“Makhluk jenis apa pun kamu. Aku gak akan takut!” teriak Gayatri sambil menenteng kursi sambil berucap,” Audzubillahiminasyaitonirojim.”
Dia pukul-pukulkan kursi ke makhluk-makhluk hijau berlendir berbentuk keong tersebut. Keadaan Sarti semakin lemah, lumut berserabut masih merambat mendekat ke arah dua wanita. Jumlah makhluk-makhluk merah berlendir semakin membludak. Meski udara telah masuk dari jendela yang terbuka, tetapi masih kalah dengan bau menyengat yang dihasilkan si makhluk merah.
“Ya Allah. Tolong kami!” teriak Gayatri yang mulai kelelahan.
Tumbuhan lumut misterius tiba-tiba meledak dan mengeluarkan lendir putih kental yang amat banyak. Makhluk-makhluk kecil serupa keong tersebut terendam lendir yang memenuhi ruangan. Gayatri susah payah mengangkat tubuh Sarti ke atas ranjang. Makhluk-makhluk kecil serupa keong semakin besar.
“Ge, ki-kita a-akan ma-matiii ...,” ucap Sarti lalu terkulai lemas dan pingsan.
Gayatri yang melihat sahabatnya pingsan menjadi panik. Sementara itu, makhluk-makhluk keong bergerak ke arah dinding. Kaki-kaki berlendir menempel erat pada dinding dengan lendir yang elastis seperti karet, makhluk-makhluk tersebut bergelantungan. Sebagian dari mereka telah merangsek sampai ada yang naik ke ranjang. Gayatri berusaha sekuat tenaga menyingkirkan mereka dengan kursi.
“Tolooong! Tolong kami!” teriak Gayatri sekencang-kencangnya.
“Sarti, tolong bertahan, ya!”
Makhluk keong semakin banyak yang berusaha naik ke ranjang dan berakhir kena pukulan kursi. Sebagian dari yang menggelantung juga mencapai ranjang. Sebuah keajaiban terjadi. Setiap kali Gayatri memukul makhluk tersebut pada bagian mata, seketika meledak.
“Sar, kita akan segera bebas. Aku udah tau kelemahan mereka,” ucap Gayatri bersemangat. Tenaga yang terkuras kembali terkumpul. Dia kini bisa sedikit tersenyum. Sarti yang pingsan beberapa kali diberi percikan air pada wajah.
Makhluk-makhluk keong yang mencapai ranjang selalu berakhir dengan ledakan. Tiap kali itu pula, Gayatri berteriak,”Yes!”
“Ayo, sini! Majuuu ...!” teriak Gayatri semakin bersemangat.
Tiba-tiba terdengar dobrakan pintu dari luar. Dua kali hentakan, material kayu pun terbuka lebar. Seketika lendir putih menyusut dan hilang. Hanya tampak makhluk-makhluk keong raksasa bergelantungan di dinding dan beberapa masih menyerang ke arah ranjang.
“Ken Arok ...!” teriak Gayatri tanpa sadar. Teriakannya sukses membuat kedua mata kedua pria di ambang pintu terbelalak.
“Gek ...!”teriak Kadek Satya yang merasa mendapat angin segar.
Pemuda berparas tampan diiringi kru bus segera menghampiri arah ranjang, dengan menyingkirkan beberapa makhluk keong. Naas, saat Kadek Satya memukul satu keong, kena muncratan lendir di mata. Seketika, kondektur bus ini berteriak kesakitan lalu pingsan.
Sementara itu, temannya berusaha menyingkirkan makhluk keong dengan injakan dan tendangan. Mata awas Gayatri melihat sinar dalam genggaman tangan Kadek Satya yang pingsan.
Wanita muda tersebut segera melompat ke arah sang pemuda yang berjarak semeter dari ranjang. Beberapa kali memukul mundur makhluk keong dan akhirnya bisa membuka genggaman tangan Kadek Satya.
“Terima kasih, Ken,” ucap Gayatri sambil mengambil kembang goyang yang berkilau tersebut. Kedua tangan wanita ini luwes menggelung rambut membentuk sanggul kecil, lalu menancapkan kembang goyang di atas sanggul.
Keanehan terjadi, tubuh Gayatri tiba-tiba berasap. Benda tersebut semakin menebal lalu menutupi sekujur tubuh. Beberapa detik kemudian, dari dalam kepulan asap muncul cahaya keemasan yang menyilaukan.
Seketika aktivitas dalam kamar terhenti. Makhluk-makhluk keong tak bergerak, begitu pun kru bus. Mereka terhipnotis. Samar-samar terdengar suara mistis merapalkan sebuah mantra yang melenakan hati semua makhluk. Semua terdiam, bahkan angin pun tak lagi berdesir.
“Apuranen sun angetang lelembut ing nusa Jawi, kang rumeksa ing nagara para ratuning dhedhemit, agung sawahe ugi yen eling sadayanipun, pedah kinaya tulah, ginawe tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa. Kang rumiyin ing bang wetan. Durganeluh Maospahit lawan Raja Bohureksa iku ratuning dhedhemit Blambangan kang winarni awasta Sang balabatu, aran Butalocaya, kang rumeksa ing Kadhiri, Prabuyeksa kang rumeksa Giripura Singhasari¹.”
Perlahan dan pasti, makhluk-makhluk merah berlendir musnah. Seluruh ruangan seketika bersih bagai tak pernah terjamah makhluk-makhluk tersebut.
“Nimas Ken Dedes ...,” ucap lirih dari bibir Kadek Satya. Dalam keadaan mata terpejam, pemuda tersebut bangun lalu beranjak menghampiri tempat kepulan asap di mana Gayatri berada.
Tubuh Kadek Satya bergetar sesaat lalu meluncur sebuah kidung lembut dari kedua bibirnya. “Iki tulising kidungku kanggo sira hapsarining kalbu. Eseme kang manis madu, dasar ayu parasmu kang tanpo layu. Nimas sesotyaning ati, ya mung ndiko kang sawiji. Langit bumi kang hanyekseni.
Nalikane ngucap janji ono lathi.
Yo mung siji ... sesotyaku.
Memanikku mung Nimas Wong Ayu.
Panyuwunku mugo Nimas ora lali, marang janji setyamu.
Nanging kabeh kui muspro.
Eling kalamun pupusing tresno.
Wes tak cobo nglalekke sliramu. Nanging tak lali-lali tan biso lali².”
Kadek Satya melangkahkan kaki memasuki kepulan asap yang kini berubah menjadi putih keemasan. Sarti mulai siuman, tetapi tak bisa menggerakkan tubuh. Begitu pun, pria muda yang bekerja sebagai kru bus. Alam berasa menyediakan seluruh ruang dan waktu hanya untuk Ken Arok dan Ken Dedes.
“Kangmas Ken Arok ....”
“Aku datang padamu untuk menepati janji, Nimas Wong Ayu.”
Tak ada bunyi apa pun selain kidung asmaraloka di antara keduanya.
Namun, ternyata kebahagiaan pasangan ini membuat murka sosok hitam legam bertaring runcing. “Aku yang berhak atas tubuh dan jiwa Ken Dedes dari terlahir kembali. Dia milikku.”
Tiba-tiba langit gelap gulita. Suara gemuruh guntur menggelegar dari langit, disusul kilatan petir hingga masuk lewat jendela. Lidah petir berwarna kuning kemerahan meliuk-liuk menghujam ke arah kepulan. Beberapa kali kilat menyambar, tetapi tertolak. Kepulan asap tersebut seperti memiliki tabir kuat.
Sosok hitam bermata besar serupa bola tenis berwarna merah darah muncul di depan kepulan asap. Sarti dan kru bus hanya bisa melihat tanpa bisa berteriak apalagi bergerak. Keduanya syok.
“Sudah waktunya, aku ambil kamu. Tak ada yang berhak,” ucap bibir lebar berlumuran darah segar.
Kedua taring runcing berkilau di antara darah menggumpal dalam mulut. Bau busuk bangkai menguar memenuhi ruangan. Sosok setinggi hampir menjangkau plafon penuh marah menatap tajam ke arah kepulan asap, berisi sejoli yang sedang kasmaran.
“Anak muda keluarlah! Kau hanya titisan Ken Arok. Dia permaisuriku!” teriak sosok besar hitam berbulu penuh amarah.
Mulut besarnya meniup ke arah kepulan asap. Seketika embusan angin bagai badai memporak-porandakan seisi ruangan. Hingga tubuh Sarti dan kru bus terlempar ke luar ruangan.
Namun nyatanya, kepulan asap tetap geming. Sosok hitam semakin murka lalu mengangkat telapak tangan berbulu selebar tampah³, ke arah kepulan yang berubah menjadi warna biru kehijauan.
“b*****h! Aku tak akan biarkan milikku pergi!” teriak sosok hitam yang murka karena tiap kali tangannya menghunjam ke arah kepulan, seperti masuk ke dalam hamparan laut samudra.
Note:
1. Penggalan Suluk Plencung-Reksawedha (Pupuh Sinom): Merupakan mantra bagi penguasa gaib Tanah Jawa
2. Lagu Sotya oleh Dru Wendra Wedhatama
3. Tampah: Tempat terbuat dari anyaman bambu. Berbentuk bundar.