9. Menaruh Harap

1023 Kata
"Serius banget belajarnya!" celetuk Mirza sembari bersandar di kusen pintu kamar Azzura. Gadis berambut panjang yang sedang asyik menyelesaikan tugas Biologi itu langsung berdiri dan menghampiri sang kakak tertua. Tentu saja pria itu memeluk erat Azzura seraya mengelus surai panjang itu. Namun, seketika Azzura melepas pelukan itu dan menjewer telinga Mirza. "Sakit, Dek!" pekik Mirza. "Masih ingat pulang rupanya!" sungut Azzura. Mirza menggaruk tengkuknya. "Namanya juga sibuk, Dek!" "Sibuk macam apa sampai lupa pulang? Tuh Bunda cari-cari Kakak mulu!" balas Azzura. Tatapan Mirza berubah sayu, menyiratkan kesedihan mendalam. "Tadi Kakak cari Bunda di kamarnya, tapi gak ada. Ke mana?" "Bunda diajak Ayah ke Bogor. Tadi pagi mereka berangkat," jawab Azzura. "Bunda kan belum sehat betul. Kenapa dibawa pergi-pergi?" "Bunda sendiri yang mau ke sana, Kak. Pakai maksa-maksa Ayah segala." Mirza menghela napasnya. "Mungkin Bunda perlu waktu untuk menenangkan diri." Azzura mengangguk. "Bunda terpukul banget pas tahu janinnya gak berkembang." Sang ibu yang mereka cintai harus mengakhiri kehamilannya karena janin yang tidak berkembang. Tiga hari pasca tindakan kuretese membuat Nayyara tak ingin keluar dari kamarnya. Atas permintaan wanita paruh baya itu, Hazig akhirnya membawanya ke Bogor untuk self healing. Anak-anaknya pun tak masalah ditinggal pergi asalkan Nayyara kembali ceria seperti dulu. "Kamu sendiri kok belajar terus. Gak capek tuh otak kamu?" tanya Mirza. "Udah mau ujian, Kak. Masa harus santai-santai sih!" Azzura duduk di tepi ranjangnya. "Kakak mau makan? Kalau mau, aku siapin sekalian. Aku lapar." Mirza tersenyum seraya menarik tangan Azzura. "Ayo! Kali ini aku yang masak buat kamu!" "Yes!" Azzura bersorak seraya meninggalkan kamarnya terlebih dahulu disusul Mirza yang menggeleng geli. *** Tiga bulan setelah kepergian Franklin benar-benar mengubah gadis itu. Ia tak lagi larut dalam rindunya pada sahabatnya itu. Bukannya ia tak merindukannya sama sekali, tetapi ia hanya sedang belajar membiasakan diri tanpa pria itu. Sayangnya Azzura tetap manusia biasa. Merasa jenuh belajar, gadis itu menutup bukunya, berdiri, kemudian menghampiri jendela dan membukanya. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati embusan angin malam tanpa menghiraukan dinginnya. "Sepertinya semuanya berjalan dengan baik, ya. Aku pun mencoba untuk melupakan semuanya, membiarkan diriku larut dalam kesibukan meraih impian. Sayang sekali ... aku gak bisa, Kak, gak bisa," gumamnya, lirih. "Aku janji, Kak ... aku akan menemukan seseorang yang bisa menjagaku dengan baik. Seseorang yang bisa bersamaku tanpa harus terhalang perbedaan aqidah." *** Lantunan nasyid dari grup Shoutul Harokah terdengar di dalam kamar kos yang disewa oleh seorang mahasiswa jurusan Ilmu Hukum di salah satu universitas negeri ternama. Sesekali ia ikut bernyanyi saat lagu berjudul "Merah Saga" terdengar begitu lantang. Lagu tentang perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka dari penjajahan bangsa Israel mengobarkan semangat Ayyas Dhiaurrahman untuk menyelesaikan tugas kuliah yang cukup banyak. Kesibukannya sebagai koordinator bidang kaderisasi di lembaga dakwah kampus tempatnya menuntut ilmu kadang membuatnya sering absen di jam perkuliahan. Meskipun demikian, prestasi Ayyas tak pernah mengecewakan. Beasiswa yang ia peroleh adalah taruhannya. Ia harus berusaha mempertahankan bahkan meningkatkan Indeks Prestasi Kumulatif setiap semester jika ia masih ingin menikmati beasiswa khusus mahasiswa kurang mampu dan berprestasi tersebut. Sebagai seorang pemuda yang tak pernah mengenal kedua orang tuanya karena ia besar di panti asuhan, ia cukup tahu diri untuk tak membebani pemilik panti asuhan yang sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ayyas memilih keluar dari panti sejak lulus SMA dan dinyatakan lolos menerima beasiswa. Namun, ia tetap mengunjungi tempat ia dibesarkan setiap akhir pekan. "Alhamdulillah, selesai juga," gumamnya. Ayyas merapikan buku-bukunya yang berserakan di lantai. Setelah itu, rasa kantuk mulai menderanya. Mini Speaker yang sejak tadi terputar lagu-lagu nasyid ia ambil dan diganti dengan lantunan murattal dari Syaikh Mishari Rasyid Al-Afasy. Setelah itu, ia simpan kembali di atas meja belajarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur ukuran single seraya menatap langit-langit kamarnya. "Siapa dia? Dua kali bertemu, tapi gak pernah tahu namanya," ucapnya, lirih. Pertemuannya terakhir dengan Azzura masih membekas dalam benaknya. Meskipun sudah tiga bulan berlalu, ia masih sering mencari gadis itu. Beberapa kali ia melihat gadis itu saat ia sengaja singgah di sekolahnya. Alih-alih ia mendekati Azzura dan mengajaknya berkenalan, ia justru memperhatikannya dari jauh. Melihat gadis itu tersenyum bahkan tertawa membuat rindunya berkurang. "Aku harap suatu hari nanti aku tahu namamu," ucapnya lagi sebelum memejamkan mata. *** Azzura menggeleng geli begitu melihat Azzam dan Mirza yang terlihat tak berdaya karena ulah adik perempuan mereka yang paling kecil. Emira yang sedang bosan meminta dua kakak laki-lakinya menjadi model saat ia bertindak sebagai seorang perias. "Dek, mau sampai kapan Kakak dibikin begini?" tanya Mirza. "Kakak harus ke restoran lho satu jam lagi. Padahal Kakak udah mandi ini," keluhnya lagi. Berbeda dengan Mirza, Azzam justru memberikan tatapan permusuhan pada Emira. Gadis kecil itu tak marah sama sekali, ia justru memeletkan lidahnya hingga Azzam menggeram kesal. Tak lama kemudian, Azzam melirik Azzura yang tak bisa lagi menahan tawanya. "Menahan tawa dapat merusak kesehatan, Zura. Gak usah ditahan!" ujar Azzam ketus. "Duh, kasihan sekali kakak-kakakku!" ucap Azzura disertai senyum mengejek. "Dek!" rengek Mirza. "Oke, Oke!" Azzura beranjak dari sofa lalu menghampiri sang adik bungsu kesayangannya. "Emira, cukup hukumannya! Kak Mirza mau kerja lho, nanti dia kesiangan. Kak Azzam juga mau pergi les sama Kakak," ujar Azzura. Emira menganggukkan kepala sebagai jawaban. Setelah itu, gadis kecil itu membereskan mainannya lalu pergi begitu saja. Sementara Azzura masih menatap dua kakak laki-lakinya sembari tersenyum geli karena wajah mereka yang penuh make up secara asal. "Sepertinya kalian butuh mandi ulang," ledek Azzura. "Puas banget sih, Dek!" sungut Mirza. Azzura mengedikkan bahunya. "Kalian yang salah kok. Makanya, jangan berjanji kalau ujung-ujungnya batal juga!" "Maaf, Dek, kan Kakak gak tahu kalau ada meeting penting kemarin." Mirza terlihat meringis tanda merasa bersalah. Azzura menatap datar dua kakaknya. Pasalnya mereka sudah membuat Emira menangis karena tidak jadi mengajak mereka ke taman. Dua gadis yang merasa bosan setelah ditinggal orang tuanya pergi itu kompak menjahili dua lelaki itu sebagai hukuman atas perilaku mereka yang sudah ingkar janji. Mirza yang tiba-tiba bertemu kliennya dan Azzam yang pergi ke rumah temannya untuk bermain game. "Laki-laki sama aja, sama-sama suka ingkar janji!" sungut Azzura. "Dek!" Mirza kembali memelas. "Udah, sana mandi!" Azzura melangkah ke kamarnya dengan sengaja mengentak-entakkan kakinya saat melewati anak tangga rumah itu. "Cewek kalau ngambek serem banget, ya!" celetuk Azzam. Mirza mengangguk tanda setuju begitu mendengar pendapat adiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN