7. Jaya Prana dan Layon Sari

2165 Kata
“AAAAA!!” Aurel berteriak kencang seraya merentangkan ke dua tangan, matanya terpejam, membiarkan semilir angin bermain bersama helaian rambut kusutnya. Berdiri di atas mobil terbuka yang tengah melaju kencang, wajah Aurel nampak puas melihat bagaimana hamparan pemandangan indah di sepanjang jalan berhasil memanjakan matanya. Setelah sekian lama jenuh dengan pemandangan gedung pencakar langit yang memenuhi seluruh lahan di ibu kota, kini akhirnya Aurel bisa juga menikmati lukisan alami semesta yang begitu indah. Di mana lagi ia bisa menemukan hal semenakjubkan seperti ini kalau bukan di pulau dewata, Bali. Pulau dengan sejuta keindahan yang tidak bisa Aurel jumpai di tempat lain. ~Ho tera-mera tera-mera tera-mera mera-tera qisaa atrangi, kabhi-kabhi chalti hai, kabhi-kabhi rukti kahani bedhangi~ Aurel terlihat begitu bersemangat ketika mengikuti alunan musik lagu India yang terputar di radio. Terkikik geli saat tahu ia tidak bisa melafalkan liriknya secara benar tapi tetap ngotot bernyanyi dengan suara sumbangnya. Sungguh, saat ini Aurel dapat membayangkan dirinya sebagai Deepika Padukone dan Gara di kursi kemudi sebagai Shahrukh Khan yang kini tengah menikmati perjalanan di sebuah jalanan berkelok. Hanya bedanya sekarang mereka bukan berada di tengah hamparan kebun teh, melainkan di jalanan yang kanan kirinya adalah hutan lindung. “Rel, ayo duduk.” Gara menarik ujung baju Aurel, meminta wanita itu untuk tidak bertingkah memalukan seperti itu. “Nanti kalau ada polisi, kita bisa kena tilang.” “Aish, kau ini ada-ada saja. Mana mungkin di tengah hutan seperti ini ada polisi.” Aurel tidak memedulikan ucapan Gara dan tetap sibuk menggoyang-goyangkan tubuhnya mengikuti irama musik. “Ada atau tidak kau harus tetap duduk. Nanti kalau jatuh bagaimana?” Dengan sedikit menggunakan kekuatannya, Gara pada akhirnya berhasil menarik tangan Aurel dan membuat sang wanita duduk. “Pakai sabuk pengamannya,” perintah Gara yang ditanggapi dengkusan kasar oleh Aurel. “Iya, iya,” balas Aurel pada akhirnya. Ia mengalah dan segera memasang sabuk pengaman itu ke tubuhnya. Gara tersenyum tipis lalu ia menekan satu tombol yang membuat atap mobil mewah itu perlahan tertutup. “Lho, kok ditutup, sih? Aku kan masih ingin merasakan angin yang—“ “Sudah cukup, nanti kita berdua masuk angin,” ucap Gara tanpa mau membiarkan Aurel menyelesaikan ucapannya. Sejak memulai perjalannya dari Jimbaran beberapa jam yang lalu, Gara memang sengaja membiarkan atap mobilnya terbuka, bermaksud agar ia bisa menikmati perjalanan menuju daerah Teluk Terima yang berada di kawasan Bali Utara—lokasi yang mau dia survei untuk keperluan syuting. Akan tetapi, bukannya menikmati pemandangan, ia justru merasa terganggu dengan tingkah memalukan dari Aurel. Beberapa kali mereka sempat menjadi pusat perhatian dari pengguna jalan yang lain. Entah itu karena tingkah konyol Aurel, atau justru karena tertarik melihat satu-satunya mobil sport mewah yang melaju di antara bus-bus antar provinsi juga truk-truk pengangkut barang dengan mural wanita seksi di bagian belakangnya. “Tuan, tempatnya masih jauh tidak?” Setelah Gara melarangnya untuk berdiri, Aurel jadi merasa perjalanannya cukup membosankan. Wajah wanita itu tertekuk masam dengan mata yang fokus menatap p****t truck di depan sana yang berisi tulisan New Fear The Me Is 3. Gara melirik sekilas Gmaps yang ada di layar mobilnya lalu menggeleng tipis. “Kau tenang saja, sebentar lagi kita sampai, kok,” jawab Gara meyakinkan. Dan ucapan Gara terbukti kebenarannya setelah beberapa menit kemudian, pria itu mulai mengurangi kecepatan mobilnya lantas berhenti di depan sebuah home stay yang ada di sekitar daerah sana. Di daerah Bali bagian utara ini memang jarang terdapat hotel, sebab pariwisata di sini memang tidak seberkembang seperti halnya di Bali selatan. “Ayo, masuk.” Gara mengajak Aurel masuk. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam ke dalam perut laut saat mereka tiba di sana. Segera bergegas menuju meja resepsionis untuk meminta kunci kamar yang sudah mereka reservasi sebelumnya. “Kau yakin sudah memesan dua kamar sebelumnya?” Gara menatap Aurel curiga saat ia mendapat keterangan kalau mereka hanya memesan satu kamar saja. “Kau tidak berniat menjebakku untuk tidur satu kamar denganmu, bukan?” Mendengar tuduhan Gara, refleks Aurel langsung mengibaskan tangannya ke udara. “T-tentu tidak, Tuan! Untuk apa aku melakukan hal semacam itu.” Matanya mendelik kesal akan tetapi wanita itu tidak bisa menjelaskan apapun saat melihat data pesanan kamar yang ditunjukkan oleh sang resepsionis. “Tapi seingatku kemarin sudah—“ Aurel tidak bisa melanjutkan ucapannya. Karena seingatnya kemarin ia sudah memesan dua kamar untuk dirinya dan juga Gara. Akan tetapi kenapa sekarang bisa satu? Apakah kemarin ia sedang mengantuk hingga melakukan kesalahan sefatal itu? Gara menghela nafas kasar. Ia sudah merasa kelelahan karena mengemudi hampir empat jam lamanya dan sekarang harus mendapati kesalahan seperti ini? Jika bisa, ingin rasanya ia menggantung Aurel di tiang bendera. Bagaimana bisa ia memiliki seorang asisten yang begitu ceroboh? “Sudahlah, kita pesan lagi saja satu kamar untukmu.” Baru saja Gara ingin membuka mulutnya, tiba-tiba resepsionis itu lebih dulu menyela dengan berkata, “Tapi mohon maaf, Pak. Untuk malam ini seluruh kamar di tempat kami sudah terisi penuh.” “APA!” Keduanya memekik kaget, tidak berpikir jika kesalahan yang dilakukan Aurel bisa berdampak panjang seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan selain menerimanya dengan lapang d**a. Gara menatap Aurel tajam. “Kau … tidur di lantai malam ini!” *** “Tuan, apa kau begitu tega memintaku untuk tidur di lantai?” Waktu perlahan mulai menapaki angka genap. Tepat pukul sepuluh malam ketika Aurel masih menekuk ke dua kaki, duduk di sebuah kursi kayu yang tersedia di kamar itu. Kamar dengan desain interior sederhana namun terlihat bersih dan juga rapi. Mendengar itu, Gara yang sedang rebahan menatap Aurel tanpa minat sebelum berkata, “Lalu kalau bukan kau siapa lagi? Masak aku? Lagipula itu hukuman yang pantas untuk asisten ceroboh macam dirimu.” Aurel cemberut. “Tapi sekarang hujan dan—“ “Sudah, sudah! Berhenti mengeluh dan cepatlah tidur. Ini sudah larut malam.” Tanpa memedulikan keluhan Aurel, Gara dengan santainya menarik selimut dan mulai terlelap di atas kasur ukuran single itu. Meninggalkan Aurel yang masih menggerutu kesal. Dasar tidak punya hati! Jahat! Kejam! Pada akhirnya Aurel tidak punya pilihan selain merebahkan dirinya di atas lantai dingin. Berbekal jaket tebal yang membalut tubuhnya, sebisa mungkin Aurel mengabaikan suara hujan dan petir di luar sana. Memaksa matanya untuk terpejam meski desiran hawa dingin kian menusuk tulang. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Gara tersentak dari tidurnya. Matanya ia buka paksa kala rungunya menangkap suara gemelatuk yang berhasil mengganggu tidur tenangnya. Pria itu menoleh ke bawah, menatap Aurel yang meringkuk di sana dengan bibir yang terus mengeluarkan suara aneh itu. “Rel, jangan berisik. Aku tidak bisa tidur.” Gara menyenggol kaki Aurel, berharap wanita itu bisa tidur dengan tenang. Akan tetapi suara gemelatuk itu justru semakin terdengar keras dan kini diiringi dengan erangan tipis dari bibir sang wanita. “Rel, kau baik-baik saja?” Gara yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres segera turun dan mengecek keadaan Aurel. Benar saja! Wanita itu kini tengah kedinginan, ditambah badannya yang juga mulai menggigil. Jika dibiarkan, bisa saja ia terkena hiportermia. Hah! Menyusahkan saja! “Rel, kau bisa bangun? Ayo, kita tidur di atas saja.” Gara mengguncang tubuh Aurel, berusaha untuk membangunkan sang wanita. Namun Aurel justru semakin mengigil, badannya mulai bergetar tak karauan. “Tuan, dingin,” ujarnya lemah. Meski dalam keadaan setengah sadar, tapi ia tahu yang saat ini berbicara dengannya adalah Gara. “Iya, aku tahu. Maka dari itu ayo kita pindah ke kasur.” Aurel tak menjawab, ia hanya terus mengatakan kata ‘dingin’ berulang kali. Gara mendesah lelah. Haruskah ia yang berkorban untuk menggendong wanita itu ke atas? “Ck! Kau merepotkan sekali.” Meski enggan, pada akhirnya Gara mengangkat tubuh Aurel dan merebahkannya di kasur. “Kali ini kau berhutang banyak padaku, Nona ubur-ubur.” Dengan cekatan Gara menarik selimut untuk menutupi mereka. Tapi sebelum itu ia sudah terlebih dahulu melepaskan sebagian pakaian yang menutupi tubuh keduanya. “K-kau mau apa?” tanya Aurel terbata. “K-ku mohon, j-jangan m-melakukan riset d-desahan di sini.” Di sisa kesadarannya, Aurel masih bisa membuat Gara tertawa dengan ucapan konyolnya. Apa-apaan dia! Memangnya aku sudah gila ingin b******a dengan orang yang sedang sekarat? “Sst, lebih baik kau diam dan tidurlah dengan tenang.” Tanpa mendengarkan ocehan tidak jelas Aurel, Gara dengan santai membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Memberi Aurel kehangatan hingga sesaat kemudian nafasnya perlahan mulai mengalun teratur. Dalam diam Gara tersenyum, sebelum ia ikut menyelam ke dalam mimpi yang tadi sempat tertunda. *** Hari ini, matahari nampak bersinar cukup terang. Sisa hujan deras semalam seakan menguap tanpa bekas, digantikan oleh kehangatan dirusan cahaya yang terpancar dari atas sana. Sesuai yang telah Gara rencanakan sebelumnya, hari ini ia akan melakukan survei tempat yang rencananya akan dijadikan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk proyek web series terbarunya. Berbekal sedikit informasi yang Gara kumpulkan dari internet, pria itu mulai menjelajahi beberapa sudut tempat yang sekiranya bagus untuk dijadikan lokasi syuting. Mulai dari pesisir pantai, pedesaan hingga perbukitan. Semua keadaan serta suasana di sana tidak luput dari perhatian Gara, dan ia sama sekali tidak merasa rugi datang ke tempat itu, sebab selain melakukan survei, nyatanya Gara lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menikmati pemandangan, terutama di area perbukitan. Dari atas sana, Gara dengan jelas dapat melihat hamparan laut Teluk Terima yang begitu indah, ditambah dengan semilir angin yang berhembus di celah dedauan hutan tropis. Seakan berhasil menciptakan suasana tenang yang jarang ia dapatkan di tempat lain. “Tuan, ayo kita duduk di sana." Dengan bersemangat Aurel menarik tangan Gara menuju tempat datar yang berada di sisi tebing. Mengajak sang pria untuk berdiam di sana sembari menunggu matahari yang akan terbenam sebentar lagi. Ck! Lihatlah si ubur-ubur bulan itu! Saking bersemangatnya, Gara bahkan sampai lupa jika semalam wanita itu hampir saja kehilangan nyawanya karena hipotermia. Dan seharian tadi, ia sama sekali tidak terlihat lesu apalagi demam parah. Yang ada wanita itu justru melompat ke sana kemari dengan riang. Persis seperti monyet gila. “Kau yakin sudah baik-baik saja?” Gara menyentuh dahi Aurel sebelum ikut duduk di samping sang wanita. “Ya, aku sudah baik-baik saja, kok. Ini juga berkat Tuan yang sudah mau menjagaku semalam,” ujar Aurel dengan tulus. Ia sungguh-sungguh berterima kasih pada Gara karena mau menolongnya kemarin malam. Karena kalau tidak, mungkin saja hari ini ia tidak akan bisa menikmati pemandangan indah dari atas bukit ini. “Oh, baguslah kalau begitu,” balas Gara. Setelahnya mereka memilih untuk menikmati pemandangan itu dalam diam, sampai Aurel kembali membelah kesunyian dengan bertanya, “Tuan, apa kau tahu mitos tentang tempat ini?” Gara yang sedari tadi terdiam menoleh ke arah Aurel lalu mengangguk. “Ya, sedikit tidak aku pernah mendengarnya. Mitos tentang pasangan yang pasti akan berpisah jika datang ke tempat ini. Sebab di sinilah konon katanya Jaya Prana dibunuh oleh utusan raja yang saat itu ingin menikahi istrinya—Layon Sari.” “Dan apa kau percaya dengan mitos itu?” tanya Aurel kembali. Gara menghendikkan bahunya. “Entahlah! Namun kadang mitos bisa berubah menjadi fakta jika seseorang memilih untuk tenggelam dan terlanjur mempercayainya.” Aurel mengangguk setuju. “Kau benar, Tuan. Hah! Untung saja kita berdua bukanlah pasangan kekasih. Jadi kita tidak perlu untuk menakutkan hal semacam itu.” Gara terkekeh pelan. “Ya, untung saja. Karena dibandingkan takut akan mitos tempat ini, aku lebih takut memiliki kekasih seperti makhluk astral macam dirimu.” “Kau! Apa kau bi—“ “Ayo, sebaiknya kita turun sekarang. Sebentar lagi hari mulai gelap, jangan sampai kita diserang kawanan monyet yang ada di tempat ini.” Tanpa memedulikan Aurel yang tengah mengumpat, Gara telah terlebih dahulu berjalan menuruni anak tangga yang jumlahnya ratusan itu. Bergegas turun sebelum matahari benar-benar masuk ke dalam perut laut. “Tuan, tunggu!” Dari arah belakang, Aurel berlari menyusul Gara. Lantas tanpa pikir panjang menautkan ke sepuluh jarinya pada satu jari kelingking milik pria itu. Dengan bersemangat ia mengayun-ayunkannya ke udara. Persis seperti anak kecil yang tengah memegang mainan kesukaannya. Pancaran sinar jingga yang memenuhi cakrawala berhasil menciptakan siluet yang terpantul dari tubuh keduanya. Menuntun kaki untuk menapak satu demi satu anak tangga yang akan membawa mereka sampai di bawah sana. Deretan pepohonan yang berjejer rapi di sisi kanan dan kirinya seolah menjadi saksi bisu bagaimana perdebatan konyol di antara keduanya terdengar cukup alot. “Tempat ini sangat indah ya, Tuan. Tapi sayang sekali aku tidak bisa mengajak Leo datang kemari.” “Leo?” Alis Gara terlihat menyatu. “Leo siapa?” “Itu, Felis Leo. Calon pacarku,” jawab Aurel dengan percaya diri. “Oh, si playboy cap kodok kering itu?” “Astaga, Tuan. Dia itu orangnya baik, bukan playboy seperti yang kau tuduhkan.” “Dari mana kau tahu dia bukan seorang playboy?” “Ya, tahu saja. Aku kan mengenal dia, lagipula aku sudah memilihnya sebagai calon pacarku.” “Cih! Baru calon?” Aurel mengangguk. “Ya, tapi sebentar lagi dia akan menjadi pacarku.” “Percaya diri sekali kau. Memangnya kau yakin dia mau menjadi pacarmu?” “Tentu saja dia mau. Aku kan Aurelia Aurita. Si ubur-ubur bulan yang cantik.” Gara tertawa. “Dasar!” TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN