Tujuh belas

1054 Kata
[FLASHBACK] Raut wajah Raia berubah seketika saat mendengar cerita Jihan. Ia tak setuju sama sekali jika Jihan harus menjadi wanita perusak hubungan orang, belum lagi nanti Dandi yang akan berpikir macam-macam. "Ji, kamu serius?" tanya Raia. "Aku serius, Rai. Semuanya udah aku pikirin mateng-mateng." Jihan masih menyunggingkan senyum sumringahnya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta. "Tapi, Ji. Keputusan kamu ini berar. Bagaimana dengan Dandi? Istrinya Sadam juga gimana? Kamu garus mikirin efek ke depannya seperti apa. Kesenangan kamu ini hanya sesaat, Ji." Raia duduk di atas sofa mengistirahatkan badannya dari Jihan yang benar-benar bodoh. "Aku dan Sadam udah janji bakal tanggung resikonya sama-sama. Kami nggak akan pisah, Rai. Kalau kamu nggak mau ikut aku, silahkan. Kamu bisa cari kerja lain, kalau kamu mau ikut aku, ayok. Tapi jangan campuri urusanku." Jihan mulai berang wajahnya memanas karena kalimat Raia sedikit membuatnya tersinggung. Karna bagi Jihan, sebagai seorang sahabat, Raia harusnya mendukung Jihan, bukan malah menohoknya dengan kalimat tadi. Raia pun hanya terdiam. Baginya itu keputusan sulit. Bukan karena ia tak mampu mencari kerja di tempat lain, namun ia tak mungkin meninggalkan Jihan sendirian. Karena dari dulu Raia selalu bersama-sama dengan Jihan. Sejak orang tuanya meninggal, Jihan mengijinkan Raia untuk tinggal bersamanya. Jihan juga sudah seperti ibu angkat bagi Raia. Setidaknya sebagai balas budi, Raia harus terus mengikuti kemana pun Jihan pergi. "Baiklah, aku ikut sama kamu. Tapi aku harap, kamu segera selesaikan hubungan kamu dengan Dandi." Jihan hanya mengangguk mengiyakan perkataan Raia. Sejak acara pernikahan Sadam satu bulan yang lalu, Jihan memang masih menjalin hubungan dengan Sadam. Saat Raia bertanya, Jihan hanya berkilah bahwa semuanya urusan bisnis. Mereka bahkan sering pergi makan dan bersama. Jihan juga semakin sering menghindar dari Dandi. Dandi dan Jihan sudah menjalin hubungan selama empat tahun. Jihan bukan tipw wanuta yang gila harta. Namun entah mengapa saat bertemu Sadam, matanya seperti di butakan oleh cinta atau uang. Ia memilih Sadan yang kaya dan meninggalkan Dandi yang jelas-jelas sudah berjuang mati-matian untuknya. Dan dengan mebgejutkan, Jihan malah memberi kabar bahwa ia dan Sadam tengah berpacaran. In benar-benar gila. *** Jihan duduk termenung di sudut cafe yang jendelanya terhubung langsung dengan jalanan. Ia menunggu laki-laki yang sampai saat ini nasih ia cintai. Namun karena masa depan yang lebih menguntungkan, ia memilih untuk mengakhiri hubunhannya dengan Dandi, pacarnya. Tak lama, pria dengan topi hitam lengkap dengan seragam kerjanya menghampiri Jihan yang tengah menyesap kopinya. Raut wajah sumringahnya benar-benar mengesankan cinta di sana. Ia langsung memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat, Jihan ganya pasrah sambil tersenyum kecut. "Udah lama kita nggak bisa ketemu, aku kangen banget Ji sama kamu." Pria itu membuka topinya dan duduk di hadapan Jihan. Jihan tersenyum kecut lagi dan terlihat sangat memaksakan. "Hm," angguknya. "Kenapa kamu ngajakin aku ketemuan di sini? Kenapa bggak di rumah aja, Ji?" tanya pria itu. Pipinya terkihat cekung. Terlihat dari sudut matanya bahwa ia saat ini tengah kelelahan bekerja. "Aku karna lagi ada urusan di sekitar sini Dan, makanya ajak ketemuan di sini." Jihan menyesap kopinya lagi dan kali ini dengan sedikit batukan pada akhir tegukannya. "Oh, begitu," ujar Dandi. "Sebenarnya ada yang mau aku omongin, Dan sama kamu." Jihan menatap lekat-lekat mata pria itu. Wajahnya masih belum.mengesankan raut cemas. Ia sangat berbahagia bertemu kekasihnya. "Apa?" "Aku mau kita selesaiin hubungan ini, Dan. Aku udah capek terus-terusan hidup sama kamu." Jihan menundukkan pandangannya menghindari tatapan mematikan dari Dandi. Dandi pun ternyata masih belum mengubah caranya berpandang. Namun air mukanya menurun, terlihat kaget dengan pernyataan Raia.  "Kamu bercanda, ya? Prank? Atau siapa yang ulang tahun?" "Nggak ada candaan atau ulang tahun, Dan. Aku serius." Jihan menatap nata Dandi. Manik mata mereka menari satu sama lain. "Tapi kenapa, Ji? Aku salah? Aku nggak lupain tanggal-tanggal penting kita, kan? Aku slah apa?" Dandi mencerca banyak pertanyaan pada Jihan sekaligus. "Nggak, kamu bggak salah apa-apa. Aku cuma capek." Jihan berdiri berniat beranjak darintempat duduknya. "Ji, aku janji bakal bahagiaan kamu, kasih aku kesempatan." Dandi menahan tangan Jihan dan tak.membiarkan wanita itu pergi. "Kamu coba saja untuk merubah hidup dan nasib kamu dulu. Setelahnya serahkan pada tuhan. Aku hanya lelah hidup serba kekurangan." "Apa kamu punya seseorang yang bikin kamu seperti ini?" tanyanya. "Sadam, semuanya karena Sadam. Aku akan menikah dengannya."  "Tapi dia klien kamu kan, Ji. Dia juga udah nikah. Kamu jangan gila, Ji!" suara Dandi mengeras. Ia membentak Jihan dan membuat Jihan sangat ketakutan. Ia takut pria ini malah mempermalulannya dan membocorkan rahasianya. "Itu udah jadi urusanku, Dan. Sekarang kamu coba cari kebahagiaan kamu sendiri. Aku ada urusan dan aku harus pergi." Jihan kemudian beranjak dari Dandi dan membiarkan pria itu termenung di sana. Jihan tak mau lagi menoleh kebelakang. Entah mengapa hatinya jadi mengeras. Ia bahkan tak meras bersalah sama sekali setelah meninggalkan Dandi dengan cara yang kejam. Ia adalah wanita cengeng, bahkan sampai detik ini ia tak merasakan kesedihan sama sekali.  *** "Aku sudah putus dengan Dandi, Dam." Jihan duduk di sebelah Sadam di dalam mobil. Sadam terlihat menyunggingkan senyum bahagianya. Jihan masih sedikit ragu dengan keputusannya walaupun tak merasa menyesal. "Kamu nyesal udah pilih aku, Ji?" tanya Sadam masih sambil mengendarai mobilnya. Jihan menggeleng, "Bukan itu. Aku hanya takut keputusanku salah. Aku lebih memikirkan mbak Yuliana di banding Dandi." ujar Jihan. Sadam nengangguk, ia paham betul dengan perasaan Jihan. "Aku akan segera menceraikan Yuliana untuk kamu, Ji. Kamu tenang saja." "Tapi kenapa kamu malah ingin sama aku, Dam? Bukankah Yuliana wanita sempurna?" tanya Jihan. "Nggak ada yang sempurna di dunia, Ji. Hanya saja, Yuliana tak bisa memberikan apa yang ku minta." "Emangnya kamu minta apa, Dam?" tanya Jihan. "Aku cuma butuh di hargai, Ji. Dan aku nggak oernah merasa dihargai di rumah. Aku kecewa sama diriku sendiri dan Yuliana. Aku pikir perceraian adalah cara terbaik." Jihan mengangguk mengerti perasaan Sadam. Ia merasa bersyukur terlahir sebagai wanita yang memiliki rasa hormat pada pria. Memang banyak di luaran sana wanita hang sibuk dengan dunianya tanoa sadar dengan derajatnya sebagai seorang istri. Sadan sudah begitu sabar menghadapi Yuliana menurutku. Mungkin perpisahan baik bagi mereka. Dan juga, terkadang laki-laki juga tak menginginkan wanitanya bekerja di luar sana. Ia cukup menjadi pelayan bagi suaminya. Bukan berarti ia tak menghargai wanita untuk bekerja, hanya saja sebagian laki-laki ingin dia sendiri yang bekerja dan bertanggung jawab penuh pada rumah tangga yang di pimpinnya. Sadam juga lelaki yang sibuk. Jadwal syutingnya padat. Dan tentu saja ia butuh istri yang mendukungnya dari segi apapun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN