Aku menganggukan kepala. "Betul Pak, tensi darahnya rendah. Sebaiknya Bapak hindari saja minuman berkafein. Saya sarankan banyak minum air putih."
Aku segera menuliskan resep obat penambah darah untuk dia tebus di apotek.
Itulah pertemuan pertamaku dengan lelaki bernama Cecep. Selanjutnya dia jadi berlangganan memeriksa keluhan hipotensinya kepadaku. Padahal sebelumnya dia sering berobat kepada Pak Bayu. Alasannya selalu dia katakan bahwa dia tidak pernah ketemu jadwalnya dengan Pak Bayu.
Sepertinya sahabat seniorku, Pak Bayu telah 'berkonspirasi' dengannya. Dia memberikan nomor hapeku hingga hari-hari berikutnya komunikasi dengan Pak Cecep semakin intens. Dari pesan singkat atau pun telpon aku jadi tahu kalau Pak Cecep belum menikah. Dia bekerja sebagai anggota DPRD dari Fraksi Partai DEF.
Ternyata aku mulai tertarik padanya. Saat dia menyatakan dirinya untuk menikahiku, tak ada satu pun alasan bagiku untuk menolaknya. Tiga tahun setelah pernikahan, karir politiknya melejit. Dia memang sangat ambisius. Dia pun mencalonkan diri dalam Pilkada Bupati.
Waktu itu sebenarnya aku merasa agak berat, dari mana dia mendapatkan uang buat kampanye yang biayanya tidak murah, sementara gajinya sebagai anggota dewan tidaklah cukup untuk menutupinya. Aku sudah mencoba merayunya lebih baik tidak usah ikut pertarungan. Aku menyarankan untuk berpindah haluan saja menjadi pekerja sosial atau pekerjaan lain yang lebih menentramkan ketimbang menjadi politisi.
"Tenang saja, Ma," tolaknya saat itu, "Aku tidak akan menelantarkan Mama. Politik adalah duniaku. Kalau Mama tidak suka, ya tidak apa-apa. Toh aku juga tidak memaksa Mama untuk sama-sama terjun ke sana. Yang penting bantu saja dengan doa," jelasnya.
Terbersit dalam pikiranku pertanyaan, dariman dia mendapatkan modal kampanyenya. Aku memang tidak paham dunia politik. Barulah aku paham sekarang setelah kasus ini menimpa suamiku. Dia mendapatkan modal dari pengusaha.
Aku pikir beginilah praktik politik di era demokrasi saat ini. Para pejabat bekerja tidak berorientasi pada melayani rakyat. Seharusnya para pejabat dan aparat adalah pelayan rakyat bukan sebaliknya, dilayani rakyat. Mereka hari ini bekerja berdasarkan motif politik transaksi. Para penguasa melakukan transaksi kepentingan. Pejabat butuh uang untuk modal agar bisa menduduki kursi kekuasaan dan penguasa butuh payung hukum untuk memperlancar usaha dan menjaga kekayaannya.
Kusadari suamiku telah menjadi bagian dalam politik praktis ini. Sayangnya aku tidak mampu menyelamatkannya. Andai saja jika dia tidak memilih tetap di jalur politik mungkin takkan begini kejadiannya. Bagaimanapun kupikir ini adalah masalah pilihan hidup. Kalau dia mau, dia bisa memilih jalur lain seperti yang kusarankan.
Rumah tangga kami dikaruniai tiga orang anak. Entahlah, bagaimana kapal rumah tangga ini akan kami lalui, sementara nakhodanya tengah tertahan akibat perbuatan. Apakah aku bisa menakhodai kapal ini sendiri, menyelamatkanku dan juga anak-anakku agar tidak tenggelam?
*
Waktu yang benar-benar ditunggu Icha akhirnya tiba. Kini dia sudah berada di depan pintu rumahnya. Dengan rasa cemas dan penasaran yang berkecamuk di dadanya, Icha membuka pintu. Koran yang dia beli saat dia menumpang minibus masih dipegangnya.
Ruangan yang dimasukinya sepi. Dia langsung menuju ke ruang keluarga. Tiba di sana, Mama dan Afdan tengah duduk. Masing-masing memandang ke arah mata angin berbeda. Afdan memandang kosong ke dinding rumah bercat warna orange. Sementara mama yang memangku Aqila memandangi jendela yang tertutup gorden warna krem. Sesekali Mama membetulkan gendongan Aqila.
"Assalamu alaikum, Ma," Icha menghambur ke arah mamanya. Dia peluk erat ibunya dan Aqila.
"Waalaikumussalam. Teteh... akhirnya kamu datang. Kenapa dengan hapemu, Nak?"
Dalam pelukan Icha, mama terisak-isak, tak kuasa menahan tangis.
"Maafin Icha, Ma. Pasti Mama jadi kuatir. Icha dasar pelupa. Charger ketinggalan di sekre. Gimana Ayah, Ma?"
"Itulah Teh. Mana bisa mama menghubungi dia."
Icha melepaskan pelukannya. Dia juga turunkan tas gendong yang cukup membebaninya. Koran yang dipegangnya dia taruh di atas meja. Dia memikirkan sebuah rencana.
"Ma, aku nggak pernah nyanga, ayah bertindak seperti itu?"
"Iya, Nak. Teteh sayang, Mama juga demikian. Sama sekali tidak pernah menyangka. Mama kira selama ini, ayah bekerja dengan baik dan tidak akan pernah terjerat kasus yang paling mama benci."
Pandangan Bu Euis menerawang ke langit-langit. Suasana sunyi. Masing-masing menyembunyikan pikiran mereka.
"Ma, besok kita jenguk ayah ya," kata Icha.
"Ide yang bagus. Mama juga nanti bawa Aqila."
"Bukannya lebih baik Aqila dititip aja ke Mbak Nur," ujar Icha. Nur adalah babysitter Aqila.
"Enggak, menurut Mama besok kita berangkat bareng. Sepulang jenguk ayah, mama langsung kerja. Nah kayaknya lebih baik Nur ikut aja. Kasihan Aqila udah lama nggak ketemu ayah."
"Ooh, ya udah gitu aja," kata Icha, "Gimana menurutmu, Dan?" Icha melirik Afdan yang sedari tadi terlihat mengabaikan obrolan ibu dan kakaknya.
"Itu kan rencana Mama sama Teteh. Aku sih nggak," kata Afdan dengan nada datar, "Lagian besok aku banyak banget agenda di kampus."
"Emang kamu nggak kangen sama Ayah?" Tanya Icha.
"Biasa aja," jawab Afdan lagi-lagi dengan nada datar.
Mama dan Icha saling berpandangan. Icha terlihat kesal. Dia nyaris ingin mengeluarkan kata-kata lagi kalau saja Mama tidak segera memberikan isyarat padanya. Mama meminta Icha untuk mendiamkan Afdan daripada kakak beradik itu nanti bertengkar.
Di luar senja menjelma. Remangnya mengiringi keremangan sudut setiap hati penghuni rumah. Namun sang ibu mencoba mengusir keremangan itu dengan tetap menularkan semangat kepada anak-anaknya.
"Teteh, Aa... Entahlah mama tidak tahu apa yang akan kita lalui di hadapan kita nanti. Tapi yang pasti mama ingin tetap membahagiakan kalian," kata-kata mama terhenti. Tangisnya berderai.
"Mama... Mama... akan tetap berjuang agar kalian bisa tetap kuliah dan sukses. Mama ingin tetap kalian menjadi orang-orang yang dibutuhkan masyarakat," lanjut Mama. Suaranya sedikit sengau. Hidungnya seperti pilek karena tangisnya yang tak jua mereda.
"Aku tidak akan pernah ninggalin Mama, kita bisa lalui ini semua bersama-sama," Icha bangkit. Dia menghambur, memeluk Mama. Meskipun kedua perempuan itu menangis, Aqila tak memahaminya. Dia malah berceloteh. Tangannya menunjuk-nunjuk ke Afdan, tapi kakaknya itu tetap mengabaikannya.
"Aa, lihat ini Aqila, pengen main sama Aa," kata Mama sambil memanggil Afdan yang masih dia mematung.
"Huuu... tuuuhh," celoteh Aqila, tetap memanggil kakaknya.
Afdan tak peduli.
Icha ingin mengubah suasana supaya tidak larut dalam kesedihan. Dia setengah berteriak, "Oke, biar kompak, gimana kalau kita tos aja?"
Mama tersenyum, kagum pada ketabahan anaknya.
Icha berdiri dengan semangat. "Ayo semua angkat tangan!"
Icha mengepalkan tangan ke atas, lalu menyimpan telapak tangan yang terbuka di depan tubuhya, di tengah-tengah. Punggung jemari tangannya dia posisikan di atas. Mama bangkit sambil tetap memangku Aqila, dia mengikuti gerakan tangan Icha. Mama simpan telapak tangannya di atas punggung jemari Icha.
"Siapa lagi, hayo?" teriak Icha keras memenuhi ruangan keluarga itu.
"Aa, ayo!" ajak Mama.
Afdan masih tetap mematung. Dia tak melirik sama sekali. Mama dan Icha menungguhnya hampir lima menit. Tetap tak ada respon.
"Ya udah kita aja, Teh," bisik Mama pada Icha.
"Sip! Mama, nanti setelah aku ngasih aba-aba, satu-dua-tiga, apa yang akan kita ucapkan?"
Mama berpikir, sementara tangan kedua ibu dan anak masih merapat.
"Hadapi Bersama!" ucap sang ibu tiba-tiba.
Icha langsung mengiyakan. Mama dan Icha kemudian bersiap-siap.
"Satu... dua... tiga..." pekik Icha.
"HADAPI BERSAMA!" pekik keduanya sambil menghempaskan tangan masing-masing.
Icha berlari-lari kecil menggoda Aqila. Aqila langsung tertawa riang di buatnya. Icha bersembunyi di balik punggung mamanya. Aqila mengerakkan kepala ke kiri dan kanan mencari kakaknya. Ketika Aqila berhasil melihat kakaknya, Aqila tergelak tawa. Berkali-kali Icha mengulang-ulang, hingga Aqila tak bisa menghentikan gelak tawanya.
Icha pun memangku Aqila. Dia bawa berputar-putar di ruangan itu sambil menyanyi. Dalam pangkuan Icha anak itu terlihat bahagia. Senyum tipis tersungging di wajah Bu Euis. Dia ikut menghangatkan suasana dengan menepuk-nepukkan tangan dengan tempo teratur mengikuti irama lagu yang Icha nyanyikan. Kebahagiaan menyeruak dari dalam jiwa mereka.
Sayang, tidak dengan Afdan. Anak muda itu tetap memilih kesunyiannya. Dia memilih memenjarakan perasaannya. Dia sama sekali tak tergoda sedikitpun dengan keriangan di sekelilingnya. Dia memilih dunianya sendiri. Perasaan yang berkecamuk padanya saat ini menyesali dan menyalahkan keadaan. Dia benci dengan kondisi ini. Rasanya ingin dia keluarkan kata-kata makian dan kutukan. Tiba-tiba dia jadi membenci dirinya sendiri. Mengapa dirinya harus berada dalam kondisi memuakkan seperti ini.
Ada energi positif yang merambat ke dalam tubuh Icha dan Bu Euis. Sementara energi positif itu tak sampai kepada Afdan karena anak lelaki itu menutup diri, enggan dan menolak energi positif yang dirambatkan oleh ibu dan kakaknya.
Bersambung