Nayyara menatap sedih wajah Azzura yang kini terlelap damai. Beberapa kali wanita itu menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan. Ia merasa sesak karena patah hati yang dulu ia rasakan kini terulang pada anak gadisnya walaupun kasusnya berbeda.
Ia berdiri lalu menunduk sebentar untuk mengecup keningnya dengan penuh kasih.
"Tetap jadi anak salehahnya Bunda, ya," ucapnya tepat di telinga putrinya.
Ia melangkah perlahan setelah mengganti cahaya kamar Azzura dengan lampu tidur. Setelah menutup pintu, ia memutar bola matanya begitu melihat sang suami tercinta menatap kesal padanya.
"Sevgilim, kamu lama sekali!" rajuk Hazig.
"Aku hanya memastikan putri kita baik-baik saja, Hubby. Please, deh! Gak usah berlebihan! Bukankah tadi aku sudah memintamu tidur duluan?"
"Sayang, aku tak akan pernah bisa tidur nyenyak kalau gak ada kamu!" protes Hazig.
Nayyara menghela napas pasrah. "Baiklah, Suamiku. Mari kita tidur!"
"Eh, langsung tidur? Bukankah biasanya kita olahraga dulu?" tanya Hazig dengan raut wajah tanpa dosa.
Nayyara mendelik sejenak lalu meninggalkan Hazig yang tak terima atas respon istri tercintanya.
"Sayang!"
Nayyara tak peduli dengan Hazig yang kini tengah merengek padanya.
"Sayang, aku yakin telingamu masih baik-baik saja!" ucap Hazig begitu pintu kamar terkunci.
Nayyara melotot, kesal pada sang suami dengan segala pikiran liarnya.
"Kamu gak lupa apa kata dokter tadi, kan?" tanya Nayyara.
Hazig hanya tersenyum tanpa dosa.
"Aku masih ingat, Sayang."
"Baguslah, berarti aku bisa tidur nyenyak malam ini!" celetuk Nayyara, santai.
Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk sembari memejamkan mata. Hazig yang hendak protes hanya bisa pasrah. Ia telah diperingatkan dokter kandungan yang menangani istrinya, menahan diri sampai kandungan istrinya cukup kuat. Terlebih lagi tubuh istrinya menjadi lebih cepat lelah dibanding biasanya.
Pria itu ikut merebahkan dirinya dan memeluk erat tubuh sang istri sembari menghidu aroma tubuhnya.
"Aku mencintaimu, Sayang," bisiknya. Tangan kanannya mengusap pelan perut datar Nayyara.
"Aku bahagia karena kita dipercaya kembali. Sehat selalu, ya, Sayang! Karena aku masih ingin memandang wajah cantikmu dan memeluk erat dirimu."
Mata Hazig ikut terpejam, menyusul sang istri menuju alam mimpi. Tanpa pria itu sadari, Nayyara mendengarkan semua ucapan Hazig yang selalu terdengar tulus dan penuh cinta.
"Aku juga mencintaimu, Suamiku. Terima kasih kamu masih setia bersamaku, mendidik dan merawat anak-anak kita dengan penuh cinta. Kamu adalah hadiah terindah yang Allah hadirkan dalam hidupku setelah aku ikhlas menerima takdirku," batin Nayyara.
***
Keesokan harinya, Azzura sibuk memotong buah-buahan segar yang sengaja Mirza bawa semalam untuk sang ibu. Di saat yang sama, kakak tertuanya itu sedang sibuk dengan bubur ayam buatannya untuk sang ayah dan roti bakar untuk Emira sesuai permintaan gadis kecil itu sebelum ia tidur.
"Kak, biar aku yang tata di meja, ya! Kakak bangunkan Ayah sama Bunda."
Mirza mengangguk pelan. Pemuda itu meninggalkan dapur setelah melepas apronnya.
Setelah Mirza mengetuk pintu kamar orang tuanya yang dibalas dengan sahutan sang ayah, ia berniat kembali ke dapur. Namun, ia urungkan karena mendengar suara bel berbunyi. Ia pun bergegas membuka pintu dan mendapati dua pasangan paruh baya beserta anak-anak mereka.
"Assalamu 'alaikum!" seru mereka, kompak.
"Wa 'alaikumussalam. Masya Allah, aku gak percaya kalian datang ramai-ramai begini!" ucap Mirza tak kalah terkejutnya.
Dua pasangan yang tak lain adalah Rafa dan Tiara serta Fahri dan Keyra hanya tertawa. Mereka pun segera masuk bersama anak-anak mereka. Tak lupa mereka memberikan buah tangan untuk kedua orang tua Mirza.
"Ayah sama Bunda mana, Nak?" tanya Tiara.
Mirza mengedikkan dagunya ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. Keyra yang mengetahui sang tuan rumah belum keluar kamar langsung bergegas mengetuk pintu kamar sang kakak cukup keras.
"Kak Hazig! Bangun! Kalau Kakak gak bangun, aku suruh Mas Fahri dobrak pintu ini!" teriak Keyra.
"Eh, kok malah aku yang dobrak, Sayang? Rafa aja yang dobrak!" ucap Fahri tak terima.
Rafa mendelik tak suka pada iparnya. "Bilang saja kau sudah tak kuat lagi, Bang Fahri! Tulang-tulangmu sudah terlalu tua. Hahaha!"
Mau tak mau Mirza dan juga Azzura ikut tertawa mendengar para orang tua saling ejek. Hingga suara pintu terbuka dan menampakkan wajah Hazig yang tak bersahabat.
"Kalian berisik sekali!" ucap Hazig kesal.
Keyra menatap jengkel sang kakak. "Ini udah jam berapa, Kak? Ya Allah, udah tua masih aja gak bisa nahan. Pantas aja Kak Nay sampai hamil lagi!" cibirnya.
"Udah, Sayang. Memangnya kamu juga mau? Nanti kita bisa buat lagi," ucap Fahri.
"Mas Fahri!" pekik Keyra. Terang saja, kini wanita itu menjadi sangat malu karena ucapan sang suami yang kadang tak terkontrol.
Rafa dan Tiara hanya bisa menertawakan mereka. Hazig yang dari tadi hanya terdiam langsung menarik Rafa dan Fahri menjauh dari kamarnya.
"Berisik banget sih kalian! Nay lagi tidur di kamar!" desis Hazig.
"Tidur di jam begini? Kalian habis ngapain?" tanya Fahri dengan nada menggoda.
Hazig memiting leher suami dari adiknya. "Nay gak bisa aku apa-apain dulu! Kandungannya lemah."
"Kasihan banget! Puasa dulu deh, Bang! Udah tua masih hamilin orang!" ledek Rafa.
"Yang penting orang itu adalah istriku!" pungkas Hazig. Ia kembali melirik satu per satu tamu tak diundang yang sudah mengacaukan paginya yang indah. "Ada apa kalian ke sini?"
"Kenapa? Gak suka kami silaturrahim ke sini?" balas Keyra.
Hazig mendengus dan berbalik menuju dapur. Mendengarkan para tamu yang menyebalkan itu hanya akan membuatnya semakin lapar.
"Bang, numpang sarapan, ya!" seru Rafa.
"Terserah kau saja, Adik ipar!" Hazig menikmati bubur ayam buatan Mirza.
"Ayah, Bunda mana?" tanya Azzura.
"Masih tidur, Nak. Tadi subuh muntah-muntah lagi," jawab Hazig.
"Aku bawain buah-buahan ke kamarnya, ya."
Hazig mengangguk. Ia mengajak para tamunya sarapan bersama yang kemudian ditolak karena sudah sarapan di rumah masing-masing. Tak lama kemudian, Emira dan Azzam menyusulnya dan Mirza sarapan bersama.
***
"Kak Zura, kuenya enak. Mau bawa pulang boleh, kan?"
Azzura terkekeh geli karena celotehan Rafiqah, sang sepupu yang merupakan putri dari Rafa dan Tiara. Gadis itu mencubit gemas pipi Rafiqah.
"Boleh, dong! Kakak punya banyak di dalam."
"Thanks very much!" seru gadis kecil usia enam tahun tersebut.
"You're welcome, Baby!"
Gadis kecil itu pergi ketika Emira mengajaknya bermain. Minggu pagi ini sedikit membuat Azzura terhibur karena saudara ayah dan ibunya berkumpul di rumahnya.
"Anggap saja kedatangan kami sebagai pelipur lara atas apa yang kamu alami!"
Azzura menoleh pada Thariq, putra dari Fahri dan Keyra. Matanya menatap datar adik sepupunya yang berusia dua tahun di bawahnya. Thariq hanya tersenyum tipis padanya lalu kembali melihat adik perempuannya yang bermain bersama Emira dan Rafiqah.
"Entahlah, haruskah aku ikut bersedih atau justru sebaliknya?"
Azzura tak bergeming. Ia memilih berpura-pura tak mendengar omongan sepupunya yang secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada dirinya.
"Apa yang harus kulakukan agar kamu sedikit melihat ke arahku, Zura?" lirih Thariq.
Azzura menghela napas panjang. "Sebaiknya jangan pernah mengejarku, Thariq! Aku tak menganggapmu lebih dari sekadar sepupu. Aku harap kamu jangan ikut campur atas perasaanku pada siapa pun!"
Azzura bergegas pergi, akan tetapi Thariq mencekal tangannya cukup kuat.
"Lepas!" pekik Azzura.
"Zura, please!" Thariq menatapnya memohon.
"Lepasin adik gue!" Mirza menatap nyalang Thariq.
Azzura bergegas sembunyi di belakang Mirza.
"Lo gak usah maksa Zura! Lo dan dia gak boleh bersama!" sentak Mirza.
"Maksud lo?" Thariq bertanya balik.
Mirza tersenyum sinis. "Sampai kapan pun, haram bagi lo untuk bersama Zura!"
"Kenapa? Bukankah tak masalah bila sepupu-"
"Masalah karena lo dan Zura adalah saudara sesusuan!" sergah Mirza.
"A-apa?" Thariq tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Tanyakan sendiri sama Umma Keyra kalau lo gak percaya!" Mirza menarik tangan Azzura, meninggalkan Thariq yang kini tertunduk lemas seraya berlutut di atas rumput.
"Kak, kenapa sampai bilang gitu?" tanya Azzura pada Mirza.
"Kamu gak tahu, Dek?"
Azzura menggeleng pelan.
"Kamu bisa tanya sama Bunda atau Ayah!"
"Jadi ... Thariq-"
"Udah saatnya aku mengungkap semuanya. Kejujuran harus diungkapkan meskipun pahit, daripada tetap bertahan dalam ketidaktahuan dan berakhir dalam pengharapan yang terlalu tinggi. Udah lama aku perhatiin Thariq yang selalu lihat kamu dengan tatapan tak biasa. Aku pikir dia cuma kagum sama kamu, tapi begitu aku dengar sendiri apa yang pernah dia bilang setahun yang lalu, aku gak bisa biarin gitu aja."
Azzura membenarkan apa yang sang kakak katakan. Sepupunya itu mengungkapkan perasaannya setahun yang lalu, di mana mereka sekeluarga menikmati liburan tiga hari di kota asal Fahri. Namun, ia tak tahu jika Thariq pernah disusui oleh Nayyara sewaktu Thariq masih bayi.
"Mau ke mana?" tanya Mirza.
"Mau lihat Bunda. Siapa tahu mau ikut gabung di luar."
Mirza mengangguk lalu kembali ke taman belakang.