Bab 8 - Hubungan Intim di Kantor?

1083 Kata
Aletta duduk tenang di kursinya. Tangannya yang memegang pena mencentang perlengkapan yang akan ia dan tim Venice lainnya bawa. Setelah bersiteru dengan para seniornya kemarin hanya karena masalah Leon, tidak ada satu pun dari senior wanitanya itu yang mengajak Aletta bicara. Mereka hanya meletakkan bertumpuk-tumpuk berkas untuk Aletta fotocopy, dan langsung meninggalkan meja Aletta begitu saja. Aletta yang terbiasa sendiri, tentu saja tidak mengambil pusing itu semua. Tidak ada ruginya dimusuhi oleh wanita yang hanya memandang pria dari segi fisiknya saja, dan mengabaikan kenyataan seberapa redflagnya pria itu. Terlalu fokus dengan pekerjaannya, Aletta tidak menyadari kedatangan Leon, pria yang sangat ingin ia hindari. Dan seperti sebelumnya, pria itu langsung duduk di meja Aletta, dan merebut pena Aletta agar mendapatkan perhatiannya. Meski penampilan Leon sangat sempurna dengan kemeja putih brandednya, yang dipadukan celana panjang dari brand yang sama dengan kemeja putihnya, Aletta sama sekali tidak tertarik dengan pria itu. "Kembalikan!" ketus Aletta. Alih-alih mengembalikan pena Aletta, Leon malah memasukkan pena itu ke dalam saku kemejanya, "Ambil sendiri kalau kamu mau," balas Leon dengan tatapan menggodanya. Aletta mengumpat kesal dalam hatinya. Tidak cukup kah pria itu membuatnya dimusuhi seisi ruangan kerjanya itu? Enggan menanggapi godaan Leon, Aletta membuka laci mejanya untuk mengambil pena lainnya, sebelum kembali mengerjakan tugasnya lagi. "Ck, sudah jam istirahat, kamu bukan robot, jadi keluar dan makan lah. Aku siap menemanimu makan di mana pun kamu inginkan." Dengan gerakan kasar Aletta meletakkan penanya. Mau tidak mau ia harus menegaskan penolakannya, kalau ia ingin Leon segera pergi dari hadapannya, "Mr. Euginius yang terhormat. Aku tidak berminat sama sekali makan bersama denganmu. Silahkan cari wanita lainnya, yang pastinya tidak akan menolak pesonamu itu!" Leon mengangkat bahunya dengan acuh, "Aku tidak tertarik dengan mereka." "Dan aku tidak tertarik denganmu! Jadi stop, jangan ganggu aku lagi!" balas Aletta, masih dengan nada ketusnya. Kedua tangan Leon menekan dadanya dengan gerakan dramatis, "Ah, kamu telah melukai hatiku." "Aku ragu kamu memiliki hati!" "Oh jelas saja aku punya. Tapi hanya orang tertentu saja yang dapat merasakannya." "Pergilah, Mr. Euginius. Aku harus menyelesaikan dokumen ini dan menyerahkan pada Monsieur Leuis, atau kita semua batal berangkat ke Venice besok!" "Jadi itu untuk ke Venice. Serahkan saja padaku, Leuis sudah mempercayakan proyek itu padaku juga." "Maaf, aku hanya menerima perintah dari Monsieur Leuis saja selaku pemilik perusahaan ini, bukan dari seseorang yang hanya sekedar magang dan menggoda wanita saja!" "Hati-hati, dari nada ketusmu itu aku bisa merasakan kecemburuanmu, Sayang ... " Aletta luar biasa mual mendengar kata 'Sayang' dari mulut Leon itu. "Cemburu? Konyol sekali! Mau kamu bercinta dengan seisi ruangan ini sekalipun aku tidak akan peduli! Memangnya siapa kamu? Kekasih bukan, suami apalagi!" "Aku sering menemukan wanita sepertimu. Berpura-pura tidak tertarik padaku, hanya supaya aku semakin penasaran saja padamu, ya kan?" Aletta menarik napas dalam dan panjang menghadapi sifat narsistik Leon yang sudah tidak tertolong lagi. Lima belas menit! pria itu telah membuang waktu lima belas menit Aletta hanya untuk mendengarkan omong kosongnya saja. Bagaimana Aletta tidak semakin dongkol padanya. Untungnya saat itu Deandra menghampiri mereka. Setelah memberikan tatapan tak sukanya pada Aletta, wajah wanita itu berubah lembut saat menatap Leon, "Mr. Euginius. Tugas yang Monsieur Leuis berikan pada anda belum sepenuhnya anda kerjakan. Sebaiknya segera selesaikan tugas itu, sebelum Monsieur Leuis kembali ke ruangannya lagi." "Ah, ini jam istirahat, Dean. Kenapa aku tidak bisa rehat sejenak? Aku butuh hiburan," keluh Leon. "Kamu akan mendapatkan hiburan setelah kamu menyelasikannya, Mr. Euginius. Sekarang, sebaiknya kita kembali lagi ke ruang arsip." Aletta dapat melihat seringaian lebar di wajah tampan Leon. Entah hiburan apa yang Deandra maksud, tapi sepertinya dapat memancing semangat Leon lagi. "Baiklah, aku akan menyelesaikannya secepat mungkin!" seru pria itu sebelum kembali menatap Aletta dan mencondongkan sedikit tubuhnya saat berbisik, "Leuis sedang keluar bersama Leia. Nanti, letakkan saja dokumen itu langsung di meja kerjanya, atau serahkan pada Dean kalau kamu tidak mau menyerahkannya padaku." "Aku akan menyerahkannya pada Madame Dean!" tegas Aletta. "Terserahmu." Setelah mengatakan itu, lengan Leon merangkul pinggang Deandra. Pria itu melangkah keluar begitu saja tanpa melirik sama sekali ke arah Feya, wanita yang kemarin telah digoda pria itu habis-habisan. 'Terkutuklah Leon beserta sifat buruknya itu!' umpat Aletta dalam hatinya. Seandainya saja mata Aletta dapat mengeluarkan laser, punggung Leon pasti sudah akan bolong dan terbakar karena tatapan tajam Aletta itu. "Katanya tidak mau melirik lagi apa yang sudah dia buang ke tempat sampah. Tapi nyatanya, kecemburuan masih terlihat jelas di wajahnya melihat Leon merangkul Dean!" cibir Feya, dan Aletta memilih untuk mengabaikannya. Cemburu? Cih, yang ada sekarang ini Aletta ingin sekali menumpahkan darah Leon. Seandainya saja pria itu bukan kakak laki-lakinya Leia. Dua jam pun telah berlalu dan Aletta sudah selesai mencentang semua keperluan mereka selama di Venice. Juga dokumen perjalanan yang akan mereka bawa besok. Setelah merapikan kembali meja kerjanya, Aletta memeluk dokumen itu di dadanya. Ruang kerja Leuis yang ia tuju. Tapi mengingat Leia saja belum kembali ke kantor, besar kemungkinan Leuis juga belum kembali. Kasih Deandra kalau begitu! Karena Deandra tidak ada di meja kerjanya, Aletta balik arah menuju perpustakaan. Karena sebelumnya ia dengar kalau Deandra dan Leon akan ke ruang arsip. Bunyi sepatu Aletta bergema di koridor yang terlihat sepi itu, yang mengarah ke ruang arsip. Ruangan yang hanya bisa di akses oleh Leuis dan Deandra saja. Namun tidak seperti biasanya, pintu ruang arsip itu sedikit terbuka dan terdengar suara desahan seseorang. Perlahan Aletta membuka pintu itu, suara desahan, erangan dan leguhan terdengar semakin kencang, bersamaan dengan suara decakan dari dua tubuh yang menyatu. "Aachh ... Terus Leon ... Yeah ... Lebih cepat lagi! Ya seper ... thi i ... tu ... " desah terpatah-patah suara feminim yang begitu Aletta kenali. Hingga akhirnya terdengar suara pekikan tertahan Deandra, yang disertai dengan suara geraman maskulin Leon yang terdengar seperti binatang yang tengah dijagal. Dan Aletta melihat mereka, dua tubuh yang saling tumpang tindih di atas meja tanpa sehelai benangpun, ia menahan pekikannya dengan menangkup mulutnya. Tidak mau Leon dan Deandra tahu kalau ia telah menangkap basah mereka berhubungan intim di kantor, Aletta memutuskan untuk balik badan meninggalkan mereka, tapi masih terdengar percakapan mereka setelahnya, "Oohh ... Kamu hebat sekali, Leon ... " puji Deandra di tengah puncak kenikmatannya. "Mau satu kali lagi?" tanya Leon, napasnya terdengar memburu. "Berkali-kali lagi pun aku mau!" jawab Deandra dengan napas yang masih terdengar tersengal. "Berikan aku waktu rehat sebentar, Ok?" Lalu terdengar suara decakan dari dua pasang bibir yang saling melumat dalam ciuman basah. Tubuh Aletta pun begidik geli, "Benar-benar menjijikkan!" Aletta mempercepat langkahnya menuju meja kerja Deandra, lalu meletakkan dokumen itu di atasnya, sebelum kembali ke meja kerjanya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN