ia nantikan, tapi kini terasa mengancam. Masa depan itu tak lagi indah seperti bayanganya dulu. Tapi kelam, menakutkan. Apakah ia akan mampu bertahan?
Danisa masuk, menunjukkan pesan dari Aidan: "Dia nunggu makan siang di tempat biasa."
Dengan langkah berat, Karenina pergi.
"Aku sudah pesankan makananmu," ucap Aidan begitu ia sampai. Nadanya terdengar lebih dingin dari biasanya.
Karenina hanya mengangguk pelan. Selera makannya bahkan sudah hilang.
"Ini ponsel barumu."
Aidan memberikan sebuah kantong. "Aku sudah aku isi nomornya. Aku juga sudah clone aplikasi pesanmu. Kamu tak bisa menghubungi siapa pun tanpa sepengetahuanku."
Karenina menggeleng-gelengkan kepala. "Posesifmu sudah tak masuk akal."
"Kamu yang bikin aku hilang akal," balas Aidan tajam, seolah mengunci ruang Karenina untuk melawan.
Karenina terdiam.
"Habis ini kita pulang," ucap Aidan, tetap dingin.
Karenina mengernyit, bingung. "Ini kan masih siang? Aku masih kerja."
"Aku ngantuk. Semalam kurang tidur," jawabnya singkat. Salah satu alasan klise yang selalu ia gunakan sebagai mantra pengendali. Dan Karenina sudah hafal mantra itu.
Karenina hanya bisa pasrah. Ia tahu bahkan udara yang ia hirup adalah milik Aidan.
"Oh ya, Danisa sudah bicara soal persiapan pernikahan kita?"
Karenina mengangguk malas.
"Lalu?"
"Aku enggak mau membicarakannya di sini."
"Di mana lagi? Tinggal tiga minggu lagi, Nin!" Suara Aidan meninggi.
"Kamu yang membuatnya jadi tiga minggu," balas Karenina.
"Dan aku akan membuatnya satu minggu kalau kamu terus begini!!" Suara Aidan menggema, membuat orang-orang di restoran menoleh.
Aidan menarik napas, mencoba menenangkan diri. "Lupakan Bintang. Kalian tak akan pernah bertemu lagi. Lupakan cinta monyetmu. Kamu tak bisa menghindari pernikahan ini."
"Kenapa kamu ingin sekali pernikahan ini terjadi, Aidan..." suara Karenina bergetar. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi." Air matanya menggenang.
"Menikahimu adalah mimpiku. Dan itu akan terjadi. Lupakan Bintang. Dia sudah milik orang lain. Sadarlah, Nin! Bangun dari tidurmu!"
Karenina menarik napasnya yang terasa sesak. Jarinya mengusap air mata yang hampir jatuh.
Aidan meraih tangan Karenina. Matanya kini menatap lembut. "Kita akan bahagia. Kamu tahu selama ini aku selalu membahagiakanmu."
Bahagia? Karenina menatap mata Aidan. Apa dia tahu artinya?
Karena bagi Aidan, kebahagiaan hanyalah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan. Kebahagiaan adalah saat ia bisa menguasai diri Karenina, dan menjadikannya obyek kepatuhan. Ia hanyalah boneka yang dimainkan Aidan untuk memuaskan keinginannya, fantasi yang ia buat sendiri dalam dunianya yang sempit dan gelap. Dunia yang kosong dan dingin. Yang tak seorang pun bisa memahami.