Padahal hari sudah semakin malam. Sudah tidak ada lagi suara yang dapat tertangkap oleh telinga Aruna yang berada di dalam kamar. Dia berbalik badan, merebahkan diri dengan menyamping. Memejamkan mata, namun beberapa menit berlalu dirinya masih tidak bisa tertidur sebagaimana seharusnya. Lalu dia bangkit dan duduk, matanya menatap ke depan. Otaknya mengingat kembali apa yang terjadi di maghrib tadi saat dirinya mengantarkan Aditya pulang. Jawaban yang dia berikan, sama sekali bukan lah sebuah jawaban yang impulsif. Aruna sudah memikirkannya dengan matang, mengukuhkan hati bahwa ini adalah awal mula dirinya untuk hidup lebih bahagia. Perasaannya pada Rona menang tidak begitu sana hilang, karena perasaan itu sudah dia pupuk bertahun-tahun tanpa membiarkan seseorang menggoyahkan nya. Maka

