"Proyek ini membuatku harus lembur." Zero menggerutu, dia baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah sakit hati karena Luna mengusirnya secara tak langsung, jadi dia langsung meninggalkan gadis itu tanpa kata. Sesungguhnya, Zero hanya butuh waktu untuk menerima segalanya. Perasaan aneh yang entah sejak kapan mengisi relung hati itu terasa tak nyata pada awalnya. Kehadiran Luke lah yang membuat Zero tersadar. "Saya minta maaf karena tidak bisa membantu." Suara itu terdengar dari ponsel Zero yang ditegakkan tepat di depan wajah lelaki itu. Zero menarik napas kala ia melihat layar ponselnya sedang menampilkan dua anak remaja yang tengah belajar bersama di ruang tengah. "Kau melakukan tugasmu dengan baik." Zero berkata pelan. Benar, saat ini ia memang berada di dalam kamar dan mengurusi pe

