5 Tahun Kemudian Bu Euis duduk di ruangan menunggu antrean pasien berikutnya. Pasien sebelumnya sudah keluar dari ruangannya. Selembar resep obat sudah diberikan kepada pasien sebelumnya untuk ditebus di apotek. Wanita itu membetulkan kerudungnya yang sedikit kurang rapi. Kemudian dia membaca nama pasien selanjutnya yang tertera di formulir. Cecep Permana, umur 43 tahun. Kok benar-benar sama nama dan umur dengan suaminya, pikir Bu Euis. Ah memang sebuah kebetulan barang kali, pikirnya lagi. Pintu berderit saat seorang lelaki masuk. Mata lelaki dan Mata Bu Euis saling beradu. Bu Euis merasakan ini seperti mimpi. Dia duduk terdiam. Serasa kakinya tidak berpijak ke lantai. Antara percaya dan tidak. Tatapannya tak berkedip memandang lelaki yang ada di hadapannya. "Permisi, bolehkah saya du

