Luna baru saja menginjakkan kakinya di depan panti asuhan Matahari, saat dia melihat beberapa barang miliknya berada di depan pintu. Panik serta bingung, Luna menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari seseorang yang mungkin bisa menjelaskan situasi yang terjadi.
Gadis itu masih menggenakan seragam SMA Bhakti Mulia saat ia menggedor pintu depan panti asuhan yang terbuat dari kayu buruk. Memanggil nama Ibu panti yang selama ini mengasuh Luna dengan sekuat tenaga.
Hal ini tidak terjadi tanpa alasan, karena ... jika barang-barang salah satu anggota panti berada di luar, maka itu berarti mereka akan diadopsi. Pemikiran itu membuat Luna bingung, karena Bu Fahmi tidak ada membicarakan soal hal ini sebelumnya.
"Ibu? Ibu Fahmi?" teriak Luna sambil mengayunkan tangannya pada kayu itu. Beberapa kali ia berteriak putus asa untuk mencari penghuni panti, tetapi mereka semua seolah lenyap.
Apa mereka semua sedang pergi?
"Ah, tidak mungkin. Azril kan sedang sakit, jadi mana mungkin Bu Fahmi bisa pergi," gumam Luna pada dirinya sendiri.
Gadis itu terus mencoba beberapa kali, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Luna baru saja hendak kembali mengedarkan pandangan saat dia melihat salah satu anak panti baru saja pulang sekolah. Dia Randy, usianya baru sepuluh tahun, tetapi dia adalah sumber informasi Luna.
Randy sering kali menguping pembicaraan penting antara Ibu Fahmi dengan donatur ataupun orang yang ingin mengadopsi anak panti. Berkat dia, Luna tahu banyak hal yang seharusnya tidak ia ketahui. Seperti, tentang Bu Fahmi yang tidak mengizinkan seorang pun mengadopsi Luna, entah apa alasannya.
"Randy!" teriak Luna senang. "Kamu tahu, ke mana semua orang?"
"Loh, barang Kakak di luar?" Randy memiringkan kepalanya saat melihat tas Luna berad di depan pintu, ia bahkan mengabaikan pertanyaan Luna.
Luna mengangguk. "Aku gak ngerti juga. Bu Fahmi tidak menjawab saat dipanggil dan pintunya terkunci."
"Bukannya Kakak hari ini pindah, ya?" Randy bertanya, membuat Luna mengerutkan dahinya heran.
"Pindah? Huh? Bu Fahmi tidak bilang apa-apa." Luna menjelaskan dengan wajah yang bingung. Ia berusaha mengingat-ingat kembali percakapannya dengan Bu Fahmi kemarin, tetapi tidak ada yang janggal. Kecuali mimik wajahnya yang terkesan sedih saat menatap Luna.
"Itu ... katanya kakak diadopsi." Randy menundukkan wajahnya. "Oleh seorang pengusaha," lanjutnya pelan.
"Hah? Aku?" Luna semakin tidak mengerti dengan situasi yang ada. Perkataan Randy yang biasanya benar membuat kebingungannya semakin menjadi-jadi.
Saat Luna hendak bertanya lebih jauh, suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya. Di sana, ada Bu Fahmi yang tampak kurus dan pucat, yah, semenjak Azril—anak kandung Bu Fahmi, Ibu panti yang membesarkan Luna sejak kecil—sakit, sikap Bu Fahmi memang jadi sedikit berbeda.
Sejujurnya, Luna juga tidak tahu Azril mengidap penyakit apa. Akan tetapi, sepertinya cukup serius sampai-sampai semua uang pembangunan panti yang mereka tabung nyaris ludes terpakai untuk biaya pengobatan.
"Luna ...," panggil Bu Fahmi lemah.
Luna nyaris saja memeluk Bu Fahmi dan bertanya tentang keadaan yang sedang terjadi sebenarnya saat Bu Fahmi memanggil namanya. Dia bingung.
Sesungguhnya, sejak dulu Luna memang tidak pernah berniat untuk pergi dari panti ini, karena itu dia begitu bahagia saat Randy bilang Bu Fahmi tidak mengizinkan siapa pun mengadopsinya.
Akan tetapi, sekarang apa? Kenapa semuanya berubah di saat Luna masih sangat ingin tinggal di sini?
"Ada sesuatu yang harus Ibu bicarakan, tetapi Ibu tidak bisa lama karena sebentar lagi Ibu harus ke rumah sakit." Bu Fahmi menatap Luna sendu. Melihatnya, Luna langsung memalingkan pandangan.
Mata gadis itu terasa panas, memikirkan ia harus meninggalkan panti ini setelah 14 tahun tinggal di sini membuat tangis Luna nyaris meledak.
"Aku—" Luna hendak berkata-kata, tetapi Bu Fahmi memotongnya.
"Kau harus keluar dari panti ini. Ibu menemukan seseorang mau menampungmu. Dia seseorang yang kaya, dia memiliki rumah yang besar, dan dengan hartanya, kau pasti bisa bahagia, Luna. Kau bisa membeli hal yang selalu ingin kau beli, kau bisa tidur dengan AC, kau bisa menonton TV tanpa harus mengalah dengan yang lain, kau bisa membeli baju baru kapan saja. Tidak seperti saat kau hidup di sini."
Setetes air mata jatuh dari netra cokelat milik gadis itu, membuat Luna cepat-cepat menghapusnya. Perkataan Bu Fahmi membuat tangisnya nyaris meledak. Ia mengigit bibir bawahnya keras, agar isakkannya tidak terdengar.
Sesungguhnya, Luna hanya tidak ingin memperburuk keadaan. Melihat sorot mata Bu Fahmi, Luna juga mengerti kalau pilihan ini diambil setelah pertimbangan yang panjang. Selama ini Bu Fahmi selalu menjaganya, dan Luna tidak bisa membalas semua jasa atas apa yang telah beliau berikan pada Luna selama ini.
"Kau tak perlu berbagi lagi, Luna. Sekarang, berbahagialah. Carilah kebahagiaanmu sendiri, dan lupakan panti ini. Kau lebih dari berhak untuk bahagia, dan Ibu harap lelaki itu bisa memberikanmu apa yang kau cari selama ini."
Luna tidak lagi mendengar perkataan Bu Fahmi, dengan tangis yang meledak, gadis itu memeluk tubuh wanita paruh baya yang telah mengurusnya selama ini dengan erat.
Dia tidak ingin pergi, rasanya demikian. Akan tetapi, Luna tahu dia tidak bisa egois. Semuanya telah diatur sedemikian rupa, dan Bu Fahmi setuju untuk melepasnya.
Setelah 14 tahun tinggal di sini, Luna merasa berat untuk sekadar melangkah menjauh.
"L-luna enggak bakal lupa sama Ibu, Luna juga gak bakal lupa sama anak-anak lain. Luna janji bakal sering ke sini, Bu. Makasih sudah rawat Luna selama ini, maaf kalau Luna merepotkan. Maaf kalau Luna belum bisa jadi anak yang baik. Maaf kalau Luna belum bisa buat Ibu bangga. Meski Luna bukan anak kandung Ibu, tetapi Luna beneran sayang sama Ibu."
"Luna harus bahagia. Mengerti?" Bu Fahmi tersenyum, wajah keriputnya itu terlihat sedih. "Jangan sakit, jangan lupa makan, jangan nakal, dan jangan lupa ... kalau Luna juga layak dicintai."
Luna mengangguk mendengarnya, air matanya kembali terjatuh. "Pasti, Bu. Pasti."
Mereka berdua kembali berpelukan dengan tangis yang pecah, terdengar menyedihkan untuk siapa pun yang mendengarnya.
Luna sungguh tidak ingin pergi dari tempat ini, dia terlalu takut untuk bertemu dengan orang yang mengadopsinya. Dia terlalu takut untuk membiasakan diri dengan orang asing. Dia terlalu takut ... untuk melangkah ke dunia luar.
Dunia di mana tidak ada lagi Ibu Fahmi di dalam hidupnya.
"Bu, siapa yang mengadopsi Luna?" Luna bertanya saat pelukan mereka sudah terlepas. Ia mengelap cairan bening itu dengan tangan, dengan wajah yang memerah Luna berusaha untuk menghentikan air matanya.
Dia tidak ingin terlihat lemah, dan dia juga tak ingin Bu Fahmi terus bersedih. Karena itu, Luna akan bertingkah seolah-olah dia siap dengan perubahan ini. Setidaknya untuk sebentar, dia harus berpura-pura.
"Apa kau tahu Zero Group?" tanya Bu Fahmi lemah.
Luna menggelengkan kepala, merasa asing dengan nama itu. Dia tidak pernah menonton berita, apalagi membaca artikel. Jadi dia kurang familier dengan nama perusahaan. Yang ia sukai hanyalah webtoon dan novel. Tempat yang membuat Luna bisa berandai-andai menjadi tokoh utama.
"Dia CEO tampan, Luna. Namanya Zero Bennedict Alexandriou. Blasteran Inggris-Indonesia. Terlihat cukup matang untuk mengadopsimu, dan sesungguhnya ...."
Luna mengernyit saat Bu Fahmi menggantungkan ucapannya di udara, membuat gadis itu gemas sendiri saat perkatan yang terputus itu tidak dilanjutkan untuk beberapa detik.
"Sesungguhnya apa, Bu?" tuntut Luna penasaran.
"Sesungguhnya ... dia tidak berniat untuk mengadopsimu, Luna. Melainkan, dia berniat untuk mempersuntingmu.”