"Tunggu! Jangan pergi saat sedang marah seperti ini," cegah Keuis setelah berhasil manahan lengan Leia.
"Lepaskan aku!" geram Leia sambil berusaha menarik lengannya, dan terus berontak saat Leuis menahannya,
"Ikut Aku!"
"Aku tidak mau! Lepaskan aku, lebih baik kamu kembali pada kekasihmu sana dan jangan ganggu aku!"
Dari sudut matanya, Leuis melihat Leon dan Guzmân yang tengah mengedarkann pandangan mereka ke araha kerumunan, yang Leuis yakini pasti tengah mencari mereka berdua.
Leuis tidak akan membiarkan mereka menemukan dirinya dan juga Leia, tidak sebelum Leuis mengatakan yang sebenarnya pada wanita itu.
Mata Leuis mulai mencari tempat yang bisa membuatnya bicara empat mata dengan Leia tanpa gangguan siapapun, dan langsung tertuju pada sekumpulan orang yang tengah mengantri untuk menaiki gondola.
Mengabaikan penolakan Leia, Leuis tetap membawa Leia berbaur ke dalam kerumunan itu. Ia menyerahkan seratus euro kepada petugasnya dan menyerahkan kembaliannya pada petugas itu.
Ia mendorong pelan Leia untuk menaiki salah satu gondola yang pada umumnya berwarna hitam sebagai warna resminya, tapi gondola yang ia dan Leia naiki berdekorasi warna-warni, yang memiliki kursi cantik untuk dua orang dengan bantalan yang terasa empuk dan nyaman.
Setelah duduk di kursi itu, Leia melipat kedua tangannya sambil memalingkan wajahnya dari Leuis. Gondolier yang memakai baju garis-garis itu mulai mengayuh gondolanya saat Leuis sudah duduk nyaman di samping Leia.
Gondolier itu tersenyum kecil melihat kedua pasangan yang menaiki gondolanya saat ini, dan sudah pasti bisa menebaknya kalau pasangan itu tengah bertengkar. Dan dia telah terbiasa melihatnya, namun dia juga memiliki cara untuk membuat hubungan pasangan itu kembali membaik.
Sebagai pria Italia yang terkenal dengan karakteristiknya yang romatis, Gondolier itu terbiasa mengatur situasi menjadi sedemikian rupa untuk menimbulkan kesan romantis, hingga mereka akan lupa pada penyebab kemarahan mereka.
Gondolier itu pun mulai menyanyikan salah satu lagu hits Italia pada masanya, La Canzone del Sole yang dinyanyikan oleh penyanyi terkenal, Lucio Battisti.
Dove sei stata cosa hai fatto mai? "Una donna," Donna? Donna? Dimmi cosa vuol dir sono una donna ormai? Lo non conosco quel sorriso sicuro che hai non so chi sei, non so più chi sei mi fai paura oramai, purtroppo.
Di mana saja kamu apa yang telah kamu lakukan? "Seorang wanita," Wanita? wanita? Katakan padaku, apa artinya saya seorang wanita sekarang? Saya tidak tahu senyum aman yang kamu miliki saya tidak mengenalimu, saya tidak mengenalimu lagi kamu membuat saya takut sekarang, sayangnya.
Meski suara gondoiler itu terbilang merdu dan enak di dengar, Leia tetap mengarahkan pandangannya ke arah lain, tidak sepatah katapun keluar dari mulut wanita itu, bahkan hanya sekedar gerutuan saja pun tidak.
"Kamu tahu makna dari lagu yang dinyanyikan Gondoiler itu?" tanya Leuis mencoba menciptakan percakapan di antara mereka.
Dan meski Leia masih terus mengabaikannya, Leuis tetap menjelaskannya pada wanita itu,
"Lagu ini hits pada tahun tujuh puluhan, liriknya menceritakan tentang seorang kekasih yang tercengang dan bingung saat melihat evolusi fisik dan psikologis dari wanita yang pria itu cintai. Perubahan wanitanya dari kepolosannya saat masih anak-anak hingga menuju proses kedewasaan," jelasnya.
Leia masih terus saja mengacuhkannya. Leuis mencoba meraih telapak tangan Leia, tapi wanita itu menepisnya begitu saja. Sementara lagu La Canzone del Sole yang tadi dinyanyikan Gondoiler itu sudah berganti ke lagu yang lainnya.
Pria itu terus bernyanyi tanpa peduli Leuis dan Leia mau mendengarkannya atau tidak. Hanya tatapan matanya yang seolah bisa bekerjasama dengan Leuis saja yang sesekali bertemu mata dengan Leuis.
Sementara hari mulai menjelang malam, mataharipun sebentar lagi akan segera terbenam, dan Leuis tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjelaskan semuanya. Ia ingin saat mereka turun dari gondola nanti, Leia sudah tidak marah lagi padanya.
"Aurora bukan kekasihku!" aku Leuis, ia sengaja menaiki volume suaranya supaya Leia dapat mendengarnya.
Sesuai dengan dugaannya, Leuis langsung mendapatkan perhatian penuh dari wanita itu,
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Aku hanya membantunya," jawab Leuis singkat, membuat Leia semakin penasaran.
Wanita itu mengubah posisi duduknya menghadap Leuis sekarang, sementara kedua matanya menatap lekat-lekat mata Leuis,
"Membantu apa?"
Leuis meraih telapak tangan Leia, dan kali ini wanita itu tidak menepisnya lagi. Mungkin karena tidak menyadarinya karena terlalu fokus menunggu jawaban dari Leuis.
"Saat aku menjemput Aurora ke bandara, Aurora sengaja menciptakan situasi sedemikian rupa hingga para paparazi yang selalu mengikutinya itu mengira kalau aku adalah kekasih barunya. Saat itu aku belum memahami sikap anehnya itu."
Leuis mengaitkan jemari mereka sambil terus melanjutkan,
"Dan saat makan malam yang menjadi trending topic itu, baru Aurora menjelaskan alasannya, dan memintaku untuk membantunya berpura-pura menjadi kekasihnya ... "
Leuis melihat kening Leia yang mulai mengkerut,
"Kenapa Aurora sampai melakukan itu? Dia tidak kekurangan satu pria pun, dia tinggal tunjuk salah satunya yang pasti pria itu akan selalu bersedia menjadi kekasihnya, dalam artian kekasih sesungguhnya."
"Karena ada seorang penggemar gila yang selalu mengganggunya dan memintanya untuk menjadi kekasih pria itu. Berkali-kali Aurora menolak tapi pria itu masih saja mengejarnya. Itu makanya Aurora meminta bantuanku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya, dan membuat berita itu menjadi trending hanya supaya pria yang mengejarnya itu menyerah."
Untuk sesaat Leuis melihat sudut bibir Leia yang baru akan mulai membentuk senyuman, tapi seketika berubah menjadi rengutan khasnya. Ia menarik tangannya dari genggaman Leuis,
"Tetap saja keluarga kita sudah tahu kalau kalian telah menjadi sepasang kekasih. Bahkan Om Keanu sudah menyetujui hubungan kalian, dan akan menikahkan kalian secepatnya," sungutnya sambil kembali memalingkan wajahnya.
Leuis meraih dagu Leia, dan kembali mengarahkan wajah wanita itu padanya,
"Sudah pasti aku akan menolaknya, Leia ... Aku hanya mau menikah dengan wanita yang aku cintai."
"Memangnya siapa wanita yang kamu cintai? Aku tidak pernah melihatmu bersama dengan wanita sebelumnya."
'Kamulah wanita itu! Kamu, dan sejak dulu hanya kamu seorang ... ' jawab Leuis dalam hatinya.
Untuk waktu yang lama mereka saling menatap seperti itu, dengan kedua mata yang saling mendamba, saling merasakan perasaan yang sama, dan juga saling menahan diri untuk tidak mengungkapkannya.
Hingga akhirnya Leuis menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir Leia dengan lembut, takut wanita itu akan menolak dan mendorongnya. Tapi alih-alih mendorong Leuis, Leia malah melingkarkan lengannya di leher Leuis, sebelum akhirnya membuka bibirnya untuk membiarkan Leuis menguasai mulutnya itu.
Tepat pada saat itu laju gondola berhenti, matahari mulai terbenam, dan lonceng St. Mark Campanile berdentang kencang, sekencang detak jantung mereka berdua saat merasakan gejolak jiwa muda mereka yang begitu membara dengan gairah.
Sementara dari jembatan satunya lagi, banyak wisatawan yang memotret mereka, sang gondolier juga mengabadikan momen romantis itu dengan ponselnya, hingga Leia pada akhirnya menyadari kalau gondola itu tidak lagi bergerak. Ia membuka kedua matanya, lalu mendorong Leuis dan membersihkan bibirnya dengan lengannya,
"kenapa kamu menciumku lagi?" tanyanya.
Lalu matanya tertuju pada jembatan yang melengkung di atasnya. Jembatan yang terbuat dari batu kapur berwarna putih yang melintang di atas Rio di Palazzo. Dan Leia langsung bisa menebak di mana tepatnya mereka berada sekarang ini.
"Apa ini jembatan desah yang diceritakan Jean itu?" tanyanya, lupa sudah ia pada keluhannya karena Leuis menciumnya tadi.
Dengan tatapan selembut sutra, Leuis merapikan rambut Leia sebelum menjawab,
"Ya ... Ini lah Ponte dei Sospiri atau Jembatan Desah itu."
Karena keromantisan mereka sudah berakhir, setelah bersitatap dengan Leuis, gondolier itu akhirnya melanjutkan lagi mendayung gondolanya. Dan tepat saat itu Leia melihat para wisatawan yang masih saja mengabadikan foto mereka. Dengan gerakan protektif, Leuis membawa Leia ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah wanita itu ke dadanya.
"Astaga ... Aku malu sekali, Leuis!" erangnya pelan.
Leia dapat merasakan getaran di d**a Leuis, yang berarti pria itu kini tengah terkekeh pelan, dan ia memukul gemas d**a Leuis dengan kepalan tangannya,
"Kamu jahat! Apa kamu sengaja mengatur semua ini?" tukasnya.
"Tentu saja tidak. Semua terjadi begitu saja ... Dan sepertinya aku harus memberikan tips pada gondolier kita itu, karena suaranya yang merdu, juga karena telah memberikan kita waktu untuk membuktikan mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat itu."
Leuis tahu, gondolier itu sengaja melambatkan laju gondolanya demi bisa mencapai jembatan desah itu tepat waktu. Gondolier itu pasti melihat dengan jelas kalau ia dan Leia tengah bertengkar, dan berusaha menyatukan mereka kembali.
"Kamu percaya sama mitos itu?"
"Harusnya aku yang bertanya, apa kamu juga percaya pada mitos itu, seperti kamu percaya pada mitos di atas jembatan harapan Paris tempat ciuman pertama kita?"
"Aku tidak mau mempercayai mitos apapun!" sungut Leia.
"Kenapa?"
Lama Leia terdiam dan Leuis mengira Leia tidak akan mau menjawabnya, tapi pada akhirnya wanita itupun buka suara,
"Karena yang di jembatan harapan itu saja terbukti tidak benar. Aku menciummu di sana, dan hubungan kita menjadi renggang karenanya. Kalau aku disuruh memilih, aku akan memilih tidak mencoba legenda itu dan tidak menciummu di sana. Karena hatiku sakit melihat kita yang biasanya selalu dekat, perlahan demi perlahan semakin menjauh."
Leuis semakin mengeratkan pelukannya, ia mencium puncak kepala Leia dan membelai lembut rambutnya,
"Aku juga merasakan hal yang sama. Dan mengingat kamu sekarang sudah mengetahui kalau aku dan Aurora hanya bersandiwara, jadi aku harap kamu jangan menghindariku lagi dan takut mengganggu hubunganku dengan Aurora. Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi," pinta Leuis, ia merasakan anggukan kepala Leia di dadanya.
"Apa kita sudah melewati jembatan tempat wisatawan tadi berdiri?" tanya Leia.
Kalau Leuis bilang iya, maka Leia akan melepaskan pelukannya. Dan Leuis masih ingin berlama-lama memeluk wanita itu seperti sekarang ini.
"Belum," jawabnya, sambil berdoa dalam hati semoga Tuhan memaafkannya.
"Kelihatannya tadi tidak terlalu jauh dari jembatan desah, kenapa kita belum melewatinya juga?"
"Gondoliernya mendayung gondola ini dengan sangat santai, jadi wajar kalau kita belum melewati jembatan itu."
"Apa kita sudah melewati para wisatawan itu?" tanya Leia lagi sambil memainkan kancing kemeja Leuis.
Pria itu sepertinya belum mengganti kemejanya sejak pulang dari proyek. Karena ia mencium bau matahari yang bercampur dengan aroma parfum pria itu yang khas, perpaduan yang membuat Leuis terlihat semakin maskulin, dan ia sangat menyukainya.
Leuis tidak memiliki alasan untuk menahannya, jadi dengan enggan ia melepaskan pelukannya, lalu menatap lembut wanita itu,
"Jangan marah lagi padaku ... "
Leia kembali mendengus pelan.
"Kamu yang tadi marah-marah padaku! Kamu lebih mengkhawatirkan Aurora daripada aku! Kamu melarangku ikut ke lokasi proyek demi ada yang menemani Aurora. Lalu memarahiku habis-habisan karena meninggalkan Aurora sendirian. SEkarang Aurora lebih penting daripada aku!"
Leia memekik pelan saat Leuis menyentil keningnya,
"Bodoh! Semua kemarahanku karena akumulasi dari rasa khawatirku padamu. Ingin rasanya aku memiliki pintu Doraemon demi bisa langsung menemukanmu, dan memukul bokongmu dengan tanganku sendiri. Aku terlalu gila karena begitu mengkhawatirkanmu. Tidak mengetahui kemana tujuanmu dan apakah terjadi sesuatu padamu semua itu membuatku gila!"
"Maaf ... "
"Jangan lakukan itu lagi, Leia . Aku bisa mati berdiri kalau terus mengkhawatirkanmu seperti ini. Kamu pergi hanya berdua saja dengan Aletta, dengan pakaian seminim ini? Tuhan, beruntung tidak ada yang berniat jahat pada kalian!" lanjut Leuis memotong permintaan maaf Leia.
Ia membuka jasnya, lalu melampirkannya di atas paha mulus Leia yang terekspos.
"Iya, aku hanya tidak mau berdiam diri saja di Apartment. Ini pertama kalinya untuk Aletta ke kota ini, dan aku tidak mau membuang waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk mengelilingi pulau disekitar sini," ucap Leia dengan sebersit rasa sesal.
"Untuk alasan apapun, Sayang. Jangan pernah menempatkan dirimu ke dalam bahaya lagi, ok?"
Sayang? Lagi-lagi Leuis memanggilnya sayang. Hati Leia terasa berbunga-bunga. Tapi ia tidak mau menanyakan alasan kenapa pria itu memanggilnya sayang, ia tidak mau merusak momen romantis ini.
Setidaknya untuk Leia, ini adalah momen paling terindah di dalam hidupnya. Ia sangat menikmati kebersamaannya dengan pria yang ia cintai itu, di salah satu kota romantis, di atas Gondola yang memiliki ukiran indah ini, dengan cahaya lampu yang terpantul ke kanal, dan perutnya yang terasa mual.
Mual? Ya Tuhan, ia bahkan melupakan kalau ia tidak bisa menaiki tranportasi air terlalu lama tanpa membuat perutnya terasa teraduk-aduk.
Melihat wajah Leia yang mulai mengeluarkan keringat dingin, Leuis memahami keadaannya. Tepat di sebelah mereka ada lorong yang mengarah ke salah satu hotel, dan Leuis meminta gondolier untuk berhenti di hotel kecil itu.