Konser telah selesai dan semua penonton sudah pulang ke rumah masing-masing kecuali Zero dan Luna. Keduanya berniat untuk menyapa Elizabeth dan Martin sejenak di backstage, sekadar memberi salam perpisahan karena mereka mungkin tidak akan bertemu lagi. Well, itu yang dipikirkan oleh Zero, tetapi ia tidak memberitahu maksud dan tujuan itu pada Luna karena berpikir gadis itu sudah mengerti.
Namun, kebalikannya, Luna sungguh tidak tahu apa-apa. Dia terlalu heboh bertepuk tangan seperti orang kesurupan saking terpesonanya pada pertunjukan musik tadi, hingga tidak menyadari kalau Zero juga ikut berdiri. Ia pikir lelaki itu tetap berdiam di tempatnya seperti biasa, tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Karena itu, saat ini si gadis bermata cokelat berpikir kalau waktu "pertunjukkan" mereka telah dimulai. Ia masih menganggap Zero membenci Elizabeth dan ingin membalas dendam, karena itu Luna sudah mempersiapkan dirinya untuk berakting sebagus mungkin agar tidak mengecewakan.
Mereka berjalan dengan berdempetan karena sesekali Luna masih sering kehilangan keseimbangan. Kakinya bahkan nyaris terkilir saat ia bertepuk tangan dengan heboh tadi, sungguh ceroboh. Ia terlalu terbawa euforia dari suasana konser, benar-benar pertunjukkan yang indah!
Keduanya memasuki koridor sepi yang menggiring mereka menuju pintu yang terletak di bagian ujung gedung. Terlihat terlalu kosong, seperti tidak ada orang di sana.
"Nah, kau yakin mereka masih di sini?"
"Tentu saja. Aku sudah memastikan mereka belum keluar. Kau tenang saja." Zero mengangguk yakin, dan hal itu membuat Luna hanya bisa menerima tanpa berkata apa-apa lagi. Gadis itu menarik napasnya kala mereka sudah semakin dekat, yang berarti dia juga harus mulai beraksi sebagai pacarnya Zero.
Well, tunggu dulu, sekarang bagaimana ia harus bereaksi?
Haruskah ia tertawa dan memuji penampilan Elizabeth-Martin, seperti apa yang ingin ia lakukan?
Atau, Luna justru harus berpura-pura dingin dan bersikap acuh tak acuh agar ia terlihat berkelas?
Ah, dia bingung. Zero tidak menjelaskan segalanya dengan rinci tentang bagaimana Luna harus bereaksi, lelaki itu hanya membahas soal balas dendam dan bagaimana perlakuan Elizabeth padanya.
Dia bilang Elizabeth menganggapnya belum move on, dan Zero ingin membuktikan kalau lelaki itu sudah melupakan Elizabeth sepenuhnya.
Jadi, apa itu berarti Luna harus bersikap seolah Zero adalah miliknya, dan membuat kesan bahwa Zero sudah jatuh cinta dan tergila-gila pada Luna, jadi lelaki itu tidak punya kesempatan untuk memikirkan gadis lainnya lagi?
Begitukah?
Pintu terbuka diiringi oleh Zero dan Luna yang masuk dengan canggung. Tidak banyak orang di sana, sepertinya staf ... dan kala mereka melihat kehadiran keduanya, manusia-manusia itu langsung keluar dan meninggalkan ruangan. Memberi Elizabeth dan mereka privasi untuk berbicara.
"Zero, aku tidak menyangka kau datang." Elizabeth berdiri dari posisinya dan menatap Zero dengan mata berbinar, di samping gadis itu ada seorang pria dengan mata hijau yang indah. Serasi dengan netra milik Elizabeth. Mereka tampak cocokbersama, dan dengan ramah sang pria mengulurkan tangannya pada Zero dan Luna.
"Kita belum pernah berkenalan, bukan? Namaku Martin Abetuous. Suami Elizabeth."Dia tersenyum lembut dan memperkenalkan diri, sama sekali tidak ada kesan kemarahan atau cemburu yang ia layangkan pada Zero, dan lengkungan manis itu sejujurnya nyaris membuat Luna terpesona.
Tentu saja dengan cepat Luna berdehem dan mengendalikan diri, ia dan Zero sama-sama membalas jabatan tangan itu dan memperkenalkan diri.
"Uhm, well, jadi apa alasan kalian kemari?" Martin membuka pembicaraan saat mereka telah selesai berkenalan. Suasananya terlalu awkward. "Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan?"
"Uhm ...." Elizabeth memiringkan kepala. Menatap Luna dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai, sama seperti kemarin. Namun, pandangannya terasa sedikit berbeda. Entahlah, Luna sendiri tidak yakin. "Apa kau sungguh gadis yang sama dengan yang Zero bawa kemarin?"
Luna sempat melongo mendengarnya, untungnya otaknya bekerja sedikit lebih cepat hari ini, jadi ia bisa mengerti maksud perkataan Elizabeth meski butuh beberapa waktu.
"Tentu saja," balas Luna dengan senyumannya, ia merapatkan tubuhnya pada Zero, menunjukkan sisi posesif. Lalu, Luna menyenderkan kepalanya di bahu Zero dengan tangannya yang memegang lengan lelaki itu kuat, karena gugup. "Aku adalah tipikal orang yang setia. Kau tahu ... aku hanya setia pada satu lelaki, tidak seperti seseorang."
Perkataan itu membuat Zero menoleh dan mengerutkan dahi. Butuh beberapa detik baginya untuk sadar, kalau saat ini Luna tengah berakting sesuai dengan perintahnya kemarin. Sialnya, Zero berpikir Luna sudah mengerti kalau saat ini kemarahan dan kebenciannya telah menguap begitu saja. Gadis itu sungguh tidak tahu?
Suasana seketika menjadi canggung karena perkataan Luna, Elizabeth terlihat tidak nyaman di tempatnya begitupula dengan Martin. Situasi yang mencekik ini sempat membuat Zero ingin membenturkan kepalanya keras-keras ke tembok. Dia sungguh bodoh!
Elizabeth mendongak lalu maju satu langkah mendekat ke arah Zero dan Luna. Dia menatap keduanya dengan tatapan sedih, seolah terluka dengan perbuatan yang ia lakukan sendiri. Wajahnya yang memelas itu membuat ada sesuatu di dalam diri Zero yang terasa berdenyut. Sejak awal, dia memang terlalu egois untuk membenci Elizabeth hanya karena gadis itu menemukan seseorang yang lebih baik dari dirinya, dia terlalu kekanakan dan mementingkan egonya sendiri. Untungnya, sekarang Zero sudah sadar akan hal itu.
"Aku minta maaf, Zero. Aku sungguh minta maaf karena pernah meninggalkanmu. Kau tahu, aku tidak pernah bermaksud demikian. Aku mencintaimu, sungguh. Namun, kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Karena dengan Martin, aku merasa menemukan bagian dari diriku yang tidak pernah aku jumpai saat bersama denganmu. Bersama Martin, aku merasa lebih hidup, dan bersama Martin, aku sadar kalau cinta itu sungguh ada. Cinta yang memahami satu sama lain, mengerti, dan saling melengkapi, bukan cinta yang sekadar mengenal hasrat dan nafsu."
Perkataan itu menusuk ke ulu hati Zero. Elizabeth sungguh sudah menjadi sosok yang berbeda karena dia mengenal Martin, dia sudah tumbuh dengan dewasa, dan sebenarnya Zero tidak berhak untuk membencinya karena keputusan ini. Gadis itu juga berhak untuk berbahagia, meski orang yang membuatnya tersenyum ... bukan Zero.
Kepala Luna puyeng mendengar perkataan Elizabeth, dahinya berkerut dengan bibir bawah yang digigit. Ia berusaha memahami setiap makna dari deretan kalimat yang dikeluarkan. Namun, gadis itu berbicara terlalu cepat, membuat Luna rasanya ingin menangis karena tidak mengerti.
Zero tampak diam di tempat, seolah berpikir. Menyadari hal itu, Luna kira saat ini adalah waktu di mana dia bisa bereaksi. Ia sudah bertanya kepada Eliora tadi, kata-kata apa yang pas untuk mengumpat pada seseorang, dan penata riasnya itu memberitahu Luna segala kata umpatan.
Gadis itu menarik napasnya pelan dan memejamkan mata kala ia sadar, ia harus segera beraksi. Dengan napas yang memburu karena gugup, Luna mengalungkan tangannya pada leher Zero, menariknya dengan cepat dan mencium lelaki itu ganas. Ia bahkan tak segan melumat bagian bawah bibir Zero, dan bertingkah seolah ia menikmati ciuman itu.
Zero membeku di tempat kala Luna tiba-tiba menariknya dan menciumnya seperti ini, lelaki itu bahkan tidak mampu untuk bergerak, tubuhnya membeku!
Baik Elizabeth dan Martin sama-sama takjub dengan apa yang terjadi di depan mereka, tidak pernah keduanya sangka ciuman itu akan terjadi dengan begitu tiba-tiba, apalagi di situasi yang tidak pas.
Luna melepaskan pangutannya dari bibir Zero dan menatap ke arah Elizabeth nyalang. Netra cokelatnya itu terlihat yakin kala memandang, seolah ia telah berubah menjadi sosok yang berbeda. Bukan Luna yang tumbuh di panti asuhan, atau gadis yang pasrah kala ia dipaksa beruhubungan seksual dengan Zero. Namun, Luna yang mampu membantah ucapan Zero dan meminta imbalan atas jasa yang ia lakukan.
Well, apakah ini sosok lain dari dirinya? Atau justru, sifatnya sudah berkembang karena sudah terbiasa bersama dengan Zero?
Entahlah, ia sendiri tidak yakin.
Luna melirik ke arah telapak tangannya sejenak, sebelum dia berkata dengan lantang pada Elizabeth. "Get f*****g away from my man, you bitcj. He doesn't need you anymore. Understand that, asshole?"