Seperti yang dikatakan oleh Misya, jika Alyssa adalah orang ketiga dalam hubungannya bersama Keith. Perempuan itu bahkan sudah bersama Keith ketika ia baru sampai ke area kampus. Keith dan Alyssa sedang berdua dan tertawa bersama, Misya tidak tahu harus menghampiri mereka atau tidak. Jika dihampiri pun, pastinya beralasan jika mereka hanya mengobrol biasa. Tidak dihampiri, rasanya seperti ada yang mengganjal. Misya merasa serba salah.
Tapi sepertinya ia tidak perlu terlalu bingung karena ternyata Keith memanggilnya dari jauh dan melambaikan tangan menyuruhnya agar mendekat. Misya menatap ke arah mereka, ia melihat Alyssa yang sedang tersenyum menatapnya. Senyum itu, entahlah tapi yang jelas Misya tidak menyukainya.
“Sya?” Keith heran Misya hanya diam saja di sana, ia pikir mungkin ada yang salah hingga ia memutuskan untuk berjalan mendekati Misya.
Misya yang sadar Keith akan berjalan ke arahnya dengan cepat bergerak melangkah ke depan dan mendekati dua orang yang sedari tadi sudah menatap ke arahnya.
“Kenapa, Keith?” tanya Misya pelan mendongak pada Keith yang memang lebih tinggi darinya. Hanya seperti ini saja, Misya sudah merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tidak mengelak akan fakta jika ia secinta itu pada Keith, sampai akhirnya tutup mata terhadap kesalahan apa saja yang dilakukan pria itu.
“Gini, kan kita mau ada piknik nih. Emang udah full orangnya, tapi bisa nggak kita tambahin satu orang lagi? Alyssa mau ikut,” ujar Keith ringan.
Misya merasa sesak mendengarnya, padahal peraturan cukup tegas. “Enggak bisa. Aku emang bagian dari HMJ, tapi aku enggak bisa buat keputusan gitu, Keith. Lagian, peraturannya udah dibilang dari awal nggak boleh lebih dua puluh,” tolak Misya tak bisa dibantah.
Keith hendak berbicara, tapi Alyssa buru-buru berujar lebih dulu. “Oh nggak papa kok. Nggak perlu dipaksa banget, aku nggak jadi ikut nggak papa,” ujarnya tertawa kecil dan Misya sama sekali tidak punya rasa simpati untuk itu. “Ah ya, aku ada kelas nih. Em duluan, yah.”
Keith menghela nafas pelan dan mengangguk sembari tersenyum kecil pada Alyssa sebelum perempuan itu berbalik pergi dari sana.
Setelahnya, Keith menghadap kembali ke arah Misya dan ia tampak kesal. “Kamu ini kenapa? Aku tau kok peraturan itu enggak begitu mutlak, apalagi kamu anggotanya langsung, pasti bisa masukin orang lain.”
“Aku bilang nggak bisa, Keith. Emang enggak begitu mutlak, tapi yang namanya peraturan ya diikuti. Kalau Alyssa emang pengen banget ikut, dia bisa ngomong langsung ke Zen, ketuanya langsung,” seru Misya membela dirinya.
“Kamu masih mikir aku sama Alyssa punya hubungan khusus di belakang kamu?” Keith membasahi bibir bawahnya. “Berapa kali aku harus bilang kalau enggak ada apa-apa antara aku sama dia, Sya. Aku sama dia tuh cuma temen, nggak lebih.”
Misya terdiam, anak rambutnya berayun dihembus angin lembut. “Oh ya? Temen? Tapi apa yang kalian lakuin, interaksi, udah nggak kayak temen lagi.”
Keith tampak tak suka dengan ucapan Misya, ia menampilkan raut sakit hati terang-terangan. “Kamu nggak percaya aku?” tanya Keith pelan. “Aku sama Alyssa emang deket banget, Sya. Tapi itu nggak bisa disebut selingkuh.”
Ini dia. Ucapan serta mimik Keith yang selalu mampu membuat hati Misya luluh dan akhirnya memaafkannya. Ucapan yang membuat Misya jadi berpikir ulang apakah ia yang sebenarnya salah? Terlalu mengambil hati atas apa yang Keith lakukan dengan Alyssa.
“Kak, lo harus bilang ke Keith, pilih lo atau Alyssa itu!”
“Kalau dia emang cinta sama lo, harusnya dia enggak deket-deket banget sama cewe lain. Namanya juga ada hati yang harus dijaga.”
Perkataan Ergan dan Jeza beberapa hari lalu tiba-tiba muncul di dalam kepala Misya. Memang benar, harusnya ia bertanya seperti itu, tapi masalahnya ia terlalu takut jika pertanyaan itu terlalu sensitif dan pada akhirnya membuat keretakan di hubungannya. Sedangkan Misya sangat tidak kepikiran tentang mengakhiri hubungan mereka, membayangkannya saja tidak pernah. Walaupun Keith suka sekali bersama Alyssa dan memancing kecemburuan Misya. Tapi kekurangan pria itu ya hanya itu saja, Keith terlalu sempurna untuk hal yang lainnya.
“Yauda aku minta maaf,” celetuk Keith sembari tersenyum. “Yauda kalau Alyssa nggak bisa ikut. Maaf, aku maksa kamu tadi.”
Misya membalas senyum Keith dan mengangguk. Ini yang dimaksud Misya. Memang kesalnya minta ampun jika Keith berulah, tapi ketika ia sudah mengalah, Misya akan jatuh berkali-kali lipat lagi padanya.
“Kamu ada rapat sama anggota lainnya, kan?” tanya Keith dan diangguki Misya. “Yauda, kamu duluan aja, aku juga abis ini ada kelas.”
Keith memeluk Misya singkat, memberi senyum penuh cinta dan melambaikan tangannya ketika Misya mulai melangkah meninggalkannya.
Misya berbalik ketika ia sudah benar-benar jauh dari Keith. Ia menarik nafas dalam. Pada akhirnya, amarahnya padam dan rasa cintanya semakin menguat. Selalu saja seperti itu..
***
Seumur-umur, sepertinya Jerome belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke ubin perpustakaan. Yang mungkin, menginjak ubinnya saja sudah membuatmu pintar, tidak perlu repot membaca buku dengan ratusan halaman yang membuatmu pusing, hanya memijak lantai perpus sudah membuatmu mampu menyerap seluruh ilmu yang ada di sana.
Tidak, tidak. Jerome berbohong.
Jerome mengedarkan pandangannya, mencari sosok Jeza yang entah kenapa tidak terlihat sepanjang ia memandang. Apa gadis itu masih mencari buku di sela-sela rak yang begitu banyak ini?
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Jerome melangkah ke arah meja resepsionis dimana pustakawan berada. Seorang guru wanita paruh baya yang identik dengan kacamata berantainya. Rumor yang beredar mengatakan jika beliau cukup galak. Jerome tidak tahu benar atau tidaknya karena memang ia belum pernah ke perpustakaan sebelumnya.
"Siang, Bu. Saya-"
"Sebentar."
Ibu itu menyela ucapan Jerome. Ia mengambil sebuah kartu didalam lacinya yang Jerome tahu adalah kartu pengunjung ke perpustakaan. Siapapun yang datang ke perpustakaan, harus punya kartu itu. Dan karena Jerome adalah pendatang baru, ia harus membuat kartu lebih dulu. Tapi, belum juga ia mengatakan maksud dan tujuannya, si ibu sudah lebih dulu mengerti.
Jerome berjinjit sedikit, mengintip apa yang ditulis guru bernama ...Mina, Jerome mengeja dari ekor matanya. Oke, apa yang ditulis bu Mina disana sejujurnya membuat Jerome heran.
"Ini kartu kamu." Bu Mina menyerahkan kartu yang sudah ada namanya, lengkap dan tidak salah sama sekali, tidak seperti yang kadang dilakukan oleh guru lain di buku absen mereka.
"Ibu tau nama saya, ya?" Jerome bertanya. Ia tidak bisa menahannya atau ia akan terus penasaran dan hal itu menghantuinya.
"Siapa yang nggak kenal kamu?"
Jerome mendongak, senyum kecil terbit di wajahnya. Baiklah, ia dikenal banyak guru dan yang lainnya karena kelakuannya. Tidak buruk, pikir Jerome, tapi juga tidak baik.
"Maaf, tapi kelasnya salah, Bu." Jerome mengkoreksi lagi. "Saya-"
"Kamu udah nggak di kelas 12 IPS 1? Ada peningkatan apa kamu sampai dipindahkan ke kelas yang lebih tinggi?"
Jerome kini sadar kalau rumor yang beredar ternyata benar. Namun, 'galak' tidak tepat, yang tepat adalah 'kasar'. Seperti terlalu mudah berbicara. Tapi Jerome tidak apa, ia sama sekali tidak memasukkan ucapan tidak perlu ke hatinya. Untuk apa? Semua hal yang menyakiti patutnya dibuang jauh-jauh, diblokir aksesnya untuk masuk ke dalam hati karena hadirnya cuma menyakiti diri.
"Saya dipindahin ke 12 IPS 4, Bu." Jerome memberi kartunya kembali pada Bu Mina dan Bu Mina hanya mengangguk lalu mengubahnya.
Seseorang datang dan mendekat ke meja itu, Jerome menoleh dan cukup kaget karena ternyata orang itu adalah Jeza. Jerome kemudian melirik ke arah dua buku yang Jeza letakkan diatas meja.
"Lo mau pinjem dua buku itu?" tanya Jerome menunjuk dua buku tebal yang ia melihatnya saja sudah muak.
Jeza diam cukup lama sebelum menjawab dengan anggukan kecil. Ia lebih ke tidak tahu harus menjawab dengan apalagi. Ia tadi dari jauh sudah melihat kedatangan Jerome dan ia sebetulnya sudah hendak pergi ke arah meja resepsionis, tapi karena ada Jerome, ia menunda sebentar. Akan tetapi, urusan Jerome tak kunjung selesai, sedangkan Jeza harus agak cepat karena ia harus ke kantin setelah ini, cacing-cacing di perutnya sudah berdemo minta diberi makan. Karena itulah, mau tidak mau ia menerobos, dan sekarang Jerome malah terus melihat ke arahnya, membuatnya tidak nyaman saja.
"Ini kartu kamu."
Bu Mina meletakkan kartu Jerome diatas meja dan segera mengambil dua buku yang akan dipinjam oleh Jeza.
"Ini aja, Jez? Nggak ada yang lain lagi?" tanya Bu Mina sembari mencatat buku apa saja yang dipinjam Jeza didalam buku catatan miliknya.
Jeza berpikir sesaat. Ia dari tadi berpikir keras akan apa satu tema lagi yang ia perlu cari bukunya, tapi ia lupa, tidak bisa diingat sama sekali.
"Kamu kenapa disitu terus? Udah selesai, kan? Silahkan kamu cari buku yang mau kamu baca atau pinjam." Bu Mina mendongak menatap Jerome, tangannya terangkat dengan telapak tangan diatas, mempersilahkan Jerome untuk segera enyah dari hadapannya.
"Saya nungguin Jeza, kok, Bu."
Melihat Bu Mina yang terlihat menghembuskan nafas lelah, Jeza langsung merasa terilhami. "Em ada satu lagi yang perlu saya cari, Bu."
"Yauda sana cari dulu," jawab Bu Mina dengan bibir yang menipis.
Jeza segera berbalik dan berjalan pelan ke arah rak yang penuh dengan buku. Begitu ia pergi, Jerome juga melakukan hal yang sama, bahkan mengikuti Jeza kemanapun ia melangkah.
Jeza sungguh tidak suka situasi ini. Ia tidak nyaman, sinyal diotaknya seolah memberi peringatan agar ia harus segera menyingkirkan atau menjauhi Jerome. Tapi, mau berbicara pun ia tidak punya kepercayaan diri yang cukup.
"Jez." Jerome memanggil, tepat ketika Jeza berhenti ke tempat kedua setelah di tempat pertama ia tidak menemukan buku yang ia cari. "Lo kok kayaknya ngehindarin gue gitu? Ada yang salah? Kalau karena tadi malam, gue minta maaf, emang gue yang salah."
"Iya nggak papa."
Percayalah jika kalimat singkat dan mudah yang terlontar dari Jeza nyatanya tidak semudah itu. Ia harus menyiapkan mentalnya terlebih dahulu. Bahkan sekarang, Jeza harus berpura-pura memilah buku seolah ada buku yang ia ingin pinjam lagi sesuai dengan perkataan palsunya tadi. Karena faktanya, ia masih belum bisa mengingat tema berita yang ia harus cari bukunya.
Sedangkan Jerome, ia tersenyum senang Jeza menjawab kalimatnya dengan kalimat, bukan anggukan atau gelengan.
"Lo ... tadi pagi keliatan khawatir sama gue, ekspresi muka lo beda. Sekarang, kenapa beda? Datar aja gue liat tuh muka."
Jeza berdeham pelan. "Ya nggak papa." Jawaban yang sama seperti sebelumnya. Sebenarnya jawabannya ada lanjutannya, tapi kelanjutannya ada didalam hati Jeza, siapa yang bisa baca?
Jerome agak mulai paham dengan sifat Jeza, ia tersenyum dan mengangguk kecil. "Terus kenapa nggak mau jadi mentor gue?"
Kali ini spontan, Jeza mendongak menatap Jerome. Mereka bertatapan hanya dua detik sebelum Jeza sadar dan mengalihkan tatapannya. "Gue sibuk."
"Tadi jawaban lo nggak gitu."
Jeza hanya menarik nafas dalam, lalu melangkah ke rak selanjutnya. Dari sana, Jerome bisa tahu kalau Jeza bosan dengan pertanyaannya. Mungkin saja, karena ia juga tidak begitu pandai membaca ekspresi seseorang. Tapi entah kenapa, alih-alih membuatnya menjauh, Jeza yang begini malah membuatnya ingin semakin dekat, seperti magnet, membuatnya penasaran.
Jerome jadi penasaran bagaimana reaksi Jeza jika ia mengatakan satu hal krusial.
Jeza pasti mengenal dirinya, bukan? Berita tentang kenakalan yang ia perbuat sudah merajalela di sekolah. Jadi, tidak mungkin Jeza tidak tahu dirinya. Iya, kan? Kenapa Jerome sekarang jadi penasaran akan hal ini?
Ketika Jeza berhenti, melanjutkan acara memilahnya. Jerome juga berhenti dengan tubuh menyamping. Lengan bagian atasnya bersandar pada rak dan ia menatap Jeza intens.
Jeza melirik lengan yang menempel pada buku itu. Rasanya ingin sekali mengatakan kalau Jerome tidak bisa bersandar di sana. Tapi kalimatnya hanya tertahan di tenggorokan, percuma saja.
"Jez, lo kenal gue nggak, jujur aja."
"Hm, sejak tadi malam."
Jerome tertawa, cukup keras hingga Jeza sungguh tidak bisa menahan ekspresi memperingatinya agar Jerome berhenti tertawa. Ini perpustakaan, bukan kantin.
"Eh sori sori." Jerome menutup mulutnya rapat-rapat. Ia masih terkekeh pelan dan menggaruk kepala bagian belakangnya. Astaga, ia tadi begitu percaya diri kalau Jeza tahu tentangnya. Dan ternyata tidak, sangat mengejutkan. Jadi, ia juga tidak tahu apa-apa saja keburukan yang ia buat. Hm, baguslah. Citranya masih bagus di mata Jeza.
Tapi pertanyaan lainnya adalah, seberapa luas Jeza membentengi dirinya hingga tidak tahu tentang dirinya? Bukan apa-apa, tapi berita tentang kesalahan Jerome rasanya sudah cukup menyebar seperti virus. Dan Jeza ....
Jerome dibuat terkejut, sungguh.
"Jez."
Jeza tidak menjawab. Ia sudah menggenggam satu buku di tangannya. Ia tidak tahu buku apa itu, ia hanya ambil asal saja karena ingin segera keluar dari situasi yang membuatnya sesak nafas itu, masalannya ia tidak nyaman, itu saja.
Dan apa yang diucapkan Jerome selanjutnya bukan lagi membuatnya sesak nafas, tapi mengambil nafasnya,
"Jez. Lo mau nggak jadi pacar gue?"
***