Perempuan Lain

1024 Kata
Pagi itu, Karenina menghampiri Danisa di mejanya dengan wajah serius. “Tolong bantu aku jual apartemen, Sa!” “Hah?” Danisa mengangkat wajah dari layar laptopnya, menatap Karenina bingung. “Kamu mau jual apartemenmu?” “Enggak ada jalan lain lagi, Sa,” jawab Karenina pelan, nadanya pasrah. “Tapi… bukannya apartemen itu masih kamu cicil?” tanya Danisa, khawatir. “Iya. Nanti uang penjualannya buat melunasi cicilan. Sisanya buat menebus kalung itu. Mungkin enggak sampai tiga miliar, tapi aku bisa nutupin pakai tabunganku,” jelas Karenina sambil menghela napas berat. “Apa kamu sudah bicara dengan kakakmu? Maksudku, minta dia bertanggung jawab?” desak Danisa, masih berharap ada solusi lain. “Enggak ada gunanya. Yang ada malah bertengkar tanpa hasil. Dia sudah enggak punya uang dan enggak punya kerjaan,” Karenina menggeleng, getir. “Memangnya uang sebanyak itu dipakai buat apa, Nin? Bisnis apa?” Danisa masih tak habis pikir. “Bukan buat bisnis. Kata Aidan, buat bangun vila pribadi di Bali,” jawab Karenina. Matanya menerawang. “Ya Tuhan! Kamu aja masih nyicil apartemen, dia sudah bangun vila di Bali? Terus kenapa enggak dijual saja vilanya buat bayar utang?” Danisa gemas. “Vilanya belum jadi. Dan sebagian dananya pinjaman bank,” jawab Karenina. “Berani sekali dia,” gumam Danisa tak percaya. “Dan aku juga baru tahu… ternyata selama ini Aidan sering kirimin Mama uang. Bahkan membayari cicilan mobilnya. Padahal setiap bulan aku enggak pernah telat kirim uang bulanan,” lanjut Karenina. Nada kecewa tak bisa disembunyikan. Danisa menghela napas. “Pantas saja Mama dan kakakmu kelihatan lebih sayang sama Aidan daripada kamu.” “Keluargaku memang toxic,” gumam Karenina, menunduk. “Tapi… kenapa waktu itu Mamamu justru ngasih izin kamu ninggalin pernikahan?” Danisa menatapnya heran. “Sekarang dia nyesal. Setelah tahu kalau perusahaan, apartemen, dan mobil mewahku itu bukan sepenuhnya milikku.” Suara Karenina melemah. “Mama nyalahin aku. Dia bilang aku bodoh dan naif.” “Mamamu bilang begitu?” Danisa membelalakkan mata. Karenina mengangguk. “Apa aku memang sebodoh itu, Sa?” lirihnya. Matanya berkaca-kaca. Danisa segera menggeleng. “Kamu enggak bodoh, Nin. Kamu cuma jujur. Kamu mencintai Aidan bukan karena hartanya.” Ia meraih tangan Karenina, mengusapnya lembut. “Tapi aku memang salah. Aku yang memulai semua kekacauan ini,” ucap Karenina, diliputi rasa bersalah. “Enggak ada orang yang hidupnya selalu benar,” hibur Danisa. “Mungkin pernikahan itu memang tak seharusnya terjadi. Aku enggak bisa bayangin kalau waktu itu aku benar-benar nikahin Aidan. Kelakuan Mama dan Kak Martin pasti makin menjadi,” ujar Karenina lirih. “Tapi kamu juga enggak bisa abai sama perasaan Aidan. Kamu udah kasih dia harapan. Dan sekarang dia lagi berusaha keras memperbaiki dirinya buat balikan sama kamu,” Danisa mengingatkan. “Aku harus gimana, Sa? Kalung itu bikin semuanya jadi kacau,” keluh Karenina putus asa. “Tenang. Aku bantu kamu pasarin apartemen itu secepatnya. Kalau perlu, aku minta bantuan Bu Nora. Dia punya banyak klien high profile.” “Bu Nora?” Karenina langsung panik. “Jangan, Sa. Nanti Aidan tahu. Dia enggak boleh tahu dulu sebelum apartemennya terjual.” “Tenang. Aku bilang Bu Nora buat tutup mulut.” “Kamu yakin?” “Selama ada cuan, dia enggak keberatan,” jawab Danisa santai, menjentikkan jarinya sambil mengedip. “Thanks, Sa.” Karenina tersenyum lega. “Oh ya, nanti sore kamu jadi temani Aidan yoga, kan?” tanya Danisa. Karenina mengangguk, lalu menghela napas jengkel. “Sekarang permintaannya makin banyak. Ngapain aku di sana cuma nungguin dia yoga dan meditasi? Kayak anak kecil.” “Biar dia tambah semangat. Biar kamu juga tahu seberat apa perjuangannya buat balikan sama kamu,” seloroh Danisa sambil tertawa. Karenina tersenyum tipis. --- Dari balik dinding kaca, Karenina menatap Aidan yang bersiap mengikuti kelas yoga. Ia hampir tak percaya Aidan sanggup melakukannya—keluar dari zona nyaman, berinteraksi dengan orang-orang asing, dan menjalani sesuatu yang jelas tidak ia sukai. Bagi orang lain mungkin itu hal sepele. Tapi bagi Aidan, itu perjuangan besar. Dan ia melakukan semua itu demi dirinya. Dulu Karenina merasa tersanjung. Kini perasaannya berubah. Setelah tahu kelakuan Kak Martin dan Mama, ia justru merasa tak pantas menerima semua itu. Terlalu berlebihan. Napas Karenina terasa sesak. Bagaimana kalau perempuan itu tiba-tiba meminta kalungnya kembali sementara ia belum bisa menebusnya? Bagaimana kalau Aidan tahu? Bagaimana kalau seluruh keluarganya tahu? “Nin!” Karenina menoleh. Aidan berdiri di hadapannya bersama seorang perempuan muda. “Aku mau kenalin temanku. Dia yang ngajak aku gabung di sini,” ujar Aidan. “Hai, aku Trisha. Teman sekolah Aidan dulu, waktu di Sydney.” Perempuan itu mengulurkan tangan sambil tersenyum. “Hai.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Karenina. “Aku ngajak Aidan ke sini karena kebetulan kita punya problem yang sama,” tambah Trisha sambil melirik Aidan. Problem yang sama? Karenina menatap Trisha penuh tanya. Apa Aidan menceritakan semuanya? “Kamu mau nunggu di sini?” tanya Aidan. “Iya. Enggak lama, kan?” “Aku cuma satu jam.” “Kalau bosan, kamu bisa nunggu di kafe sebelah gedung ini,” imbuh Trisha ramah. Ucapan itu justru membuat Karenina semakin curiga. Prasangka buruk bermunculan. Untuk apa ia diminta pergi? Supaya tak bisa melihat mereka bersama? “Aku tunggu di sini aja,” sahut Karenina tegas. “Oke. Aku masuk dulu ya,” pamit Aidan. Karenina mengangguk sambil menyunggingkan senyum termanisnya—meski dadanya kesal bukan main. Tiba-tiba tirai tertutup. Hah! Karenina melongo. Pantas saja mereka menyuruhnya pergi. Kekesalannya naik ke ubun-ubun. Dengan gusar, ia melangkah menuju kafe di samping gedung. Sesampainya di sana, Karenina menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan kesal. Bayangan perempuan itu mengganggunya. Siapa Trisha? Kenapa Aidan enggak pernah cerita? Ia mengingat-ingat mantan-mantan Aidan yang pernah ia dengar. Tak ada nama Trisha. Siapa dia sebenarnya? Ia percaya Aidan. Namun nalurinya berkata lain. Ia bisa merasakan perempuan itu menyukai Aidan. Tapi… perempuan mana yang tidak menyukai laki-laki seperti Aidan? Karenina mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. Tidak. Trisha hanya teman sekolah. Kalau memang menyukainya, kenapa tidak dari dulu? Namun hatinya tetap gelisah. Karenina membuka ponsel dan menekan sebuah nomor. “Sa, kamu kenal teman Aidan yang namanya Trisha?” tanyanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN