Junior dan Senior

1226 Kata
Wajah Devan pucat pasi. Dia membayangkan Cleo akan membenci dia untuk selamanya. “Sudah, Devan, sudah cukup. Hentikan kebodohan ini!” Devan hanya bisa menasihati dirinya sendiri. Devan pun mengejar Cleo yang sedang berjalan menuju ruang Pak Rudy. Ketika tangan Cleo hendak mengetuk ruangan bosnya, tiba-tiba saja tangan Devan menyambar lengan Cleo dan menariknya menuju lorong kantor. “Kamu apa-apaan sih. Lepasin tangan aku!” Cleo berusaha melepaskan genggaman tanga n Devan di lengannya. Alih-alih melepaskan tangannya, Devan justru mengarahkan tubuh Cleo ke tembok. Tubuh Cleo terpepet di dinding. Tepat di depannya tubuh Devan sedang berdiri sambil mengunci lengan Cleo hingga tidak mampu bergerak. “Bu Cleo, saya menghormati Anda sebagai senior saya. Saya pun sudah jujur kalau saya tidak berniat macam-macam. Kalau Anda masih mau mengadukan saya kepada Pak Rudy, tentu Pak Rudy tidak akan percaya begitu saja. Anda tahu sendiri betapa beliau sangat menghormati saya.” Cleo membuang muka. Napasnya naik turun tidak karuan. Selain karena kesal dengan tingkah Devan, dia pun merasa sangat grogi dipepet oleh pria tampan. Untung saja tubuh Devan tidak bersentuhan dengan tubuhnya. “Iya, saya minta maaf. Sekarang lepaskan lengan saya!” pinta Cleo. “Janji kamu tidak impulsif begini lagi ya. Aku sangat menghormati kamu!” “Iya, aku janji.” Cleo mulai merendahkan nada bicaranya. Devan melepaskan lengan Cleo. “Maaf ya, aku benar-benar tidak ingin membuat masalah. Tapi terkadang aku juga tidak bisa mengontrol pikiranku. Tiba-tiba saja tadi aku bilang kamu cantik karena memang kamu cantik. Tidak ada maksud apa-apa. Terus yang tadi aku memegang tanganmu, itu juga aku tidak sengaja.” “Iya iya. Aku percaya kok,” jawab Cleo. “Sekarang, statusku adalah junior Anda. Jadi, biarkan saya menghormati Anda sebagai senior saya,” ucap Devan. “Baiklah,” sahut Cleo dengan datar. Dia berusaha untuk menenangkan diri karena jantungnya masih berdegup kencang lantaran peristiwa itu. Devan dan Cleo kembali ke tempat kerjanya. Cleo berusaha seprofesional mungkin untuk membimbing Devan sesuai mandat dari bosnya. Devan benar-benar gugup sekaligus bahagia. Tangan putih Cleo terkadang juga tidak sengaja menyentuh tangannya. Pada saat itu, seolah Devan terkena setrum yang bertegangan tinggi. Aliran darahnya langsung terpompa ke dalam dadanya seolah degupan tengah menjadi pertanda betapa Devan menginginkan wanita di sampingnya. “Hai, Cleo. Serius amat.” Ronal sengaja menganggu Cleo yang sedang mengajari Devan dengan intens. “Iya nih, habisnya dapat mandat langsung dari bos.” Devan merasa sangat terganggu dengan hadirnya Ronal. Dia mulai mengerti bahwa Ronal adalah rivalnya dalam mendapatkan hati Cleo. Namun, sementara ini dia hanya bisa diam dan berpura-pura menjadi junior yang penurut serta tidak banyak omong. “Nanti pulang bareng, yuk!” Tiba-tiba Ronal nyeletuk dengan entengnya. Sementara itu, mata Devan langsung membelalak dan reflek menoleh pada Ronal. Ronal pun langsung notice dengan sorot mata Devan yang aneh. “Hei, junior, kenapa kamu melotot begitu?” Pertanyaan Ronal langsung membuat Cleo menoleh pada Devan. Devan pun merasa tertangkap basah dengan keadaan yang sedang tidak berpihak padanya. “Ah anu Pak. Maaf saya tidak melotot. Hanya menoleh.” Devan hanya bisa berakting seolah dia tengah menjadi junior yang sedang dirundung oleh seniornya. “Kurang ajar tuh si Ronal. Mepet terus sama Cleo. Ditambah belagu juga,” batin Devan dengan kesal. “Ronal, mending kamu kembali ke tempat duduk deh daripada membuat kegaduhan.” Cleo terdengar membela Devan. Dalam hati, Devan bersorak gembira. Andai dia bisa berteriak sambil melompat, mungkin dia akan langsung teriak kegirangan. “Mampus kamu,” batin Devan sambil tertawa terbahak. Tentunya dalam hati. “Maaf deh, Cleo. Tapi nanti pulang bareng ya.” Ronal masih berusaha untuk membujuk Cleo agar pulang bersamanya. “Dih, apaan sih cowok gatel ini,” batin Devan. “Maaf, Nal. Nanti aku sepertinya ada lembur. Ini aja pekerjaan masih terbengkalai gara-gara ada tugas dadakan dari bos. “Oke deh, lain kali aja. Btw, nanti lembur sama Dewi?” “Gak lah. Kerjaan Dewi udah kelar semua. Palingan sendirian.” “Apa mau saya bantu, Bu?” Devan dengan sigap membaca situasi dan memanfaatkannya dengan jeli. “Kamu? Boleh deh. Sekalian bisa belajar langsung. Learning by doing.” Cleo berusaha untuk melupakan kejadian di lorong tadi. “Yess,” celetuk Devan spontan. “Kenapa, kamu?” Cleo bertanya dengan tatapan yang menusuk. “Eh tidak apa-apa, Bu. Saya suka belajar. Apalagi soal pekerjaan kantor yang memang saya tekuni.” “Oh, kirain kenapa.” Devan langsung bernapas lega. Mulai sekarang dia harus lebih berhati-hati dalam menyimpan perasaannya. Jangan sampai orang lain melihat gelagatnya, terutama Cleo. “Jadi kamu sama junior ini?” Ronal bertanya dengan nyinyir. “Ya mau bagaimana lagi. Lumayan kan ada yang bantuin menyelesaikan pekerjaanku.” Sekali lagi Devan bersorak dalam hati. Perutnya dipenuhi dengan kupu-kupu. Ingin rasanya dia melayang karena wanita yang diincarnya mulai membuka hati. “Eh tapi kamu jangan macam-macam ya sama Cleo. Di sini banyak CCTV,” ancam Ronal pada Devan. “Mohon maaf, Bapak Ronal yang terhormat. Meskipun di sini saya adalah junior, saya termasuk orang yang berpendidikan dan beradab. Saya tahu kapan saatnya untuk menjadi seseorang yang profesional. Memangnya Anda pikir saya punya pikiran kotor macam Anda?” Devan membalas perkataan Ronal dengan nada bicara yang cukup menohok. “Kamu itu ya. Tidak sopan pada senior,” tukas Ronal dengan nada tinggi. “Sudah sudah. Kalian ini apa-apaan sih. Sekarang waktunya bekerja, bukan saling berdebat begini. Ronal, tolong tinggalkan kami.” Cleo mulai tidak sabar dengan kelakuan dua orang yang memiliki perasaan yang sama kepadanya. “Maaf ya, Cleo. Ya sudah, lanjutkan lagi pekerjaanmu.” Ronal pergi menuju meja kerjanya. Di halam hati, dia mulai memahami bahwa ada yang tidak beres dengan tugas yang diberikan kepada Cleo secara mendadak. Tidak biasanya bos mereka seperti itu. Ditambah dengan surat itu bukan langsung dari tangan bos, melainkan dibawa oleh Devan. Di sisi lain, Devan merasa keberadaan Ronal sangat mengancam eksistensinya. Bukan hanya dirinya yang tidak nyaman dengan sikap Ronal, Cleo juga tampak tidak nyaman dengan arogansi Ronal yang seolah telah menjadi orang yang harus dihormati di kantornya. Devan dan Cleo kembali berkutat dengan pekerjaan mereka. Devan menjadi junior yang sangat menghormati seniornya. Perlahan Cleo menjadi nyaman untuk mengajarkan tentang pekerjaannya kepada Devan. Dia tidak lagi berpikir tentang siapa sebenarnya Devan dan apa tujuannya bekerja di kantor yang sama dengannya. Saat ini yang Cleo rasakan adalah nyaman bekerja sama dengan Devan. Menurutnya, Devan adalah seorang pembelajar yang baik. Dia tidak sok tahu dan sangat menghormati Cleo. “Bu Cleo ...” panggil Devan. “Iya,” jawab Cleo sambil tetap memandang layar komputernya. “Apakah saya boleh bertanya sesuatu?” “Ya, tanya saja!” “Apakah Anda sudah punya pacar?” Mendengar pertanyaan Devan, Cleo langsung menoleh ke arah Devan. Mata mereka saling beradu. “Saya kan sudah bilang, jangan memasuki wilayah privasi saya. Saya tidak suka kalau ranah privasi saya diusik.” Cleo menghela napas panjang. Dia tidak ingin terbawa emosi lagi. “Mohon maaf, saya hanya penasaran. Kalau tidak mau menjawab tidak apa-apa.” “Saya punya pacar atau tidak, itu bukan urusan kamu!” Cleo berbicara dengan ketus. “Oke, tidak masalah.” Devan berucap dengan santai. “Lihat saja nanti,” ucap Devan lirih. “Apa? Kamu bicara apa?” Cleo mendengar ucapan Devan meski lirih. “Hehe tidak apa-apa, Bu. Mari kita lanjutkan pekerjaannya.” Cleo masih memikirkan ucapan Devan. Dia sangat takut Devan akan mengirimkan orang suruhan untuk menjadi paparazi. Batin Cleo tidak tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN