Ergan sampai di rumah belasan menit setelah Jeza tiba. Kakaknya itu sedang duduk di bangku meja makan dan mengiris apel yang sudah dikupas kulitnya.
"Udah pulang?" tanyanya yang menurut Ergan termasuk pertanyaan aneh. Basa-basi mungkin, tapi masa tidak lihat kalau ia sudah berada di rumah, berarti kan sudah pulang.
"Ezi udah sampai rumahnya, kan?"
"Udah."
"Bagus." Jeza menggigit irisan apelnya ketika Ergan membuka kulkas, mencari minuman dingin. "Lo mau apel?"
"Enggak, makasih."
"Yauda bagus." Lumayan, buat dia aja, pikir Jeza begitu.
Ergan menenggak botol teh sampai isinya tinggal setengah lalu memasukkannya kembali ke kulkas.
"Tandai punya lo."
"Iya, santai aja."
"Eh btw, coba sini duduk dulu." Jeza mengayunkan tangannya menyuruh Ergan untuk duduk di depannya.
"Mau apa?" Ergan terlihat malas. "Gue capek ini, mau tidur."
"Oh ya? Yauda deh nggak jadi." Jeza tersenyum unjuk gigi. "Yauda sana tidur. Eh tapi, makan dulu kalau bisa."
Ergan sebenarnya mau langsung pergi saja, tapi karena kalimat Jeza yang terakhir itu, ia jadi tidak tega beneran naik ke atas.
"Emangnya lo mau nanya apa? Gue dengerin bentar nih." Ergan sudah sangat berbaik hati. Ia berdiri bersandar pada kulkas.
Jeza bertopang dagu. "Em, lo emang temenan sama Ezi?"
"Enggak sih sebenernya. Enggak deket. Cuma temen kelas biasa. Kenapa emang?"
"Lo berdua malah keliatan kayak orang pacaran yang lagi marahan tau nggak." Jeza menatap Ergan penuh selidik.
Ergan tertawa. "Nggak lah. Kan lo sendiri yang bilang, nggak ada pacaran, Kak Misya sama mama juga ngomong gitu, kan?"
Jeza berdeham, ia menggaruk keningnya. "Kalau kita nggak ngomong gitu, lo mau pacaran?" tanyanya kemudian.
"Enggak juga."
Tiba-tiba Jeza memikirkan hal ini. Bagaimana jika Ergan sebenarnya selama ini terikat sekali dengan apa-apa yang ia, Misya dan mamanya perintahkan? Apa mungkin hal itu membatasi segala pergerakan Ergan? Ya, mereka tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
"Udah itu aja yang mau ditanya?"
Jeza mendongak menatap Ergan. Ia kemudian bangkit berdiri dan menghampiri adiknya yang sekarang menatapnya heran. Jeza kemudian memeluk Ergan dan Ergan terkejut karenanya.
"Kenapa lo?"
Mungkin sekitar lima detik, dan Jeza mengurai pelukannya. Ia tersenyum kecil dan menatap Ergan serius.
"Gan, gue serius. Lo kalau ngerasa tertekan, atau ngerasain apapun itu, lo jangan simpen sendiri. Lo punya hak, dan lo bisa nyuarain apa aja yang lo rasain. Gue, Misya, mama, pasti bakal dengerin kok. Jangan buat sesuatu yang sebenernya bisa lo bantah, malah jadi tali yang ngekang lo sendiri, ntar lo juga yang kesakiti," ujar Jeza tulus dari hatinya yang paling dalam.
Ergan berdeham kecil. "Kok lo jadi lebay gini?"
Hancur sudah suasana yang tercipta. Senyum Jeza surut sesurut-surutnya. Ergan memang perusak suasana.
"Udah deh sana lo tidur!" Jeza berbalik, mengambil mangkuk yang penuh dengan tirisan apel, membawanya ke ruang tengah dan kemudian menyalakan televisi.
Di belakang, Ergan diam-diam tersenyum kecil. Ia tahu kok maksud dari Jeza. Dan ia tidak pernah merasa terbebani dengan apa-apa saja yang diperintahkan tiga perempuan yang paling disayanginya. Termasuk, larangan pacaran.
***
Misya melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul empat sore. Sudah tidak ada urusan apa-apa lagi dan sekarang waktunya pulang ke rumah.
Dari tempatnya berdiri, Misya melihat Keith sedang berbicara di pintu masuk kelas dengan seseorang yang tidak terlihat karena terhalang tembok. Misya hanya berharap kalau seseorang yang sedang berbicara dengan Keith itu bukanlah Alyssa.
Misya kemudian mulai melangkah keluar. Ketika ia hampir mendekati Keith, Keith ternyata sadar ada Misya di sana sehingga ia memutar tubuhnya yang tadinya menyamping menjadi lurus menghadap Misya.
"Kamu udah siap?"
Misya mengangguk kecil. "Hm. Kamu ngobrol sama siapa?"
Seseorang mendongakkan kepalanya dan tersenyum. "Sama gue, Sya."
Misya seketika tertawa. Ternyata Jerico, ia pikir siapa. Baguslah kalau begitu. Misya harap Keith mengurangi segala intensitas obrolannya dengan Alyssa karena hal itu mengganggunya walau mereka mengklaim mereka hanya teman.
"Jadi, kamu mau pulang sekarang?"
"Iya, sekarang."
"Mama kamu jemput?"
Misya menggeleng, biasanya Mama pulang jam lima sore. "Enggak, aku pulang sendiri."
"Aku anter, ya." Keith langsung menawarkan.
"Gue cabut deh kalau gitu." Jerico langsung melambaikan tangannya dengan wajah yang dibuat konyol lalu berbalik pergi meninggalkan Keith dan Misya yang terkekeh pelan karena tingkahnya.
"Jerico namanya, kelakuan kayak Jerica."
Misya tak bisa menahan tawanya atas kalimat Keith. "Nggak boleh gitu. Jerico kalau udah macho parah lho, bisa ngalahin kamu malah."
"Nggak yakin." Keith tersenyum sombong, tapi setelahnya ia tertawa sembari merangkul Misya, mereka mulai melangkah. "Enggaklah. Aku juga mikir gitu, Jerico kalau beneran berubah pasti lebih keluar auranya."
Misya mengernyit, mendongak menatap Keith heran.
Keith yang sadar diperhatikan pun menunduk. "Kenapa ngeliatnya gitu banget?"
Misya menggeleng dan menurunkan pandangannya. "Enggak, kedengeran aneh aja."
"Maksud kamu aku suka sama dia gitu?" Keith tertawa lepas. "Ya enggaklah, nggak mungkin. Aku malah anti sama yang begituan."
"Iya, deh." Misya tersenyum lucu, ia berpisah dengan Keith, ia berjalan ke sisi mobil bagian penumpang sedangkan Keith ke sisi pengemudi.
Misya memasang seatbeltnya sebelum Keith melajukan mobilnya. Cara Keith mengemudi sebenarnya bisa dibilang cukup mengkhawatirkan. Tapi memang Keith tidak suka sesuatu yang dikerjakan dengan lambat. Misya awalnya agak protes, tapi karena Keith meyakinkannya kalau Keith sudah sangat mahir dalam mengemudi dan Keith juga membuktikannya, maka Misya tidak protes lagi.
"Kamu nggak ada acara nanti malam?" tanya Misya menoleh pada Keith.
Karena biasanya, setiap Rabu malam atau Sabtu malam, Keith selalu mengajaknya ke luar, hangout, nonton film di bioskop, atau hanya sekedar dinner. Biasanya juga Keith mengabarinya langsung, mau ia bisa ataupun tidak bisa. Tapi, sekarang pria itu diam saja.
"Oh ... em aku kurang tau, Sya. Liat nanti malam aja, ya. Kalau jadi, aku langsung chat kamu. Kalau aku nggak ada chat, berarti batal."
Misya mengangguk. "Oh gitu, oke."
Keith tiba-tiba merendahkan laju mobilnya, hingga Misya menatapnya heran. "Ada apa?"
Keith membasahi bibirnya, ia menoleh sebentar ke Misya sebelum kembali fokus dengan jalanan di depannya. "Gini. Aku nggak suka sebenernya bahas ini. Tapi, aku mau ngelurusin karena selama ini kita terus ngeributin hal ini."
Oke, tanpa diberitahupun, Misya sudah bisa menebak apa dan siapa yang akan dibicarakan oleh Keith. Siapa lagi orangnya jika bukan dia.
"Ini tentang Alyssa."
Benar, dia yang dimaksud adalah Alyssa. Dan benar, seperti yang Misya tebak.
"Aku sama Alyssa itu cuma temen, Sya. Yang aku cinta ya cuma kamu. Kalau aku nggak cinta, ngapain juga aku pertahanin hubungan ini, kan?" Keith memaparkan. "Tapi, setiap aku deket sama Alyssa, kamu nggak suka, kamu marah. Dari situ aku jadi khawatir kalau aku terang-terangan lagi ngobrol sama Alyssa di depan kamu, kamu bakalan diemin aku."
Sama sebenarnya dengan Keith, Misya juga sangat malas harus berbicara dengan tema Alyssa.
"Sekarangpun kamu diem aja."
"Jadi maksud kamu, kamu ngobrol atau apapun sama Alyssa diem-dieman aja gitu? Sembunyi-sembunyi biar aku nggak tau. gitu kan maksudnya?" Misya membalasnya, menyandarkan punggungnya dan menghela nafas pelan. Obrolan ini pasti akan berakhir dengan mereka yang bertengkar.
"Bukan gitu, Sya. Aku cuma mau kamu nggak marah kalau aku sama dia keliatan deket. Deket kan belum tentu ada perasaan."
"Tapi masalahnya, kedeketan kamu sama dia tuh kayak udah lebih dari temen, Keith. Kamu aja yang nggak sadar." Nada bicara Misya mulai meninggi. "Coba deh gini. Kalau aku ngelakuin hal yang sama, gimana? Aku juga punya lho temen cowo, cuma aku jaga jarak sama dia karena aku hargai perasaan kamu. Kalau kamu bilang pertemanan kamu sama Alyssa harusnya nggak ngaruhin hubungan kita ... yauda, berarti aku juga bisa jalin pertemanan sama temen cowo aku, kan? Dan aku sama dia cukup deket, kita juga sefrekuensi. Ya intinya sama kayak kamu sama Alyssa. Gimana? Kamu terima? Ya harusnya kamu terima sih, biar aku juga terima kamu temenan deket sama Alyssa."
"Jadi gini, kan...." Rahang Keith mengeras, tapi Misya tidak peduli, ia tidak ingin sakit hati lebih lama lagi.
"Kamu harusnya paham dong. Harusnya bisa jaga perasaan aku. Tapi, kamu malah ngelakuin hal yang sebaliknya." Misya menatap ke luar jendela. "Kalau gini lama-lama, aku juga nggak tahan, Keith."
Keith menoleh dengan cepat. "Aku nggak terima kalau itu," ujarnya membantah kalimat terakhir Misya. "Terus, temen cowo kamu itu siapa? Kamu nggak pernah ngenalin aku ke dia, kan?"
Misya masih enggan menatap Keith. "Beda kampus," jawabnya singkat. "Kalau kamu nantang, yauda aku terima. Kamu bisa interaksi kayak biasa ke Alyssa dan bakalan jalin interaksi lagi ke dia. Sedalam atau sedeket apa kamu ke Alyssa, maka aku juga lakuin hal yang sama ke temen aku itu. Adil, kan, kalau gini?"
Sebenarnya mau Misya terima atau tidak gagasan Keith berteman dengan Alyssa, hasilnya mungkin akan tetap menyakitinya. Jika Misya terima pertemanan mereka, ia akan cemburu. Karena memang pada dasarnya, Misya merasa perlakuan Keith ke Alyssa terasa berbeda dengan perlakuan Keith pada teman perempuannya yang lain, lebih spesial gitu. Dan kalau Misya menolak, maka bisa saja Keith menemui Alyssa secara diam-diam seperti yang ia katakan dari awal, dan rasanya hal itu lebih menyakitkan nantinya. Entahlah, intinya yang Misya inginkan adalah Keith menjauhi Alyssa, tapi sepertinya Keith tidak bisa.
"Aku tanya sekarang, siapa temen kamu itu?"
Kamu nggak perlu tahu. Ya, Misya mau menjawab begitu. Tapi, ia harus mengambil resiko akan kemarahan Keith. Keith kalau sudah marah agak mengerikan, ya walaupun seberapa marahnya ia, Keith tidak akan membentak atau berkata kasar pada Misya, apalagi main tangan, tentu tidak.
"Nanti aku kasih tau kalau kamu setuju sama apa yang aku bilang tadi."
"Aku nggak setuju," jawab Keith cepat. "Jadi, kamu ngelarang aku temenan sama Alyssa? Gitu Intinya?"
"Kalau aku bilang iya gimana?" Misya menantang. "Kamu boleh berteman sama siapa aja kok, aku nggak ngelarang, nggak ada batasan di hubungan kita, kan? Tapi kamu juga harus hargai perasaan pasangan kamu kalau kamu mau dihargai juga. Kamu juga harus paham gimana ngetreat yang bener antara temen sama pacar. Jangan sama rata. Kalau gitu ya bagus aku jadi temen kamu aja."
Telak. Keith cukup tersentak mendengar penuturan dari Misya. Baru kali ini rasanya ia mendengar Misya berkata seperti itu, karena selama ini Misya hanya memperingatkannya dengan pelan dan singkat dengan kalimat yang biasa juga. Tapi sekarang? Keith jadi agak khawatir Misya bosan dengannya.
"Udah ya nggak usah dibahas lagi. Kamu juga nggak perlu jawab. Cuma tunjukkan aja gimana nantinya. Intinya, kalau kamu ngelakuin ini, maka aku ngelakuin ini juga, itu ya itu. Kalau kayak gitu, jadi adil kan? Karena dari awal juga aku udah bilangin kamu berulang kali." Misya tersenyum kecil, tapi itu senyuman yang dipaksa.
Keith terdiam, sungguh, ia kehilangan kata-katanya, bingung harus bagaimana membalas perkataan Misya. Takut apa yang ia ucapkan nanti malah akan memicu hal yang tidak diinginkannya, maka dari itu ia memilih diam saja.
Tak lama kemudian, hanya puluhan detik, mobil Keith sampai tepat didepan rumah Misya.
"Makasih, ya." Misya hanya berkata begitu sembari membuka seatbeltnya. Membaw totebagnya lalu keluar dari sana.
Keith terus menatap Misya, sampai perempuan itu masuk ke dalam rumahnya. Keith menghela nafas panjang. Ia masih tidak tahu apa yang ia harus lakukan. Ya, ini karena Keith yang tidak pasti dengan perasaannya sendiri.
***