Bu Euis
Pukul empat sore, aku menjemput Aqila. Dari daycare aku berniat langsung mencegat angkot. Namun pikiranku masih teringat dengan mawar merah dan ucapan selamat ulang tahun tadi pagi. Aku juga teringat Panorama Restaurant. Dari daycare dan rumah sakit, letaknya dekat. Ada di seberang jalan dan jaraknya kurang lebih ada empat atau lima gedung ke arah kiri. Hatiku gamang. Apa yang harus kuputuskan. Satu jam lagi. Datangkah ke sana atau langsung pulang saja.
Sebenarnya dulu aku pernah sekali ke restoran ini bersama suamiku. Waktu itu kami hanya berdua saja. Aqila belum lahir. Di restoran ini kami memesan menu ikan bakar Cianjur. Selain Sunda di restoran ini tersedia menu-menu khas Nusantara seperti nasi Padang, coto Makassar, siomay Bandung, dan makanan lainnya. Restoran ini memang cukup lengkap, selain menu tradisional tersedia juga menu-menu dari luar negeri, seperti teriyaki, mie ramen, nasi biryani, kebab Turki, dan masih banyak lagi.
Sungguh aku penasaran ingin mencoba lagi menu-menunya. Dan aku pikir kesempatan itu adalah sekarang. Kesempatan itu takkan datang lagi. Aku sendiri harus banyak-banyak menghemat, tidak anggaran yang kusisihkan untuk makan-makan di tempat seperti itu saat ini.
Aku pikir tidak ada salahnya datang ke restoran itu, toh bukan malam hari. Aku akan ajak Aqila. Kalau aku berangkat sendiri, siapa yang menjaga Aqila. Tidak mungkin aku pulang dulu, nitip kepada Icha. Aku juga tak yakin apakah Icha sudah pulang. Kalau Icha bersedia menjaga Aqila, tentu dia akan bertanya-tanya mau kemana. Lucu saja kalau harus jujur menjawab ada orang tak dikenal yang mengajakku bertemu di restoran. Aku pun menyeberang jalan.
*
Pukul lima sore kurang lima belas menit aku masuk restoran itu. Kuarahkan pandanganku ke seluruh ruangan restoran itu. Beberapa orang terlihat duduk di kursi. Ah manakah orang yang mengundangku, apakah sudah datang?
Aku memilih duduk di kursi agak pokok untuk menunggu. Seorang pelayan restoran datang menghampiriku. Dengan sopan dia menyodorkan selembar kertas. Aku sangka dia akan memberikan daftar menu.
"Permisi, Bu. Betul dengan Ibu Euis Ratna Sari?"
Aku mengangguk. Aku terheran-heran, dari mana pelayan laki-laki ini bisa tahu namaku.
Kemudian sekilas aku baca tulisan di kertas itu. Gila, siapa sih yang pura-pura menjadi orang misterius dan mempermainkanku ini. Dan aku, sialanya terjebak mengikuti permainan dia.
Silakan ikuti pelayan yang mengantar tulisan ini. Dia akan mengantarmu untuk menemuiku.
Aku melihat pelayan lelaki itu. Dia mengenakan seragam restoran dengan hiasan motif batik. Pelayan lelaki ini masih kelihatan muda. Kutaksir umurnya kurang lebih 20 tahunan.
"Mari Bu..." ajak pelayan itu.
Aku ragu. Apakah mengikuti pelayan itu apa pulang saja. Lagi-lagi kegalauan menyergap hatiku. Aku terdiam agak lama sambil menatap Aqila yang terlelap di pangkuanku.
"Hmmm..." deheman pelayan itu mengagetkanku, "Ibu, Mari saya antar..."
Tubuhku bangkit, "Ayo, tempatnya di mana nih Mas?"
"Di lantai 2, Bu, mari ikuti saya saja."
Pelayan lelaki itu mulai jalan. Dan aku mengekorinya. Dia menaiki anak tangga. Aku pun mengikutinya.
Sesampai di lantai dua, dinding ruangan itu dihiasi dengan lukisan yang dibingkai. Ada lukisan bunga-bunga, pepohonan dan pemandangan menakjubkan yang memanjakan mata. Ruangan ini terlihat eksklusif. Tidak ada orang. Kursi dan meja makan tidak sebanyak lantai bawah.
"Silakan, Ibu menunggu di sini? Mari saya pamit."
"Menunggu? Jadi ..."
Pelayan itu pamit tanpa memberi kesempatan aku bertanya. Lancang, rutukku dalam hati. Aku coba memanggil-manggil pelayan itu, tapi dia tidak mendongakkan kepalanya ke arahku sedikit pun.
Aku arahkan pandanganku ke sekeliling. Mungkin saja orang yang kucari-cari sudah menampakkan diri. Aku akan membentak-bentaknya kalau ketemu. Aku akan bilang padanya kalau dia niatnya ingin memberikan kejutan, bukan begini caranya. Dan apa haknya sudah memintaku datang. Dan sialnya kenapa aku datang memenuhi undangan. Tapi dipikir-pikir apakah aku dan dia sama-sama bodohnya. Bodoh!.
Pandanganku beralih ke meja makan berbentuk bundar. Diameter meja itu tidak terlalu besar. Kelihatannya disetting hanya untuk dua orang. Di meja itu sudah terhidang kue brownies bertuliskan angka 40. Lilin kecil sudah menyala tak jauh dari angka. Apakah ini kue untukku.
Dalam suasana hening, tiba-tiba seorang lelaki mengenakan jas hitam menghampiriku. Ah diakah orangnya? Siapa dia, aku sama sekali tak mengenalnya. Tapi kenapa dia membawa biola?
Tak jauh dariku dia berdiri, mengangkat biolanya ke dekat dagu. Kelihatannya dia akan memainkan musik. Suara dawai biola terdengar lirih perlahan. Entahlah aku tidak paham lagu yang dimainkan apakah lagu Mozart, Kenny G. atau Bethoven.. aku tidak paham soal musik.
"Selamat Datang... Terima kasih sudah memenuhi undanganku..."
Aku mencari-cari arah sumber suara. Dari arah belakangku, seorang lelaki terlihat sangat rapi, lebih rapi dari pemain biola itu. Rambutnya terlihat hitam berkilau di sisir belah ke samping, mungkin menggunakan minyak rambut.
Aku tilik-tilik orang itu. Rasanya aku mengenalinya. Dia melangkah semakin mendekatiku. Wajahnya selalu terlihat tersenyum ke arahku. Oh, jadi dia. Ada urusan apa dia mengundangku.
"Aku sangat senang, kamu datang," ucap Yoga sambil duduk di kursi seberang yang menghadap ke arahku.
Aku memandanginya. Entah perasaan apa yang ada saat ini. Marah, deg-degan, atau perasaan apa? Aku jadi bingung sendiri dengan perasaanku.
"Selamat Ulang Tahun, Euis. Semoga panjang umur dan Tuhan memberkahimu," ucapnya lagi.
Aku masih diam. Apa yang harus kukatakan. Aku lirik Aqila masih pulas tertidur dalam pangkuanku.
Yoga kulihat sekilas menatap Aqila.
"Kenapa putrimu tidak dititipkan saja?"
Jelas aku sangat tersinggung dengan ucapannya.
"Dititipkan sama siapa?" tanyaku agak dengan suara tinggi dan ketus.
"Maaf jika membuatmu tersinggung," Yoga menangkupkan kedua tangannya, "Ah, bagaimana kalau kamu tiup lilinnya," dia mencoba mengalihkan suasana yang tidak mengenakkan itu.
Gesekan biola melengking-lengking. Entah suasana apa yang ingin diciptakan dengan suara biola itu.
"Aku.. aku mengucapkan terima kasih, Bapak sudah memberikan perhatian lebih. Saya tidak bermaksud menolak hanya saja, rasanya kurang pantas saya tidak menerimanya."
"Jangan begitu, mohonlah diterima. Saya melakukan ini dengan tulus ikhlas."
Tulus ikhlas, yang benar saja. Lelaki di hadapanku ini sudah beristri dan beranak lima. Aku khawatir sekalipun berbuat baik, apa penilaian orang nanti. Terlebih lagi settingan undangan saat ini terkesan berlebih-lebihan dan istimewa.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan. Aku sangat menyesal telah datang ke tempat ini. Lebih baik aku pergi saja.
"Maaf Pak Yoga, saya tidak bisa berlama-lama. Saya harus pergi. Icha, putri saya di rumah kasihan sendirian."
"Jangan begitu, saya jadi tidak enak. Tolonglah duduk sebentar, 10 menit saja."
Ini orang maunya apa, aku sudah bilang mau pulang.
"Mohon maaf sekali Pak, saya tidak bisa, sebentar lagi bedug Maghrib. Apalagi saya bawa anak yang masih kecil," ucapku sambil menunjuk Aqila yang masih tertidur pulas, "Kasihan takut masuk angin."
Dawai biola nadanya sudah menurun. Semakin lirih.
"Baiklah," ucap Yoga, "Kalau begitu tolong kuenya dibawa saja, silakan nikmati di rumah saja."
Siapa yang pesen? Bawa aja sana untuk anak dan istrinya.
"Tidak usah Pak, jangan merepotkan."
"Sama sekali tidak merepotkan ... "
Tiba-tiba dia berdiri, dia memberi isyarat kepada seorang pelayan. Tak lama kemudian pelayan itu menghampirinya. Ternyata pelayan lelaki pertama tadi yang mengantarku. Dia berbisik kepada pelayan itu. Aku segera bangkit.
"Baik Pak, saya pamit dulu. Permisi.."
"Tunggu .. tunggu.." Yoga berusaha menahanku.
Pelayan lelaki itu setengah berlari. Tak lama kemudian membawa plastik putih bertuliskan logo Panorama Restaurant. Dia memasukan kue brownies itu ke plastik putih dan menyerahkannya padaku. Aku diam. Ragu.
"Tolong di bawa ya," Yoga memelas, "Setidaknya sebagai tanda persahabatan."
Entah kenapa aku merasa iba padanya. Aku merasa tak tega.
"Baik saya terima."
Aku menerima plastik itu segera menuruni anak tangga menuju lantai satu. Aku keluar dari restoran itu. Tak sekalipun menoleh dan berharap tidak terbayang roman muka Pak Yoga yang memelas padaku. Aku kasihan dan tidak tega. Tidak untuk ke depannya. Cukup kali ini saja.
*