Pakai Cara Lain.

2254 Kata
Mendengar satu kalimat yang keluar dari mulut Jaka membuat Bu Khosim tersenyum puas. Mengangkat satu ujung bibirnya. Mengangkat dagu dengan sombong. Menatap Jaka dengan tatapan yang penuh antusias. “Nah ... gitu kek dari tadi,” ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi Jaka. “Kalau saja dari tadi lo ngomong mau bayar kan urusannya jadi gampang. Gua nggak perlu repot marah-marah sama kalian.” Mata yang berhias softlens biru dan bulu mata tebal itu pindah melirik ke arah Halimah di belakang tubuh Jaka. “Dan istri lo juga nggak perlu sinis ke gua seperti itu.” Jaka memutar arah pandangannya, berbalik badan ke arah Halimah. Mata istrinya masih serupa bara yang membakar apa saja. Menyala, melotot tajam ke arah Bu Khosim dengan penuh dendam. Sementara korban dari semua korban jelas Novita. Ya Tuhan, orang tua mana yang tega anaknya ada di posisi Novita sekarang. Gadis kecil berusia 7 tahun itu masih meringkik ketakutan. Badan kecilnya gemetaran. Keringat dingin membasahi garis wajah dan anak rambutnya yang dikepang dua. Hanya bisa berdiri terdiam memeluk erat-erat kaki Halimah, mamanya. Bersembunyi, menutupi wajahnya dengan celana hitam kain yang dipakai Halimah. Bersembunyi sambil terisak sendirian di balik kaki mamanya. Namun lagi dan lagi, Jaka sebagai bapak Novita tidak punya pilihan lain. Ia sebenarnya juga tak mau Novita melihat ini semua. Mental anak pertamanya itu pasti sekarang sedang terguncang hebat setelah mendengar semua omongan Bu Khosim dan Mamanya secara langsung. “I–iya ... iya saya bayar kok, Bu. Ta–tapi tunggu di kursi depan dulu ya. Saya nanti nyusul.” Kalimat Jaka terjeda. Matanya terlihat berkaca-kaca. “Ada yang perlu saya omongin dulu dengan istri dan anak saya.” Bu Khosim yang tadinya sudah tenang tiba-tiba mengerutkan dahinya lagi. Kedua tangannya secepat kilat meraih kerah kaos Jaka. Menariknya ke bawah, ke arah tajam matanya. “Heh ... dasar miskin! Dengerin gua ya. Lo jangan main-main sama gua ya. Gua nggak peduli lo cowo, gue cewe. Jangan dikira gue takut sama lo. Sekali lagi lo cari cara buat kabur. Jangan harap besok anak lo masih bisa lihat sinar matahari. Ngerti?!” ancam Bu Khosim. Sementara Jaka yang tersudut makin tak berkutik. Remasan tangan Bu Khosim di lehernya tidak main-main. Jari-jari besar dan kepalannya menekan kuat-kuat kerongkongan. Sampai-sampai Jaka susah bernapas. “Iy–iya, Bu. Jaka janji. Jaka janji nggak akan kabur lagi kali ini,” jawab Jaka terbata-bata. “Awas lo kalau sampe macem-macem sama gue,” ketus Bu Khosim terakhir lantas melepaskan remasan tangannya dan pergi. “Hah ... hahhh .... hah ... !!!” Jaka menelan ludah. Memijat lehernya, cepat-cepat mengatur napas setelah cengkeraman Bu Khosim terlepas. Janda yang kesetanan itu sekarang berbalik badan. Berjalan dengan angkuh menuju teras rumah Jaka. Meninggalkan Jaka, Halimah dan Novita di belakangnya. Duduk di dipan bambu teras yang kondisinya juga sudah memprihatinkan. Dimakan rayap hujan dan panas setiap hari. Duduk dengan sepasang mata yang tidak lepas mengamati Jaka dan Halimah. “Mas Jaka, ini gimana? Aku udah bilang kan kemarin, firasat aku nggak enak. Sekarang benar, Bu Khosim datang? Trus kita gimana?” keluh Halimah. Wajah tegang dan sinisnya seketika berubah jadi panik dan pucat pasi begitu suaminya berbalik badan. Ia tidak menangis, tapi air matanya tak terasa sudah mengalir dari sudut kelopak matanya. Terjun meluncur bebas membelah pipinya yang kemerahan. “Sayang kamu yang tenang dulu ya. Tenang-tenang, pasti ada jalan keluarnya kok. Biar aku cari jalan keluarnya. Pas–“ “Mas Jaka!” potong Halimah sambil menyapu air matanya. “Jalan keluar yang gimana lagi maksudmu? Kita udah nggak punya apa-apa lagi? Semua tabungan kita kan udah habis buat berobat Novita. Itu juga separuhnya dari aku pinjam ke mama. Trus uang yang mau kamu kasih itu yang mana?” Jaka terdiam. Kepalanya tertunduk lesu. Hanya bisa menggeleng mendengar semua pertanyaan yang keluar dari mulut istrinya. “Mas ... jawab, Mas! Trus kelanjutannya kita ini gimana? Kalau Mas Jaka aja nggak tahu apalagi aku? Aku nggak mau ya dikorbanin lagi yah. Aku udah nggak bisa pinjam uang ke Mamah atau Ayah lagi. Udah cukup, Mas. Aku malu kalau harus pinjam mereka lagi!” Terdiam lagi, Jaka tidak bisa menjawab apa-apa. Jangankan menjawab semua pertanyaan istrinya. Bahkan hanya untuk mengangkat wajahnya saja Jaka merasa malu. Ia malu pada Halimah. Ia malu pada semua tetangga yang mendengar percekcokannya dengan Bu Khosim tadi. Ia malu pada dirinya sendiri yang tidak becus membela istri dan anaknya. “MAS JAWAB!” Halimah membentak Jaka. Suaranya yang keras cukup membuat laki-laki di depannya tersentak dan refleks mengangkat wajah. Akhirnya kesabaran perempuan itu habis juga. Kedua alisnya terangkat bersamaan dengan matanya yang melotot tajam. Putih matanya memerah karena air mata. Sementara hitamnya sama sekali tidak bergerak. Terpaku ke arah Jaka, menunggu jawaban darinya. Namun bukan kalimat Jaka yang terdengar oleh telinga Halimah. Melainkan tangis Novita di bawah kakinya yang semakin menjadi-jadi. Gadis itu sekarang makin takut. Suara Halimah yang lantang menggetarkan hatinya. Makin mengeratkan pelukan di lutut Halimah dan menangis tersedu-sedu di sana. “Sayang ... iya aku cari jalan keluar tapi kamu tenangin diri dulu. Jangan kayak gini,” ujar Jaka akhirnya setelah terdiam cukup lama. Berucap sambil mengelus lembut kedua bahu istrinya. “Kamu yang marah-marah bikin Novita makin takut loh.” “Iya kalau ada jalan keluarnya pasti nggak kayak gini ceritanya, Mas!” Halimah memotong. Matanya berpindah menatap Bu Khosim. Dua pasang mata wanita itu kembali bertemu. Halimah yang sekarang bisa meluapkan kekesalannya menepis tangan Jaka dari bahunya. “Lihat! Sekarang Bu Khosim udah nunggu di sana. Kamu yang bilang kamu ada uang ya. Jangan dikira aku nggak tahu, Mas. Kita udah nggak punya banyak uang lagi. Cuma cukup buat kita makan sampai kamu gajian. Trus kamu mau bayar pake apa, Mas? Dikira gampang nyari uang segitu? Hah?” Jaka yang sudah terimpit dari segala arah sebentar menghela napas panjang. Mengusap wajahnya dengan telapak tangannya sendiri. Telapak tangan yang kasar dipenuhi kapal dan bekas luka karena pekerjaannya sebagai tukang batu. “Sayang, aku bisa kok. Percaya deh sama aku ya. Kali ini aja biar aku selesaikan sendiri dulu urusan ini,” pinta Jaka dengan nada memelas. Halimah menggeleng, memijat dahinya dengan tangan kanan. Ia menyerah. Ia tak tahu lagi apa yang sedang suaminya pikirkan saat ini. “Mas, kamu mau menyelesaikan ini semua sendiri? Iya?” Jaka menelan ludah. Pertanyaan Halimah barusan terdengar seperti ancaman. “Iya, Mah. Tolong ya, beri aku waktu. Aku janji urusan ini bakal kelar,” jawab Jaka disusul anggukan kepala. “Cihhh ... Mas, yang bener aja. Kalau Mas Jaka bisa bayarin sekarang ya mending bayar langsung aja kan. Ngapain pake bilang mau urus ini semua sendiri? Emang selama ini aku nggak pernah bantuin kamu? Emang selama ini siapa yang cari duit gede kalau bukan aku?” “Nggak gitu sayang,” poting Jaka. “Aku bakal cerita kok nanti pas ini semua udah kelar.” Mata laki-laki itu berputar. Menatap sebentar Novita yang ketakutan di bawah kaki istrinya. Tidak pernah habis rasa getir itu. Dadanya selalu sesak kalau melihat Novita menangis. “Sekarang, aku cuma minta tolong sama kamu. Bawa Novita bersamamu. Bawa pergi ke mana saja dulu sementara waktu. Biar aku selesaikan dulu urusan Bu Khosim,” pinta Jaka. Mendengar itu hati Halimah sedikit luluh. Meski rasa jengkel dan murka itu masih terasa. Tapi melihat dan merasakan Novita di bawah kakinya yang menangis dari tadi memberinya jalan buntu. “Baiklah kalau itu mau kamu, Mas.” Halimah menganggukkan kepala. Punggung tangannya menyapu air mata di kedua pipinya. “Aku pulang ke mamah aja dulu sama Novi. Nanti sore aku balik lagi.” Akhirnya Jaka bisa bernapas dengan lega. Terakhir ia memeluk tubuh Halimah. Mengusap belakang kepala Halimah. Meneguhkan perempuan yang sudah ia nikahi 9 tahun lamanya itu. Sebelum beranjak turun, duduk jongkok di depan Novita yang ketakutan. “Sayang ....” Jaka tersenyum. Berharap anaknya keluar dari tempat persembunyiannya; kaki Novita. “Sayang ... udah dong nangisnya,” rayu Jaka sekali lagi. Mendengar nada lembut bapaknya, Novita akhirnya berani menunjukkan muka. Dengan wajah ketakutan dan mata yang berkaca-kaca menatap Jaka. Sedetik kemudian melompat memeluk laki-laki itu. “Utututu ... anakku sedih ya. Maafin bapak ya sayang. Maafin bapak,” ucap Jaka penuh penyesalan. Makian Bu Khosim tidak terasa. Semua kalimat pedas dan cemoohan itu tidak mampu menggetarkan hatinya sedikit pun. Tapi beda urusannya dengan peri kecilnya satu ini. Hanya dengan merasakan dekapannya. Hanya dengan merasakan gemetar ketakutan dan suara tangis lirih Novita cukup memorak-porandakan hati Jaka. Seperti hujan yang tulus. Seperti debu yang dibawa terbang angin. Air mata Jaka pecah saat gadis itu menangis di pelukannya. “Novi takut bapak. Novi takut,” rintih Novita. “Ka–kamu aman sayang. Kamu aman. Maafin bapak ya sayang. Bapak janji ini yang terakhir,” jawab Jaka terbata-bata sambil mengusap punggung putrinya. “HOE JAKA .... !!!!” teriak Bu Khosim dari kejauhan. “LO MAU BAYAR PAKE ADEGAN SINETRON. GAUSAH BELAGAK TANGIS-TANGISAN. UDAH KAYAK ORANG MAU MATI AJA!” Lagi dan lagi Jaka harus menahan emosinya. Sementara di depannya, Halimah sudah yang sudah kehabisan habis kesabaran mengepalkan tangan kuat-kuat. “Banyak omong ya emang itu, Mak Lampir. Emang harus dikasih pelajaran. Udah kalau kamu nggak berani biar aku saj–“ “Ehh .... sssttt ... sayang-sayang ... udah-udah,” potong Jaka. Laki-laki itu refleks berdiri. Menahan tubuh istrinya yang sudah satu langkah hendak menghampiri Bu Khosim dengan Novita di gendongan tangan kanannya. “Mas, dia udah kelewatan. Musti dikasih pelajaran emang,” bantah Halimah. “Udah sayang, jangan diladenin. Lihat, kasihan Novita anak kita ini loh masih ketakutan. Udah-udah jangan diperpanjang lagi,” lanjut Jaka. Halimah yang lagi-lagi dihalangi hanya bisa mendengus kesal. Membuang muka, melipat tangan di d**a. Sementara Jaka pelan-pelan menurunkan tubuh Novita. Membiarkan gadis kecilnya berdiri sendiri. Meski susah, meski Novita terus memegang erat tangan Jaka seakan tak mau dilepaskan. “Novita sayang, anakku. Sekarang kamu ikut mama dulu ya ke rumah Opa dan Oma,” rayu Jaka. “Nggak mau, Pak. Novi ... Novi mau sama bapak aja,” rengek gadis 7 tahun tersebut. Mengangkat kedua tangannya seolah menagih gendongan bapaknya lagi. Jaka yang tidak punya pilihan lain menatap Halimah. Tatapan yang penuh arti. Tatapan yang mengisyaratkan kalau tugas Jaka harus segera dilakukan sekarang. “Iya-iya, Mas. Kamu kelarin deh sana,” jawab Halimah. Membungkuk, meraih tubuh Novita. Memeluk gadis mungilnya tersebut. “Ayo sayang kita pergi. Biar saja bapakmu,” dengus Halimah kesal. Membawa paksa Novita pergi di gendongannya dengan posisi yang masih menangis pijar tak mau berpisah dengan bapaknya. Berat bagi semua bagian keluarga ini, terutama jelas saja Jaka. Sedetik pun bahkan ia tidak melepaskan pandangannya dari punggung istrinya yang terus berjalan. Berjalan meninggalkan Jaka sampai tubuhnya hilang ditelan kelokan gang. Dengan emosi yang sudah terkuras untuk membendung amarah, Jaka berbalik badan. Menghela napas panjang, berjalan menuntun motor bututnya kembali ke depan rumahnya. Tempat di mana Bu Khosim sudah menunggunya dari beberapa menit yang lalu. “Oh syukurlah,” ketus Bu Khosim dengan wajah menyebalkan. Angkuh, menatap Jaka dengan sebelah ujung bibir terangkat. “Akhirnya sinetron keluarga yang menyedihkan tadi selesai juga.” Jaka mengabaikan kalimat perempuan itu. Buat apa juga ditanggapi, tidak ada gunanya. Begitu motor butut miliknya terparkir di depan teras, ia melangkah masuk. Berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya dan Halimah. Ruangan bercat biru muda dengan satu kasur lantai tipis yang merapat di salah satu tembok. Jaka mengangkat kasur lantai itu. Sebuah plastik hitam yang baru beberapa hari lalu ia dapatkan tujuannya. Sengaja ia simpan di sana agar uang di dalamnya tidak ikut dibelanjakan oleh sang istri. Sejenak ia terdiam. Menghitung lembar demi lembar kertas merah itu. Tidak banyak, hanya ada satu juta rupiah. Angka yang tidak ada setengah dari semua uang sewa yang harus ia bayar. Tapi apa boleh buat, demi Halimah dan Novita. Demi agar ia bisa tetap tinggal di rumah ini dan tidak jadi gelandangan. Tirai kamar disibak, Jaka keluar membawa keresek hitam itu di tangannya. “Oh ... jadi kenapa lo terus-terusan menghindar? Padahal buktinya kamu punya uang kan?” ketus Bu Khosim tiba-tiba. Entah sejak kapan, tapi tiba-tiba saja perempuan itu sudah muncul di balik tubuh Jaka. “Ma–maaf, tapi itu benar-benar uang terakhir. Saya nggak ada uang lagi. Demi Tuhan, aku bersumpah!” Wajah semringah Bu Khosim yang sebelumnya sudah semringah seketika berubah jadi garang lagi. Matanya melotot tajam. Tangannya dengan cepat bergerak menyambar plastik hitam dari tangan Jaka. Tanpa permisi, tanpa basa-basi menghitung uang di dalam plastik tersebut. Tapi yang terjadi selanjutnya justru di luar harapan Jaka. ‘PLAAAKKK .... !!!!’ Setumpuk lembar uang itu melayang. Bersama dengan plastik hitam itu tentunya. Mendarat tepat di wajah Jaka. Membuat lembar-lembar uang itu terjun bebas. Bak hujan, tersebar di lantai tempat Jaka berdiri. “HEH ... !!!! APA LO MASIH BELUM JELAS JUGA? BUAT APA GUA UANG SEGINI, HAH?!” “Tapi saya hanya punya itu, Bu.” Jaka mengiba. “Tolong lah, Bu. Tolong kasih saya kesempatan. Seminggu lagi pasti akan saya lunasi kurangnya.” Bu Khosim kembali meremas kerah kaos Jaka. Mendorong tubuh pria itu hingga menghantam tembok kamarnya dengan keras. “Aarggghhh ... !!!” rintih Jaka saat tulang punggungnya beradu dengan tembok. Rasa sakit di antara tulang-tulang punggungnya tak terelakkan. “Denger, gue udah capek ya marah-marah sama lo. Sekarang gampang saja ....” Kalimat Bu Khosim terjeda. Matanya yang penuh amarah mengamati Jaka dari bawah kaki hingga atas kepala. “Kamu bisa bayar dengan cara lain. Itu pun kalau kamu mau,” lanjut Bu Khosim. “Kau tahu kan hanya ada kita berdua di rumah ini?” Dan yang terjadi selanjutnya, Jaka merasakan jari-jari itu merambat di area pangkal pahanya. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN