“Ya Tuhan! Wajahmu sangat cantik dan anggun. Tersenyumlah sekarang!” pinta Gayatri setelah wajah tersebut telah menyatu pada daging kepala depan. Deswita segera meraba wajah lalu tertawa bahagia, begitu pun dengan Laksmi. Namun, ada satu yang tak menyukai kebahagiaan mereka. Senyum culas dengan bara dendam membakar dalam kedua mata. Kadek Satya melihat mereka dengan terharu. Dia merasa bahagia, telah ikut serta memperjuangkan kembalinya dua bersaudara dalam takdir semestinya. “Kalian bisa tertawa bahagia dan aku tak akan biarkan itu. Akulah sang penentu!” teriak pongah sosok Pak Man dengan tubuh membara bagai api berkobar. Dia melesat ke atas genting vila lalu lenyap bersama desir angin berbau busuk. “Aauuuung ...!” Lolongan panjang gerombolan anjing seketika menggema seantero halaman

