“Cleo, sudah beberapa hari kita tidak berjumpa. Ini semua sangat berat untukku. Bagaimana kabarmu? Apakah kamu masih mengingatku?” Devan mengetik pesan di w******p untuk Cleo. Ingin rasanya dia mengirimkan pesan itu. Namun, dia tidak mau terlihat gampangan mengejar Cleo. Devan pun menghapus pesannya.
“Cleo, apa kabar?” Devan mengetik ulang pesan untuk Cleo. Dan mengirimkannya. Dia sangat cemas. Jantungnya berdebar. Devan khawatir Cleo akan cuek dan tidak menanggapi pesannya. Dia pun tidak bisa bekerja dengan tenang. Untung saja pekerjaannya bisa dihandle oleh Malvin, orang kepercayaannya di kantor.
Pesannya untuk Cleo sudah centang dua. Namun, Cleo tampak tidak online. Lagi-lagi Devan overthinking. “Jangan-jangan Cleo sudah tidak ingat dengan kejadian hari itu. Padahal aku sudah memeluknya, menenangkannya. Masa sih dia tidak ingat?”
Pesan itu masih belum centang biru. Devan semakin tidak tenang. Selang satu menit, Devan selalu mengecek pesan yang dikirim kepada Cleo. Waktu pun berganti. Sudah satu jam pesan itu masih belum terbaca. Lalu, Devan mengecek lagi. “Wah sudah centang biru.” Wajah Devan berbinar. Ada tulisan online, tapi belum terlihat foto profil Cleo. Kemudian, tulisan online itu menghilang. Belum ada balasan dari Cleo. Devan pun mencoba untuk berpikir positif bahwa Cleo mungkin sedang sibuk bekerja. “Ya sudahlah, aku tunggu saja sambil mengerjakan pekerjaan yang terbengkalai ini.”
Devan pun berjibaku dengan pekerjaannya. Dia sedang berada di kantornya sendiri. Terkait pemindahanya di kantor cabang milik Pak Rudy, tentu saja itu semua hanya sandiwara.
Malam pun menjelang. Cleo belum membalas pesan dari Devan. Hingga pukul 9 malam, ada notifikasi dari Cleo. “Siapa ini?”
Semula, wajah Devan sudah tidak sbar untuk membuka pesan dari Cleo. Namun, setelah melihat isi pesannya hanya dua kata, Devan langsung cemberut. Dia pun membalas pesan Cleo, “Orang yang memelukmu di lorong.”
Untuk kedua kalinya Cleo hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Devan semakin overthinking dan tidak tahu harus berbuat apa. “Kenapa Cleo tidak membalas pesanku ya? Apa dia marah sama aku? Atau jangan-jangan dia sudah jadian sama Ronal.”
Pukul 10 malam ada balasan dari Cleo, “Oh. Ada apa, Devan?” Devan tidak habis pikir dengan pesan Cleo. Awalnya, dia sangat excited untuk mengirim pesan kepada Cleo setelah kurang lebih satu minggu dia harus menahan diri untuk tidak mengirim pesan terlebih dahulu padanya. Hari ini, dia tidak kuasa menahan keinginannya untuk menyapa Cleo lewat pesan w******p. Nyatanya, Cleo sangat dingin kepadanya.
Banyak teman-teman Cleo yang bercerita bahwa Cleo sangat cuek dengan laki-laki. Banyak yang menginginkan untuk bisa dekat dengannya, tapi banyak pula yang ditolak. Devan mengingat kembali kejadian di saat dia menjadi secret admirer. Cleo justru tidak mau diberi hadiah. Devan memberanikan diri untuk mendekati Cleo lewat chat lagi.
“Tidak apa-apa, Cleo. Apa kabarmu?”
“Baik.”
“Hmmm kamu masih ingat aku?”
“Pasti.”
“Apakah kita bisa bertemu?”
Cleo hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. “Duh, apa aku salah kata ya?” Devan mengeluh pada dirinya sendiri. Hingga tengah malam, Cleo belum membalas pesan itu. Devan sulit untuk memejamkan mata. Di pikirannya hanya ada Cleo.
Keesokan harinya, Cleo membalas pesan itu.
“Bisa.”
Devan teriak kegirangan, “Yes. Akhirnya dia membalas juga.”
“Di mana, Cleo?”
“Terserah.”
Devan berpikir sejenak. Dia memikirkan cafe romantis untuk bisa bertemu dengan Cleo. Devan menemukan satu tempat yang sangat pas untuk dinner bersama Cleo.
“Di Cafe Romansa gimana?”
“Boleh.”
“Malam Minggu besok bisa? Jam 7.”
“Bisa.”
“Aku jemput?”
“Gak perlu. Ketemu di sana.”
“Oke.”
Devan sangat bahagia. Akhirnya dia bisa dinner romantis dengan Cleo. Devan sangat tidak sabar menantikan datangnya malam Minggu. Kurang tiga hari lagi. Dia mulai merencanakan konsep acara makan malam dengan Cleo, mulai dari lilin, bunga, menu, dan lain sebagainya agar malam itu menjadi malam yang tidak terlupakan untuknya.
Akhirnya, hari Sabtu pun datang. Devan telah siap dengan semua konsep makan malam yang romantis. Dia mengingatkan Cleo soal dinner malam nanti.
“Selamat siang, Cleo. Jangan lupa nanti malam kita dinner di cafe Romansa ya. Jam 7 malam.”
“Oke.”
“See you.”
Seperti biasa Cleo hanya membaca pesan Devan tanpa membalasnya. Namun, perlahan Devan sudah terbiasa dengan hal itu. Justru dengan begitu, dia menjadi semakin penasaran dengan Cleo. Banyak hal yang membuat Devan ingin mengenal lebih dekat, selain karena alasan Cleo sudah berhasil mengambil hatinya. Cleo sangat misterius dan cuek. Namun, di sisi lain, dia seorang yang hangat dan penyayang. Perpaduan itu yang membuat Devan semakin tertarik pada Cleo. Ketika di w******p, Cleo tampak seperti perempuan yang sangat cuek. Namun, ketika bersamanya secara langsung, Devan merasakan kelembutan hati Cleo.
Pukul setengah 7, Devan sudah di tempat. Dia tidak ingin terlambat. Tempat sudah ditata sesuai dengan request-nya. Semua sudah tampil sempurna. Setelan jas hitam membuat Devan sangat tampan dan elegan. Sangat tampil berkelas. Dia tidak sabar ingin segera berjumpa dan dinner dengan kekasih hatinya. Jam menunjukkan pukul 18.59. Hati Devan semakin berdebar.
Sudah pukul 7 tepat. Namun, Cleo tidak kunjung hadir. Devan ingin mengirimkan pesan, tapi dia tidak ingin terlihat terlalu agresif. Hingga pukul setengah 8, Cleo belum juga hadir. Devan berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia memutuskan untuk menunggu hingga jam 8. Jika pada jam 8 Cleo tidak datang, dia akan meneleponnya.
Pukul 19.50. Seseorang muncul dari keremangan malam. Ya, itu Cleo. Devan langsung tersenyum bahagia.
Sambil mengatur napas yang masih ngos-ngosan, Cleo meminta maaf pada Devan. “Van, maaf ya. Aku terlambat.” Rambut Cleo berantakan. Wajahnya tampak lelah, tapi masih terlihat sangat cantik.
“Tidak apa-apa, Cleo. Silakan duduk.”
Cleo pun duduk sambil menoleh ke segala arah. “Van, apa-apaan ini?”
“Bukan apa-apa, Cleo. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik di malam dinner ini,” kata Devan sambil tersenyum. Cleo sangat terenyuh dengan usaha Devan. Dia sangat ingin menangis karena terharu, tapi dia malu.
“Ini terlalu berlebihan, Van.”
“Gak kok. Aku menghargai waktumu.”
“Duh, aku jadi semakin gak enak sudah datang terlambat. Tadi ada kerjaan di kantor.”
“Hust. Sudah tidak apa-apa. Silakan makan. Kamu sudah makan belum?”
“Belum. Lapar sekali aku,” kata Cleo sambil memegang perutnya yang mulai melilit.
“Ayo kita makan.”
Cleo dan Devan makan malam di tengah nuansa yang romantis. Ini adalah kali pertama Cleo dinner dengan lelaki yang sangat istimewa baginya. Devan pun sangat menunjukkan usahanya untuk memberikan yang terbaik di momen itu. Tak terasa air mata menetes di pipi Cleo. Dia pun segera menghapus air mata itu dengan telapak tangannya.
‘Cleo, kenapa kamu menangis?” Devan melihat air mata Cleo yang mengalir di pipi.
“Ah tidak apa-apa, Van,” jawab Cleo dengan senyuman.
“Cleo, aku minta maaf ya kalau sikapku salah.” Devan sangat khwatir Cleo bersedih karena sikapnya.
Air mata Cleo semakin deras mengalir. Dia tidak bisa berkata-kata. Cleo mencoba untuk menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Semakin dia menghapusnya, semakin deras pula air mata itu mengalir.
“Cleo, tenangkan dirimu ya.” Devan menghapus air mata Cleo dengan sapu tangannya. Devan menenangkan Cleo.
“Devan, terima kasih banyak ya,” ucap Cleo sambil terisak.
“Sama-sama, Cleo. Tenang dulu ya. Tarik napas perlahan.”
Cleo pun menarik napas panjang. “Jujur aku terharu dengan semua ini, Van. It’s my first time. Tapi kamu jangan berpikir yang macam-macam dulu ya. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya terharu dengan effort-mu mempersiapkan ini semua.”
“Kamu suka?”
Cleo mengangguk. “Suka banget.”
“Syukurlah,” kata Devan sambil menarik napas panjang. Rasanya dia sangat lega karena Cleo suka dengan semua yang sudah dipersiapkannya. Mereka pun tersenyum bersama. Mata Cleo berbinar. Devan juga tampak bahagia.
Di saat suasana sedang romantis, tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.
“Cleo...!” Seseorang itu memanggil Cleo dengan nada tinggi. Cleo dan Devan menoleh bersamaan. Seorang pria berdiri di samping meja mereka sambil melotot pada Cleo. Cleo kaget dan langsung berdiri. Wajah Cleo tampak pucat.
“Papa...!”
Devan sangat kaget dengan perkataan Cleo yang memanggil pria itu dengan sebutan Papa.