Lembaran Baru

1468 Kata
Icha, Bu Euis, dan Aqila kini memandangi rumah megah yang selama ini mereka tempati. Rumah megah yang terdiri dari dua lantai. Halaman depan dan belakang yang cukup luas itu tinggal kenangan. Mereka hanya bisa mengucapkan selamat tinggal pada rumah itu. Mereka juga hanya bisa mengucapkan salam perpisahan pada seluruh kenangan yang melekat di sudut-sudut ruangan, kamar dan seluruh isi rumah dan benda-benda mahal yang ada di dalamnya. Empat buah mobil mewah di garasi yang semuanya produk keluaran Eropa. Seluruh isi rumah bukan lagi miliki mereka. Seluruhnya telah disita untuk mengganti semua kerugian negara. Hati Bu Euis terasa sesak telah kehilangan itu semua. Dia tidak bisa berbuat banyak. Tidak ada daya yang bisa dia lakukan kecuali harus menebus semua kesalahan. Icha memandangi ibunya yang masih enggan melangkah. "Ayo Ma, kita berangkat! Mumpung masih pagi. Langit udah mendung, kayak mau hujan, Ma." Mama terhenyak dari lamunannya. Dia menoleh ke arah Icha. Icha mengambil koper pakaian miliknya dan koper pakaian mama. "Ma, yakin barang yang kita angkut tinggal ini aja?" "Ya, Teh, dua hari kemarin kan waktu Teteh lagi di kampus, mama sudah packing barang yang masih milik kita dan diangkut pake mobil bak terbuka yang mama rental." "Oooh gitu, Icha cuma memastikan aja sih." Tangan Bu Euis terlihat pegal menggendong Aqila. Dia berulang kali membetulkan gendongannya. "Ma, Aqila makin berat sih ya?" "Iya, Mama boleh minta bantuan Teteh? Mau gendong Aqila apa ngangkut koper mama?" "Ah, Aqila berat sih," goda Icha sambil mencubit pipi Aqila yang tembem. "Teteh bawa koper Mama aja deh." Mama dan Icha pun melangkah. Icha melangkah sambil menarik dua koper. Untung jalanan datar sehingga dia merasa tidak kerepotan dengan dua koper besar yang memiliki roda di bagian bawahnya itu. Sementara Bu Euis menggendong putri bungsunya. Sesampai di jalan raya, Icha menyimpan kedua koper di sampingnya. Di trotoar dia menyetop sebuah angkot. Mereka masuk ke dalam angkot. Icha dan Bu Euis duduk saling berhadapan di bagian paling ujung angkot. Angkot pun melaju. Dari kaca belakang dan samping Bu Euis dan Icha masih melihat bagian halaman rumah yang sudah bukan milik mereka lagi. Rumah dan halamannya itu perlahan semakin menghilang dari pandangan mereka. Kedua pasang mata itu, saling melirik, seakan keduanya telah bersepakat sebelumnya. Mereka berdua kini menatap ke arah pemandangan yang ada di depan angkot. Jalanan terlihat padat. Cuaca mendung. Gerimis membasahi tanah di bumi baru yang hendak mereka pijak pagi itu. * Icha Sebulan setelah persidangan ayah, aku menghadapi sidang skripsiku. Tidak setegang saat menghadapi sidang yang menjatuhkan vonis hukuman untuk ayahku. Tidak ada yang istimewa dengan sidangku. Alhamdulillah lancar. Revisiannya pun tidak terlalu menguras pikiran. Bahkan aku bisa merevisi sambil apply lamaran ke berbagai perusahaan. Ada beberapa yang sempat memanggilku untuk interview. Namun belum ada kabar lagi diterima tidaknya. Mereka akan memberikan kabar via email atau aplikasi messengger jika lamaranku diterima. Aku masih suka ke kampus. Masih ikut bantu-bantu di sekre. Meskipun aku bukan lagi pengurus inti, tapi aku masih punya tanggung jawab untuk mereposisikan tugas-tugasku kepada adik-adik angkatanku yang nanti akan menggantikanku, terutama kepada Hera. Di sekre aku masih sering ketemu dengan Lina dan Nina. Seperti hari, ini aku juga akan bertemu dengan mereka. Aku merapikan diri di depan cermin sebelum berangkat. Kulihat pantulan tubuhku di cermin. Gamisku berwarna merah marun dan kerudung warna hitam. Setelah rapi, aku keluar kamar. Mama dan Aqila sudah berangkat lebih pagi. Aqila sekarang dititipkan di Daycare yang tidak jauh dari rumah sakit tempat mama bekerja. Kurang lebih sepuluh menitan aku habiskan waktuku untuk menikmati nasi goreng. Sebelum merapikan diri, aku sempat membantu mama membuat nasi goreng. Nasinya sisa kemarin dan masih bagus. Jadi aku hangatkan jadi nasi goreng dicampur telor, bawang daun dan kecap. Ada hal-hal baru yang sekarang aku mulai harus membiasakan diri. Jika dulu naik angkot atau minibus hanya seesekali. Selebihnya aku biasanya membawa kendaraanku sendiri. Kini aku tak punya kendaraan. Aku berangkat ke kampus naik angkot atau minibus. Rumah pun tidak sebesar yang dulu. Ruangan kamarnya sedang. Perabotan yang ada di dalamnya pun standar, tidak ada barang-barang mahal seperti dulu. Rumah yang sekarang ditempati adalah rumah yang dibeli oleh mama. Hasil kerja kerasnya sendiri, sama sekali tidak ada kontribusi uang dari Ayah. Aku mesti belajar banyak bersyukur. Usai sarapan, aku segera menghambur keluar. Perlu waktu sekitar delapan menitan jalan ke jalan raya. Melewati pangkalan ojek, mereka menawariku naik ojek. Aku menolaknya. Sejak aku aktif di dakwah kampus, aku tak pernah naik ojek, terkecuali mungkin jika tukang ojeknya perempuan. Tak jauh dari pangkalan ojek itu aku menyetop sebuah angkot warna hijau. Dengan angkot itu aku berangkat ke kampus. * Rapat berjalan dengan lancar. Rapat itu dipimpin oleh Hera, ketua baru. Aku tidak terlalu banyak memberikan pendapat. Pikiranku menjadi tidak fokus. Meskipun begitu masih bisa mengikuti rapat dan mengingat bagian-bagian penting yang didiskusikan untuk segera dieksekusi dalam jangka waktu semingu ke depan. Target-target sudah ditetapkan. Agenda besar yang ditetapkan pengurus adalah rekrutmen anggota dari kalangan mahasiswa baru dan memperbanyak kontak tokoh dosen-dosen berpengaruh di kampus. Mereka dikontak untuk mengopinikan bahwa Islam adalah jawaban untuk berbagai macam problem yang mendera bangsa ini. "Baik sepertinya, rapat akan segera kita akhiri," ucap Hera. "Tapi sebelum saya tutup, ada yang masih mau menyampaikan saran atau ide lain?" Hera diam sejenak. Tidak ada seorang pun di antara para peserta rapat yang mengeluarkan suara. "Kalau tidak ada, saya bacakan dulu point-point hasil keputusan rapat kita hari ini. Panitia rekrutmen sudah terbentuk. Listnya nanti saya tempel di mading. Masing-masing koodinator seksi silakan berembuk dengan anggotanya untuk menentukan jobdes dan targetannya. Nanti kita bahas lagi tiga hari ke depan. Kemudian agenda roadshow ke kalangan para dosen, sudah kita klasifikasikan. Kelompok mana menghubungi dosen siapa saja. Saya juga akan tempel. Untuk masalah hari dan jamnya silakan disesuaikan dimusyawarahkan lagi di kelompok masing-masing." Kemudian Hera menutup rapat itu dengan doa kifarat majelis. Tak terasa suasana siang di luar semakin panas. Beberapa jenak lagi, azan Zuhur berkumandang. Aku yang pernah menjabat sebagai ketua tahun sebelumnya merasa sudah lega. Amanahku sudah tuntas. Aku tinggal memikirkan masalah pribadiku, masalah keluargaku. Bukan berarti aku berhenti berdakwah. Aku tetap mengisi kajian, membina adik-adik angkatan. Akan tetapi peranku tidak dominan seperti tahun-tahun sebelumnya. Usai rapat, teman-temanku berkerubung. Di antara mereka ada yang membawa cemilan dan saling berbagi. "Eh, enak banget nih," Usai rapat, teman-temanku berkerubung. Di antara mereka ada yang membawa cemilan dan saling berbagi. "Eh, enak banget nih, jamur crispynya," ucap Lina sambil mengunyah jamur yang dia ambil dari plastik putih di depan Nina. Selain jamur goreng, ada pula keripik pisang, opak singkong dan goreng raginang. Makanan itu lagi dinikmati oleh teman-teman yang lain. Aku tersenyum melihatnya. Lina bawaannya memang suka makan dan ngemil. Tubuhnya makin subur saja. Dia paling terlihat bersemangat makan di antara teman-temanku yang lain. "Nin, ini kamu bikin sendiri di rumah?" tanya Lina. "Iya, kebetulan, bapakku pulang dari sawah nemu banyak jamur. Daripada dihabiskan hanya digoreng tumis biasa buat lauk, sebagian aku buat jamur crispy." "Cha, kamu nggak mau nyoba?" Aku menatap Nina, namun dia mengalihkan pandangannya. Ada yang aneh. Tidak seperti biasanya. Dia paling ramah dan selalu menawariku makanana kalau dia habis pulang kampung. Dia suka bawa pisang nangka, sirsak, mangga, atau yang lain. Tiap habis pulang kampung dia tak pernah ketinggalan dia menyisakan jatah untukku. Namun kali ini, dia tidak lagi. Apa dia memang tidak membawa? Astagfirullah aku kok jadi ngarep alias thama. Tak seharusnya aku berpikiran seperti itu. "Nggak, Lin. Makasih. Lagian aku masih kenyang. Jamur itu bukan punya kamu lagi. Itu punya Nina hehe." Lina terbahak. Dia menatap Lina di sampingnya. Dia merasa aneh kenapa Nina tidak menawari Icha. Selama rapat aku merasa tak enak hati. Nina memandangku dengan pandangan yang berbeda. Ataukah mungkin aku yang terlalu sensitif. Aku mungkin yang terlalu buruk sangka pada mereka. Astaghfirullah al-adziim. Bahkan aku merasa terkucilkan terkucilkan oleh teman terdekatku sendiri, Lina dan Nina. Aku tak mengerti dari mana perasaan itu tiba-tiba muncul. Apakah itu bisikan setan? Aku pun mengucapkan ta'awudz beberapa kali. Semoga hatiku lebih tenang. Usai rapat aku keluar, tanpa banyak bicara aku segera pamit. Daripada keruh hatiku terlihat melalui roman muka, lebih baik aku pergi saja. Aku duduk di bangku sebuah taman yang tidak jauh dari sekre. Aku ingin mengubah suasana hatiku yang tidak jelas begini. Yaa Allah, jagalah hati hamba dari segala prasangka. Aku bertanya-tanya mengapa akhir-akhir ini jadi seperti ini. Apakah lingkungan terlalu memengaruhiku. Apakah karena pandangan orang-orang di luar yang terlanjur mengecap aku anak seorang pencuri, anak seorang koruptor? Aku mengarahkan pandangan ke sekeliling. Mataku tertuju pada bunga-bunga segar yang bermekaran di taman itu. Ada anggrek bulan, mawar, tulip dan dahlia. Ya Allah jika Engkau berkenan mengabulkan doa hamba saat ini, percantiklah hatiku seperti bunga-bunga yang indah itu. Semerbakkan wangi dalam kepribadianku seperti wanginya bunga-bunga di sekelilingku. Waktu Zuhur telah tiba, aku meninggalkan taman itu menuju masjid kampus. Sebelum beranjak dari taman, kulihat teman-temanku dari sekre berhamburan, termasuk Lina, Nina, dan Hera. Mereka juga mungkin akan menunaikan shalat di masjid kampus. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN