Perlahan Galaksi melepaskan tautan bibirnya dari bibir Vania. Dengan napas yang tersengal-sengal ia menempelkan keningnya pada kening wanita itu, lalu salah satu tangannya menangkup wajah istrinya dengan lembut. “Di mana lagi b******n itu menyentuhmu selain di bibir, hm?” tanyanya kepada istrinya. b******n yang dimaksud tentu saja adalah Tristan Rahardian. “Memangnya kamu mau apa?” tanya Vania dengan wajah polosnya. Dadanya bergerak naik turun tidak beraturan karena berusaha menyesuaikan ciuman yang diberikan Galaksi padanya tadi. “Tentu saja mau menghapus semua jejak b******n itu darimu,” tukas Galaksi dengan wajah yang tampak murka. Ia tidak ingin membiarkan ada setitik pun bekas yang tertinggal di pada tubuh wanitanya. Sebesar itulah rasa cemburu dan kebencian yang menghantui pikiran

