Bab 8| Misi Pembunuhan
Lari dari kenyataan dan ingin menghindar dari kejahatan orang-orang yang akan mengacaukan dunia, sungguh bukan tipe seorang RAN SERA. Ia hanya seorang gadis SMA yang sudah memiliki kemampuan di atas rata-rata. Dan kali ini, dia akan bertarung serta introspeksi diri. Menilai, sudah seberapa hebatkah dirinya.
--------
"Percuma membuang waktu! Jika hanya menatapnya, sama saja dengan membuat musuh semakin dekat!" decak ku bertolak pinggang.
Setelah sampai di garasi, aku segera mengeluarkan mobil Porsche kesayangan. Segera menancapkan gas, dan melaju.
Sekarang, malam ini, tepat pada pukul 00.00 A.M dimana pergantian waktu tiba. Aku, RAN Sera akan mulai beraksi melawan misi pembunuhan ini.
*****
"Tunggu dulu! Selagi mereka masih fokus dengan sinar laser nya, aku harus mencari pusat incarannya" Ucapku
Aku segera berlari menaiki tangga apartemen menggunakan senter untuk menerangi jalan. Maklum saja, sesuai desas-desus para warga, apartemen ini tak di huni lagi. Dan di gunakan untuk menyimpan barang-barang berharga keluarga Louis-pamanku.
Dan oleh karena itulah, aku segera bereaksi. Aku harus jaga-jaga, jika sesuatu yang buruk terjadi maka setidaknya aku sudah siap sedia untuk mengalihkan perhatian mereka sementara.
Menghadapi ruangan gelap seperti ini, aku tak perlu gentir lagi. Sekarang tujuanku hanya satu! Yakni, aku harus segera sampai di atap paling atas apartemen ini.
Sesuai pemandangan mata telanjang ku tadi, aku melihat samar-samar sebagian orang ada di atap itu juga.
Saat aku berjalan di sebuah ruangan beratap kaca, tiba-tiba saja sesuatu jatuh dari atas sana. Dentingan suara kaca terdengar begitu nyaring dan juga serpihannya bertaburan dimana-mana.
Menyadari jika sesuatu itu ternyata adalah seseorang, aku bersembunyi di balik sebuah tabung yang entahlah, aku juga tidak tahu tabung apa itu dan segera mematikan senter genggam ku.
"Are you stupid?! Why did you even push me, earlier?" bentak salah satu diantaranya yang aku yakini dia seorang wanita.
"Hey...it's not my fault! We both fell, still grateful I can protect you" elak yang satunya, dan aku yakin jika dia adalah seseorang ber-gender pria.
"Tch... protect me? Don't make too many excuses. I know if you just take advantage of the situation, so you can hug me" decak wanita itu bangkit.
"Haha...isn't that your wish?" pria itu menyahuti di selingi oleh gelak tawanya yang merdu.
'Tunggu! Apa mereka bukanlah penduduk di sini?! Apa mereka penjahat dari luar?!' batinku bertanya-tanya.
Pranggg......
Namun tanpa aku sadari, aku telah menjatuhkan senter genggam itu. Jika tadinya benda itu masih ku genggam, namun sekarang
telah tergelincir ke lantai dan malah mendekati kedua manusia sampah tadi.
Scyitttttt.......
Begitulah suaranya saat benda itu tepat berhenti di depan kaki pria yang di lapisi sepatu hitam itu.
Aku melihat tangan nya mengambil senter itu, kemudian menatap ku.
Apa dia bisa melihatku? Tapi itu tak mungkin, jelas-jelas sekarang kondisinya gelap. Aku rasa, dia hanya menatap ke arah ku karena jelas-jelas dari arah ku lah asal senter itu.
"Turns out someone was watching us!" ucap pria itu
Wanita itu samar-samar mengangguk "Guess who? Was he the one who occupied this apartment before?? Whoever he is, I will not let him escape from my grasp. Blame yourself for daring to meddle in our mission this time! Get ready to reward your body for the starlings to eat, over there!"
Perlahan tapi pasti, aku bisa merasakan jika mereka mulai mendekat ke arahku.
Keduanya berteriak dan mulai meluncurkan anak peluru untuk menembak ku "damn bastard!!" umpatnya teriak.
"Ahh...shit!!" omelku.
Bertahan memang lebih baik jika nantinya harus kalah. Tapi terus bertahan tanpa melakukan p*********n bukanlah tipeku.
"If that's the case, I'll pay you back ten times over!" teriakku dan keluar dari persembunyian.
Balas menyerang, aku menembak mereka secara diam-diam. Karena bagaimanapun, jika menyerang dengan cara membabi buta itu sama saja dengan menyerang kecerobohan sendiri.
Aku mulai bergerak, kemudian bersembunyi setelah menembak bagian tubuhnya yang mudah membuat lumpuh sesuai bidikan ku tadi. Begitulah yang aku lakukan. Karena jika aku ikut melakukan perlawanan secara membabi-buta, sudah bisa dipastikan aku yang akan kalah.
Lengang.....!!
Setelah 30 puluh-menit berlalu, akhirnya kedua lawan bisa tumbang dibuat oleh ku.
Mengambil senter yang sudah kembali ke dalam genggamanku, aku perlahan mendekati kedua mayat wanita dan pria yang tadinya menjadi lawan.
Mendekatkan sinar senter ke wajahnya, dari parasnya aku langsung bisa mengenalinya.
Aku hanya mengangguk "Ohw?! Ternyata mereka ini orang Rusia" gumam ku.
Meluncurkan dua peluru ke d**a masing-masing untuk memastikan jika mereka mati total.
"Apa mereka ini pembunuh bayaran yang melakukan misi dari para mafia Rusia?! Tapi jika benar, kenapa cara mereka menggunakan senjata tadi sangat kacau?"
Teringat akan sesuatu "Ahh...benar!! Inikah yang dinamakan dengan trik? Membuat musuh kocar-kacir dan mengundang emosi nya, otomatis mereka akan menyerang dengan membabi-buta. Ternyata trik yang diberikan paman Alex benar-benar penting, hehe" aku tersenyum sumringah.
"Sekarang, semua kata-kata tadi akan ku kabulkan. Enyalah! Aku akan membiarkan kalian disini, untuk makanan para burung jalak di siang hari"
*****
"Hufttt... benar-benar orang yang menjengkelkan" aku menghela nafas, begitu melihat sebuah benda bulat berwarna hitam dengan serabut tebal namun pendek yang ada di pucuknya.
Benda bulat itu berjejer di antara kotak yang di susun secara acakan.
Dengan mata telanjang, aku juga melihat sebuah benda berwarna merah dengan bentuk seperti roket ukuran minim yang bersusun rapat. Dan ada dikenakan seperti alat penghitung waktu.
"Apa itu bom?" tanya ku pada diri sendiri dengan suara pelan.
Begitu mendengar aba-aba dari salah satu diantaranya aku antara terkejut dan emosi, segera berlari dengan kencang.
"Tunggu apa lagi?! Cepat aktifkan dan pastikan meledak dalam hitungan lima puluh detik! Segera" teriaknya.
Kini, sinar laser sudah di padamkan. Mereka mulai bergegas dan hendak melarikan diri.
Namun sebisanya, aku berlari menggunakan trik-trik yang baru saja aku kuasai. Maklum, trik itu adalah trik tingkat tinggi yang sulit untuk di praktekkan.
Kini tujuanku untuk membuat jebakan kepada pelaku, untuk tetap berada di area bom sebelum benda itu meletus.
Bagaimanapun aku tak bisa lagi menghentikannya. Bom itu telah di aktifkan dengan permanen.
"Kenapa malah lari pengecut?? Matilah kalian b******k" teriak ku mengeluarkan pistol.
Kali ini aku menembak mereka dengan cepat dan beberapa diantaranya ada yang tewas.
Saat dua-tiga orang hendak menyerangku, bom itu tiba-tiba saja berbunyi menandakan waktu letup nya mulai dekat.
Lima...
empat...
tiga....
dua...
satu..
0.5.....
0.0....
Darrr......