"Hati-hati turunnya!" Aruna berpegangan pada pintu mobil saat ia hendak turun. Mamanya sudah lebih dulu turun untuk membukakan pagar, sedangkan Papanya yang tadi datang menjemput masih bersiaga di dalam mobil. Langkah Aruna memang biasa saja, dia merasa dirinya sudah tidak sakit. Hanya saja ada sedikit pusing di kepalanya hingga dia harus lebih berhati-hati dalam berjalan. "Mau dibantu?" tawar Mamanya ketika datang kembali. Namun Aruna menggeleng, dia terus berjalan menaiki undakan teras dan masuk didampingi oleh kedua orang tuanya. "Aruna boleh langsung ke kamar ya, Ma?" tanya Aruna. Mamanya mengangguk, "Nanti Mama bawain cemilan ke kamar kamu. Kamu istirahat aja," ujarnya. Aruna menurut, dia berjalan ke arah kamarnya, meletakkan tas slempang miliknya dan merebahkan diri di atas ka

